Efek Pembatasan Paksa

Situs Ekonomi - Ketika peningkatan pembelanjaan pemerintah memicu naiknya permintaan agregat dari berbagai barang dan jasa, pada waktu yang bersamaan hal tersebut juga meningkatkan suku bunga, sehingga pembelanjaan untuk investasi dan permintaan agregat berkurang. Penurunan permintaan agregat yang terjadi akibat ekspansi fiskal yang pada akhirnya meningkatkan suku bunga disebut dengan efek pembatasan paksa (crowding-out effect).

Untuk memahami mengapa efek pembatasan paksa tersebut muncul, mari kita perhatikan kembali apa yang akan terjadi pada pasar uang jika pemerintah Indonesia membeli Mass Rapid Transit (MRT) dari Sumitomo Corporation. Sebagaimana yang telah kita bahas, kenaikan permintaan ini meningkatkan pendapatan para pekerja dan pemilik perusahaan.

Begitu pendapatan meningkat, rumah tangga segera menyusun rencana untuk membeli lebih banyak barang dan jasa, sehingga mereka akan memilih untuk menyimpan lebih banyak kekayaannya dalam bentuk yang lebih likuid. Oleh karena itu, kenaikan pendapatan yang bersumber dari ekspansi fiskal juga meningkatkan permintaan uang (Mankiw, 2006: 342).

Efek Pembatasan Paksa
Efek Pembatasan Paksa

Dampak dari naiknya permintaan uang diperlihatkan pada panel (a). Karena Bank Indonesia (BI) tidak mengubah jumlah uang yang beredar, maka kurva penawaran tetap berbentuk vertikal. Ketika kenaikan pendapatan menggeser kurva permintaan uang ke kanan, dari MD1 ke MD2, maka suku bunga harus pula meningkat dari r1 ke r2 demi menjaga keseimbangan penawaran dan permintaan.

Kenaikan suku bunga tersebut kemudian akan mengurangi jumlah permintaan barang dan jasa. Hal itu terjadi karena peminjaman menjadi lebih mahal, sehingga permintaan rumah baru dan barang-barang investasi untuk keperluan bisnis akan turun (Mankiw, 2006: 343).

Jadi, pada saat kenaikan pembelanjaan pemerintah meningkatkan permintaan atas berbagai barang dan jasa, dalam waktu yang bersamaan hal tersebut juga dapat membatasi investasi secara paksa. Efek pembatasan paksa ini menggambarkan kepada kita bagaimana dampak yang timbul dari pembelanjaan pemerintah terhadap permintaan agregat, seperti yang ditunjukkan pada panel (b). Pada awalnya kenaikan pembelanjaan pemerintah ini menggeser kurva permintaan agregat dari AD1 ke AD2, tetapi begitu efek pembatasan paksa muncul, kurva permintaan agregat tersebut terdorong kembali ke AD3. Jelasnya: Ketika pemerintah menambah pembelanjaannya sebesar Rp 1,4 triliun (nilai kesepakatan kontrak MRT antara Indonesia dan Jepang), permintaan agregat barang dan jasa bisa bertambah lebih dari Rp 1,4 triliun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel