Industrialisasi dan Pembangunan Berkelanjutan

Situs Ekonomi - Salim mengatakan (1991: 3), "Secara umum, pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang tidak akan mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk melaksanakan pembangunan seperti yang dilaksanakan oleh generasi sekarang." Sebagai contoh, di generasi sekarang, pembangunan yang dilakukan berporos pada sektor infrastruktur. Kemudian, generasi setelahnya tidak lagi membangun proyek infrastruktur melainkan membangun konstruksi bangunan.

Memang perhatian terhadap pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diberikan kepada negara sedang berkembang saja, tetapi juga diberikan kepada negara maju. Namun demikian, tekanan yang diberikan sangat berbeda (Irawan, 2002: 443).

Industrialisasi dan Pembangunan

Bagi negara maju, mereka lebih memperhatikan aspek lingkungan dan ekonomi untuk pembangunan yang berkelanjutan. Sedangkan negara sedang berkembang banyak aspek yang harus dikedepankan, seperti aspek pemenuhan kebutuhan dasar dan pencapaian pertumbuhan mengingat perekonomian di negara tersebut masih sangat tertinggal dari negara maju.

Lebih jauh lagi, pembangunan berkelanjutan baru akan tercapai bila lima tiang pembangunan berkelanjutan dapat terpelihara dengan baik. Kelima tiang tersebut adalah: keberlanjutan lingkungan, ekonomi, politik, sosial dan budaya (Pearce, 1991: 16-18).

Kelima tiang tersebut hampir selalu berhubungan dengan dampak eksternalitas pembangunan industri di suatu negara atau suatu wilayah. Berdasarkan pengamatan Suparmoko (2002, 444), adanya industri pengilangan minyak, pabrik semen dan juga rencana pembotolan gas alam di Cilacap diharapkan banyak tenaga kerja yang terserap. Penyerapan tenaga kerja memang terjadi di sana, tapi sayangnya lebih banyak tenaga kerja yang berasal dari luar Cilacap yang mendapatkan pekerjaan.

Sepintas memang sangat disedihkan, hal itu tidak akan terjadi apabila tenaga kerja yang ada di Cilacap memiliki keterampilan. Lemahnya tingkat keterampilan dan pendidikan yang dimiliki oleh setiap individu tenaga kerja merupakan salah satu indikator ekonomi di suatu negara.

Di samping itu, tidak sedikit pula penduduk setempat yang merasakan pencemaran udara dan air akibat hasil pengolahan industri-industri yang ada. Mengenai situasi di Cilacap pada waktu itu, Suparmoko (1989) menyimpulkan, "sebenarnya manfaat eksternal lebih banyak dinikmati oleh orang-orang di luar daerah industri yaitu berupa tersedianya barang dan jasa yang mungkin lebih murah harganya."

Selanjutnya yang perlu dicatat adalah banyaknya pembebasan tanah sebagai lahan industri. Pembebasan tanah ini sesungguhnya sangat menguntungkan pemilik tanah karena harganya naik.

Lagi-lagi sayang, pembebasan tanah ini menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat karena adanya ketidakpuasan. Keresahan ini akan mengganggu salah satu tiang pembangunan berkelanjutan.

Irawan (2002: 445) mengomentari hal ini, "dengan adanya industrialisasi, sesungguhnya tidak akan ada masalah bagi generasi yang akan datang asalkan pengertian pembangunan berkelanjutan dalam arti luas benar-benar dapat direalisasikan." Namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah benar dengan semakin terkurasnya sumber daya alam dapat mengembangkan teknologi, sehingga dapat mengisi kekosongan sumber daya alam itu dengan sumberdaya yang lain?

Hal ini justru yang dikhwatirkan oleh Thomas Robert Malthus yang hidup pada Abad ke-17, di mana dunia tidak akan mampu memberi makan penduduknya secara deret ukur. Ini akan terjawab setelah adanya kemajuan teknologi, transportasi dan perdagangan. Maka dari itu, untuk menjamin adanya pembangunan berkelanjutan harus dicari titik temu antara kebijakan pembangunan dan kebijakan lingkungan, sehingga terjadilah pembangunan yang benar-benar menjamin peningkatan kesejahteraan manusia.

0 Response to "Industrialisasi dan Pembangunan Berkelanjutan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel