Cara Melindungi Tabungan Anda dari Inflasi

Situs Ekonomi - Seperti yang kita lihat bersama, perubahan-perubahan tingkat harga yang terjadi secara tidak terduga mendistribusikan kembali kekayaan di antara para debitor dan kreditor. Hal ini tidak lagi benar bila kontrak-kontrak utang ditulis secara riil, bukan nominal. Pada tahun 1997, Departemen Keuangan AS mulai mengeluarkan surat-surat obligasi dengan indeks pengembalian mengacu pada tingkat harga. Pada artikel berikut, yang ditulis beberapa bulan sebelum kebijakan ini diimplementasikan, dua ekonom terkemuka membahas kebaikan-kebaikan dari kebijakan ini.

Cara Melindungi Tabungan dari Inflasi

Para Pendekar Inflasi Jangka Panjang

Sekretaris Departemen Keuangan, Robert Rubin, mengumumkan bahwa pemerintah berencana mengeluarkan surat obligasi berindeks inflasi -- yaitu, surat obligasi yang suku bunga dan cara pembayarannya disesuaikan terhadap inflasi, yang menjamin daya beli mereka di masa depan.

Ini merupakan peristiwa bersejarah. Para ekonom telah menganjurkan agar dikeluarkannya surat obligasi seperti itu bertahun-tahun lalu setelah perekonomian melalui tahun-tahun yang membingungkan. Surat obligasi berindeks pertama kali digagaskan pada tahun 1822 oleh ekonom Joseph Lowe.

Pada tahun 1870-an, surat obligasi berindeks diprakarsai oleh ekonom Inggris William Stanley Jevons. Pada awal-awal abad ini, sang legendaris Irving Fisher juga mengajukan hal yang serupa.

Pada dekade terakhir ini, para ekonom yang berasal dari berbagai partai politik -- mulai dari Milton Friedman hingga James Tobin dan Alan  Blinder hingga Alan Greenspan -- juga mendukung pemikiran-pemikiran tersebut. Namun, karena sedikitnya tuntutan publik atas investasi seperti itu, pemerintah tidak pernah mengeluarkan surat obligasi berindeks.

Marilah berharap agar kurangnya minat masyarakat ini tidak berlanjut sehingga surat obligasi berindeks menjadi berharga. Keberhasilan surat obligasi berindeks bergantung pada apakah publik mau memahami dan membelinya.

Hingga saat ini, inflasi telah menyebabkan surat obligasi pemerintah menjadi investasi yang berisiko. Pada tahun 1966, ketika laju inflasi hanya 3 persen, bila seseorang membeli surat obligasi pemerintah yang memberikan bunga 5 persen, maka investasi orang tersebut bisa mencapai 180 persen setelah 30 tahun. Akan tetapi, setelah bertahun-tahun mengalami inflasi yang lebih tinggi dari yang diharapkan, investasi hanya menjadi 85 persen dari nilai aslinya.

Karena terjadi inflasi tingkat menengah selama beberapa tahun terakhir, banyak orang yang tidak lagi khawatir mengenai pengaruh inflasi terhadap tabungan mereka. Rasa puas diri seperti ini berbahaya: Bahkan laju inflasi yang rendah bisa menurunkan nilai tabungan dalam jangka panjang.

Bayangkan Anda pensiun hari ini, dengan uang pensiun yang diinvestasikan dalam bentuk surat berharga dengan bunga sebesar $10.000 tiap tahun dan mengabaikan inflasi. Bila tidak terjadi inflasi, maka setelah 20 tahun uang pensiun tersebut akan memiliki daya beli yang sama dengan daya beli yang saat ini.

Namun, bila terjadi inflasi dengan tingkat 3 persen tiap tahun, maka setelah 20 tahun pensiun Anda menjadi hanya sebesar $5.540 dalam hitungan uang saat ini. Inflasi dengan tingkat 5 persen selama 20 tahun akan mengurangi daya beli Anda menjadi $3.770, dan 10 persen akan mengurangi nilai investasi Anda menjadi hanya $1.390. Skenario mana yang mungkin terjadi? Tidak seorang pun tahu. Inflasi sangat bergantung pada orang-orang yang dipilih dan ditunjuk sebagai penjaga jumlah uang yang beredar dalam perekonomian kita.

Pada saat warga AS menikmati hidup yang lebih lama dan merencanakan beberapa dekade untuk pensiun, dampak inflasi yang merugikan haruslah menjadi perhatian serius. Hanya dengan alasan inilah pembuatan surat obligasi berindeks inflasi, dengan jaminan keselamatan pengembalian dalam jangka panjang, merupakan perkembangan yang disambut baik.

Tidak ada investasi lain yang menwarkan keselamatan jenis ini. Surat obligasi pemerintah konvensional dibayar dengan suku bunga yang telah ditetapkan; namun para investor haruslah lebih memerhatikan daya beli, bukan jumlah dolar yang mereka terima.

Pasar uang menetapkan pembayaran dolar yang disesuaikan dengan laju inflasi, karena suku bunga jangka pendek cenderung meningkat mengikuti inflasi. Namun, dengan banyaknya faktor lain yang juga memengaruhi suku bunga, pendapatan riil dari pasar uang tidak sepenuhnya aman.

Pasar stok menawarkan tingkat pengembalian rata-rata yang tinggi, namun bisa segera jatuh ataupun naik. Investor harus mengingat peristiwa "bear market" yang terjadi pada tahun 1970-an dan juga peristiwa "bull market" yang terjadi pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Surat obligasi pemerintah berindeks inflasi telah dikeluarkan di Inggris selama 15 tahun, di Kanada selama lima tahun, dan di banyak negara lainnya, termasuk Australia, Selandia Baru dan Swedia. Di Inggris, yang memiliki pasar surat obligasi berindeks terbesar di dunia, surat obligasi telah menawarkan suku bunga 3 hingga 4 persen lebih tinggi dari laju inflasi. Di AS, pengembalian jangka panjang jenis ini seharusnya membuat surat obligasi berindeks menjadi bagian penting dari simpanan dana pensiun.

Badan-badan keuangan diharapkan akan mendapat keuntungan dari surat obligasi berindeks ini dan juga menawarkan produk-produk baru yang inovatif. Dana surat obligasi berindeks mungkin akan muncul pertama kali, diikuti produk-produk investasi lainnya -- pembayaran bulanan akan disesuaikan terhadap inflasi.

Walaupun pemerintahan Clinton mungkin tidak mendapatkan keuntungan banyak dari keputusan untuk mengeluarkan surat obligasi berindeks inflasi, keputusan tersebut merupakan pencapaian yang akan dicatat oleh para sejarawan sebagai suatu peristiwa khusus yang positif.

Sumber: The New York Times, 18 Mei 1996, h. 19.

0 Response to "Cara Melindungi Tabungan Anda dari Inflasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel