Berbagai Instrumen yang Dimiliki Bank Indonesia dalam Mengendalikan Moneter

Situs Ekonomi - Sebagaimana fungsinya Bank Sentral Indonesia, BI yang merupakan singkatan dari Bank Indonesia harus bertanggung jawab dalam mengendalikan jumlah uang yang beredar. Begitu kita memahami bagaimana cara kerja sistem perbankan bercadangan-sebagian, kita berada pada posisi yang baik untuk memahami bagaimana BI melaksanakan pekerjaan ini.

Karena bank menciptakan uang dalam sistem perbankan bercadangan-sebagian, maka Bank Sentral akan  mengendalikan jumlah uang yang beredar secara tidak langsung. Ketika BI hendak memutuskan untuk mengubah jumlah uang yang beredar, maka haruslah bagi BI untuk mempertimbangkan akibat-akibatnya.

Untuk menjalankan kebijakan moneter, Bank Indonesia telah mempersiapkan lima instrumen: kebijakan operasi pasar terbuka (open market operation), kebijakan diskonto (discount policy), kebijakan cadangan kas, kebijakan kredit ketat dan kebijakan dorongan moral (moral suasion).

Kebijakan Moneter

1. Operasi Pasar Terbuka

Seperti yang telah disinggung, BI menjalani operasi pasar terbuka ketika ingin melakukan pembelian atau penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Surat Berharga Negara (SBN). Sehubungan dengan SBI, sejauh ini Bank Indonesia masih menjadikan SBI sebagai instrumen utama operasi moneter. Namun demikian, Martowardojo mengatakan, "Pada tahun 2024, BI akan menggunakan SBN sepenuhnya sebagai aset atau dasar transaksi (underlying asset) operasi moneternya."

Untuk itu, apabila Bank Sentral hendak ingin meningkatkan jumlah uang beredar, maka pihak perbankan melakukan pembelian SBI dari pialang obligasinya. Begitu pula sebaliknya, apabila Bank Indonesia berkeinginan untuk mengurangi jumlah uang beredar dalam perekonomian, maka kebijakan yang harus diambil adalah menjual obligasinya.

2. Kebijakan Diskonto

Tidak jauh berbeda dari yang tadi, kebijakan diskonto ini merupakan suatu kebijakan di mana apabila jumlah uang beredar di tengah-tengah masyarakat telah melebihi kebutuhan atau terjadinya gejala inflasi. Ketika hal itu terjadi, maka BI harus mengambil keputusan tegas untuk menaikkan tingkat suku bunganya agar masyarakat terdorong untuk menabung. Dengan cara seperti itu, jumlah uang beredar nantinya akan berkurang sedikit demi sedikit.

3. Kebijakan Cadangan Kas

Kebijakan lainnya yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia ialah kebijakan cadangan kas. Kebijakan ini mencakup dua pokok permasalahan, yaitu inflasi dan deflasi.

Jika Bank Indonesia menginstruksikan bank umum untuk menaikkan sejumlah cadangan kasnya, maka jumlah uang beredar akan berkurang, dan ini baik untuk mengatasi inflasi. Dari sisi lain, jika BI menetapkan suatu keputusan untuk menurunkan cadangan kasnya, jumlah uang beredar di masyarakat akan bertambah banyak, sehingga deflasi pun dapat teratasi.

4. Kebijakan Kredit Ketat

Pengawasan terhadap kredit juga merupakan bagian dari kebijakan Bank Indonesia. Adapun jenis-jenis pengawasan terhadap kredit itu sendiri terdiri dari dua bagian: kebijakan kredit ketat dan kebijakan kredit longgar.

Kebijakan kredit ketat yang ditetapkan oleh Bank Sentral tersebut tidak lain tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Ketetapan tersebut diberikan oleh bank umum kepada pihak debitur berupa syarat 5C, yakni character, capability, collateral, capital dan condition of economy.

Ketentuan itu tidak diberlakukan untuk semua golongan masyarakt karena Bank Sentral juga berkeinginan agar jumlah uang beredar menjadi tidak terlalu minim. Maksudnya, Bank Sentral juga menaruh perhatian terhadap kestabilan jumlah uang beredar agar tidak terjadinya deflasi.

Dengan demikian, Bank Indonesia mencoba menerapkan kelonggaran kebijakan tersebut kepada jenis-jenis usaha tertentu. Dengan adanya kemudahan tersebut, pengusaha-pengusaha Indonesia dapat mengatasi kesulitan finansial.

5. Kebijakan Dorongan Moral

Poin ke lima ini merupakan sebagai pelengakap instrumen-instrumen yang telah dinyatakan di atas. Dari keempat instrumen sebelumnya dapat disimpulkan bahwa tujuan BI menjalani kebijakan-kebijakan moneter adalah agar terciptanya kestabilan jumlah uang beredar.

Dalam upayanya untuk menciptakan kestabilan tersebut, BI harus mengajak para petinggi bank-bank umum untuk melakukan obrolan secara langsung, baik mengenai laporan keuangan atau arahan-arahan lainnya, seperti menahan pinjaman tabungan atau melepaskan pinjaman yang ada. Dengan adanya pertemuan yang intens seperti ini, maka segala perintah dari atasan dapat segera ditindaklanjuti.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel