Pergeseran dari Aliran Ekonomi Klasik ke Neo-klasik

Situs Ekonomi - Pada tahun 1870-an ada pergeseran dalam aliran ekonomi, di mana aliran ekonomi yang baru ini menggantikan aliran ekonomi klasik. Aliran baru ini disebut dengan aliran neo-klasik.

Pendapat neo-klasik mengenai perkembangan ekonomi dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
  • Adanya akumulasi kapital
  • Perkembangan yang gradual
  • Perkembangan yang harmonis dan kumulatif
  • Optimis terhadap perkembangan ekonomi
  • Adanya aspek internasional

Aliran Neo-Klasik

1. Akumulasi Kapital

Menurut neo-klasik, tingkat bunga dan tingkat pendapatan menentukan tingginya tingkat tabungan. Pada suatu tingkat teknik tertentu, tingkat bunga juga menentukan tingginya tingkat investasi.

Selain pentingnya tingkat investasi, kemajuan teknologi juga merupakan salah satu faktor pendorong kenaikan pendapatan nasional. Neo-klasik melanjutkan bahwa yang dimaksud dengan kemajuan teknologi adalah penemuan-penemuan baru yang mengurangi penggunaan tenaga buruh atau relatif lebih bersifat "penghematan buruh" daripada "penghematan kapital" (Irawan, 2002: 38).

2. Perkembangan yang Gradual

Dengan terciptanya labor saving, tentunya produktivitas akan meningkat. Meningkatnya jumlah kuantitas yang juga diiringi dengan kualitas produk itu sendiri, maka terciptalah apa yang sebelumnya diinginkan, yaitu perekembangan ekonomi.

Mengenai hal ini, tokoh neo-klasik Alfred Marshall menganggap bahwa perekonomian sebagai suatu kehidupan organik yang tumbuh secara perlahan-lahan sebagai proses yang gradual. Marshall melanjutkan, baik investasi maupun penggunaan teknik-teknik baru juga merupakan proses yang gradual dan terus-menerus.

3. Perkembangan yang Harmonis dan Kumulatif

Setelah menjalani tahap yang gradual, perkembangan yang selanjutnya adalah perkembangan yang harmonis dan kumulatif. Maksud dari perkembangan yang harmonis dan kumulatif adalah bahwa proses ini meliputi berbagai faktor yang mana faktor-faktor itu tumbuh bersama-sama (Suparmoko, 2002: 40).

Marshall menggambarkan bahwa harmonisnya perkembangan karena adanya internal economies dan external economies. Internal economies timbul karena adanya kenaikan skala produksi yang tergantung pada sumber-sumber dan efesiensi dari pengusaha itu sendiri. Sedangkan external economies tergantung pada perkembangan industri yang pada umumnya menyediakan kebutuhan-kebutuhan antar industri.

Mengenai kumulatifnya perkembangan ekonomi, Allen Young mengatakan bahwa berkembangnya industri tergantung pada baiknya pembagian kerja di antara buruh. Pembagian kerja tergantung pada luasnya pasar, begitupun sebaliknya luasnya pasar tergantung pembagian kerja yang ada dan seterusnya bersifat kumulatif. Di samping itu, perkembangan memerlukan keahlian sebagaimana kemajuan pengetahuan merupakan sebab dari perkembangan industri.

4. Optimis terhadap Perkembangan Ekonomi

Kaum klasik mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan macet karena terbatasnya sumber daya alam. Di pihak lain, kaum neo-klasik berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengatasi terbatasnya pertumbuhan itu.

Selanjutnya, neo-klasik beranggapan pula bahwa selalu akan ada kemajuan-kemajuan pengetahuan teknik secara gradual dan kontinyu. Bagi neo-klasik, hal yang penting untuk pertumbuhan ekonomi ialah kemauan untuk menabung (Irawan, 2002: 42).

5. Aspek Internasional

Kaum neo-klasik sangat memperhatikan aspek internasional sebagai wadah terciptanya pasar yang luas. Dengan adanya pasar yang luas ini, maka produksi dapat dilaksanakan secara besar-besaran, spesialisasi dapat lebih mendalam dan produktivitas naik, penghasilan pun naik dan seterusnya.

Hal yang lebih menarik lagi adalah neo-klasik telah merumuskan lima jenis tingkat perkembangan ekonomi:
  1. Mula-mula negara itu meminjam kapital atau impor kapital. Negara itu merupakan negara peminjam yang masih muda dan disebut sebagai debitur yang belum mapan (immatured-debtor).
  2.  Kemudian, setelah negara peminjam tersebut memperoleh penghasilan dari kapital tadi, negera tersebut membayar dividen dan bunga atas pinjamannya.
  3. Tingkat selanjutnya, setelah penghasilan nasional negara itu meningkat terus, maka sebagian dari penghasilan digunakan untuk melunasi utang dan sebagian lagi dipinjamkan ke negara lain yang membutuhkan. Namun, kondisi dividen dan bunganya masih lebih besar dari dividen dan bunga yang diterima dari negara lain. Sejauh ini, negara tersebut telah mencapai tingkat debitur yang sudah mapan (matured-debtor) (Suparmoko, 2002: 43).
  4. Tingkat keempat, negara tersebut kemudian sudah dapat menerima dividen dan bunga yang lebih besar daripada yang dibayar, jadi ada surplus. Negara ini sekarang sudah pada tingkat kreditur yang belum mapan (immatured creditor).
  5. Pada akhirnya, negara tersebut hanya melulu menerima dividen dan bunga saja dari negara lain. Oleh karena itu, Tingkatan ini dinamakan dengan tingkat kreditur yang sudah mapan (matured creditor).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel