Hubungan-hubungan Sosial yang Ada di Antara Para Wiraswasta

Situs Ekonomi - Dalam hal ini ada tiga aspek atau gatra dari pola hubungan sosial yang banyak terdapat di negara-negara maju: gatra pengenalan (cognitive aspect), gatra keanggotaan (membership aspect) dan gatra batasan substantif (substantive definition aspect) (Irawan, 2002: 208).

Hubungan Sosial Wiraswasta

1. Gatra Pengenalan (Cognitive Aspect)

Gatra ini lebih mengedepankan rasionalitas suatu masyarakat, apakah masyarakat setempat umumnya rasional atau tidak dalam penggunaan kapital, tenaga kerja dan sumber-sumber alam yang ada. Sekelompok masyarakat dapat dikatakan rasional apabila dalam pengambilan keputusannya berdasarkan pada standar ilmiah kritis (critical scientific standards).

Misalnya, pabrik baja dibangun berdasarkan atas alasan-alasan nasional, seperti langkanya sumber-sumber ekonomi yang ada di tempat tersebut. Maka, alasan-alasan seperti ini cukup untuk dikatakan rasional, meskipun tidak ekonomis.

2. Gatra Keanggotaan (Membership Aspect)

Sementara dalam poin ini mencakup dua jenis gatra, yaitu bersifat universal dan khusus. Gatra yang bersifat universal, mereka lebih mengutamakan kualitas pekerja, jadi mereka tidak peduli siapa yang mengerjakannya dan siapa orang itu. Sedangkan gatra yang bersifat khusus, mereka memilih pekerja berdasarkan koneksi keluarga atau politik, terlepas dari apakah seseorang tersebut dapat bekerja atau tidak.

3. Gatra Batasan Substantif (Substantive Definition Aspect)

Dalam gatra batasan substantif juga demikian, di mana gatra ini terdapat dua golongan sebagaimana halnya gatra keanggotaan. Namun, gatra yang bersifat khusus dalam keterkaitannya dengan gatra batasan substantif ialah apabila hak dan kewajiban seseorang dibatasi dengan kontrak-kontrak kerja yang telah disepakati.

Sementara yang universal, di mana mereka memiliki hubungan yang luas. Biasanya jenis gatra ini memiliki anggota-anggota yang kaya, sehingga mereka lebih suka membantu anggota-anggota lainnya yang kurang mampu.

Tanpa disadari, perilaku semacam ini meskipun terkesan baik akan tetapi berdampak pada kurangnya inovasi. Menurut Hirchman, "Hubungan-hubungan yang seperti inilah yang menjadikan sebab terhalangnya motif-motif untuk inovasi di negara-negara yang sedang berkembang." 

Meskipun demikian, halangan-halangan seperti ini dapat diatasi secara perlahan-lahan. Oleh karenanya, pemerintah memiliki peranan yang amat besar guna mendorong inovasi-inovasi yang akan menciptakan motif untuk menentukan tindakan selanjutnya, baik dari sektor pemerintah maupun sektor swasta (Suparmoko, 2002: 2010).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel