Ketidakstabilan Politik dan Pelarian Modal

Situs Ekonomi - Pada tahun 1994 terjadi ketidakstabilan politik di Meksiko, termasuk terbunuhnya pemimpin politik terkemuka mereka. Peristiwa tersebut menghadirkan kegugupan di pasar keuangan dunia.

Setelahnya, timbulah berbagai persepsi bahwa kini Meksiko tak lagi stabil dibandingkan biasanya. Dengan demikian, mereka memutuskan untuk menarik sebagian aset mereka keluar dari Meksiko dan memindahkannya ke Amerika Serikat (AS) dan "tempat berlindung yang aman" lainnya.

Menurut Mankiw (2006: 273), Pergerakan dana yang besar dan tiba-tiba keluar dari suatu negara disebut sebagai pelarian modal (capital flight). Untuk melihat implikasi pelarian modal terhadap perekonomian Meksiko, kita akan menjalankan tiga langkah untuk menganalisis perubahan keseimbangan.

Ketidakstabilan Politik dan Pelarian Modal
Dampak-dampak Pelarian Modal

Pertama, simak kurva mana dalam model ini yang dipengaruhi oleh pelarian modal. Ketika investor di seluruh dunia mengamati masalah politik di Meksiko, mereka memutuskan untuk menjual beberapa aset mereka di Meksiko dan menggunakan hasil penjualan ini untuk membeli aset di AS.

Tindakan ini meningkatkan arus keluar modal neto Meksiko sehingga memengaruhi kedua pasar yang ada dalam model tersebut. Pengaruh paling jelas terlihat pada kurva arus keluar modal neto (NCO), dan hal ini nantinya memengaruhi penawaran mata uang peso di pasar pertukaran valuta asing. Selain itu, karena permintaan dana pinjaman berasal dari investasi dalam negeri dan arus keluar modal neto, pelarian modal memengaruhi kurva permintaan pada pasar dana pinjaman.

Sekarang, perhatikanlah ke arah mana kurva ini bergeser. Ketika arus keluar modal neto meningkat, maka permintaan dana pinjaman juga meningkat. Seperti yang ditunjukkan pada panel (a), di mana kurva permintaan dana pinjaman bergeser ke kanan, tepatnya dari D1 ke D2. Karena arus keluar modal neto lebih tinggi daripada suku bunga berapa pun, kurva arus keluar modal neto juga bergeser ke arah kanan, dari NCO1 ke NCO2, seperti yang tertera pada panel (b).

Sejauh ini masih belum terlihat jelas terkait dampak-dampak pelarian modal. Untuk itu kita perlu membandingkan keseimbangan yang lama dengan yang baru.

Panel (a) menunjukkan bahwa permintaan dana pinjaman yang meningkat menyebabkan suku bunga di Meksiko juga meningkat, yaitu dari r1 ke r2. Semenatara pada panel (b), kita juga menemukan bahwa arus keluar modal neto Meksiko meningkat.

Meskipun peningkatan suku bunga membuat investasi aset di Meksiko lebih menarik, hal ini hanya mengimpaskan sebagian dampak pelarian modal terhadap arus keluar modal neto. Selanjutnya, panel (c) juga memperlihatkan kepada kita bahwa naiknya arus keluar modal neto menambah jumlah penawaran mata uang peso di pasar pertukaran valuta asing, dari S1 ke S2.

Jadi, ketika orang-orang berusaha membuang aset mereka di Meksiko, maka terdapat penawaran mata uang peso dalam jumlah besar, untuk dikonversi ke mata uang dolar. Peningkatan penawaran ini menyebabkan peso mengalamai depresiasi dari E1 ke E2.

Oleh sebab itu, pelarian modal dari Meksiko dapat meningkatkan suku bunga Meksiko dan mengurangi nilai mata uang peso Meksiko di pasar pertukaran valuta asing. Inilah yang teramati pada tahun 1994. Dari bulan November 1994 sampai dengan Maret 1995, suku bunga obligasi jangka pendek pemerintah Meksiko meningkat dari 14 persen menjadi 70 persen, dan peso pun mengalami depresiasi dari US$ 29 sen menjadi US$ 15 sen per peso.

Perubahan harga yang diakibatkan oleh pelarian modal ini memengaruhi beberapa besaran ekonomi makro yang penting. Depresiasi mata uang membuat ekspor menjadi lebih murah dan impor lebih mahal.

Hal ini mendorong neraca perdagangan ke arah surplus. Pada saat yang bersamaan, peningkatan suku bunga mengurangi investasi dalam negeri, sehingga memperlambat akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi (Mankiw, 2006: 274).

Walaupun pelarian modal memberikan dampak yang paling besar pada negara yang modalnya dilarikan keluar, pelarian modal juga memengaruhi negara lain. Ketika modal mengalir keluar, misalnya dari Meksiko masuk ke AS, hal tersebut memiliki pengaruh yang berlawanan terhadap perekonomian AS. Khususnya, peningkatan arus keluar modal neto Meksiko bertepatan dengan penurunan arus keluar modal neto AS.

Saat peso mengalami depresiasi, suku bunga Meksiko meningkat, sedangkan dolar mengalami apreasiasi, dan kemudian suku bunga AS menurun. Bagaimanapun juga, dampaknya pada perekonomian AS tergolong kecil, sebab perekonomian AS jauh lebih besar dibandingkan dengan perekonomian Meksiko.

Peristiwa yang dialami Meksiko ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada semua perekonomian di seluruh dunia, dan memang bakal terjadi berjalannya waktu. Pada tahun 1997, dunia belajar bahwa beberapa sistem perbankan di perekonomian Asia -- seperti Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia -- berada pada atau mendekati titik kepailitan.

Sama halnya seperti Meksiko, berita ini mendorong terjadinya pelarian modal dari negara-negara yang telah disebutkan tadi. Begitu pula dengan Rusia, pada tahun 1998, pemerintah Rusia gagal membayar utangnya dan mendorong investor internasional untuk mengambil uang mereka (berapa pun besarnya yang bisa diambil) dan lari.

Serangkaian peristiwa serupa, namun lebih rumit, terjadi di Argentina pada tahun 2002. Pada setiap kasus pelarian modal ini, hasilnya dapat dikatakan sama dengan yang diperkirakan oleh model kita: suku bunga meningkat dan nilai mata uang menurun.

Setelah panjang lebar berbicara tentang pelarian modal, kemudian yang menjadi pertanyaannya: Apakah pelarian modal dapat terjadi di AS? Kita tahu bahwa perekonomian AS sejak lama terlihat sebagai perekonomian yang aman untuk investasi. Kendati demikian, AS juga pernah mengalami beberapa kali pelarian modal akibat dari ketidakstabilan politik.

Pada tahun 1995, surat kabar The New York Times melaporkan bahwa juru bicara SPR Newt Gingrich sempat mengancam akan membuat AS gagal membayar utang untuk yang pertama kalinya dalam sejarah bangsa. Tujuannya adalah guna memaksa pemerintahan Clinton agar dapat menyeimbangkan anggarannya yang sesuai dengan keinginan Partai Republik.

Secara akal sehat, kegagalan semacam ini mustahil terjadi. Namun, pengaruh dari berita tersebut menimbulkan kegaduhan di kalangan investor internasional pada waktu itu.

Sepanjang hari itu, suku bunga surat obligasi berjangka 30 tahun terbitan pemerintah AS meningkat dari 6,46 persen menjadi 6,55 persen, dan nilai tukar turun dari 102,7 menjadi 99,0 yen per dolar AS. Jadi, bahkan perekonomian AS yang tergolong stabil pun berpotensi dan rentan terhadap dampak-dampak pelarian modal.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel