3 Aspek Dualisme Ekonomi yang Menimpa Negara Sedang Berkembang

Situs Ekonomi - Sistem dualisme ini sangat melekat pada diri negara sedang berkembang sejak era penjajahan. Bahkan, sampai sekarang masih ada kesenjangan di kota-kota dan di desa-desa yang terdapat di negara sedang berkembang.

Di area perkotaan, perekonomiannya sudah bersifat industri dan uang digunakan secara luas. Sedangkan di pedesaan, perekonomiannya masih pada tingkat rendah (Irawan, 2002: 278).

Kesenjangan inilah yang menyulitkan negara sedang berkembang untuk mengejar ketertinggalan mereka dari negara maju. Untuk lebih lanjut, dualisme ini terbagi menjadi tiga aspek, yaitu perekonomian pasar, perekonomian subsisten dan daerah kantong asing.

Dualisme Ekonomi

1. Perekonomian Pasar (The Market Economy)

Kesenjangan ekonomi yang ada di antara kota dan desa dikarenakan daerah kota sangat diidentik dengan fasilitas prasarana umum yang memadai, seperti pelabuhan, bandara dan kantor-kantor pemerintahan. Penduduknya pun dihuni oleh para pedagang, pegawai guru dan lain sebagainya yang dikenal dengan pekerja kantor (white collar workers).

Hal inilah yang menghidupkan nuansa perekonomian di perkotaan. Banyaknya kegiatan transaksi jual beli di sana karena umumnya mereka berpenghasilan lebih tinggi daripada masyarakat di pedesaan. Maka dari itu tidak jarang kalau penduduk pedalaman lebih senang melakukan perdagangan di kota-kota.

2. Perekonomian Subsisten

Aspek ke dua dari dualisme ekonomi adalah ekonomi subsisten. Masih ada beberapa daerah terpencil yang hingga sekarang belum pernah mengadakan kontak dengan dunia luar, artinya belum mengadakan pertukaran dengan daerah luar, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua Barat (Suparmoko, 2002: 280).

Sudah tidak asing lagi tentunya bahwa masyarakat yang tinggal dipelosok umumnya tidak bisa membaca atau buta huruf. Kondisi seperti ini yang membuat mereka condong untuk menjalani kehidupan seadanya tanpa mengalami perubahan yang besar dari tahun ke tahun.

3. Daerah Kantong Asing (The Foreign Enclaves)

Terkadang, di daerah-daerah yang masih terbelakang terdapat perusahaan-perusahaan asing yang sudah menggunakan teknologi padat modal yang tinggi, misalnya: tambang minyak di Timur Tengah, Venezuela, Libia, Indonesia (Pakanbaru, Dumai dan freeport) dan lain-lainnya (Irawan, 2002: 281). Masyarakat yang berkesempatan untuk berkecimpung di dalam proyek-proyek asing tersebut memiliki keunggulan, meskipun pendapatan mereka sebenarnya tidak juga terlalu tinggi karena bentuk pembayaran upah buruh. Meskipun demikian, hal itu menjadikan mereka mengenal akan barang-barang baru dan cara mereka bekerja dalam industri itu sudah menggunakan tingkat teknik modern.

Oleh karena itu, dualisme ekonomi ini hakekatnya hampir dirasakan oleh semua negara yang ada di dunia. Namun, permasalahan yang dipersoalkan adalah seberapa besar kesenjangan itu terjadi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel