Kurva Permintaan Agregat

Permintaan Agregat
Kurva Permintaan Agregat

Situs Ekonomi - Pada dasarnya, kurva permintaan agregat melambangkan jumlah dari seluruh barang dan jasa yang diminta dalam suatu perekonomian pada setiap tingkat harga. Seperti yang digambarkan pada figur di atas, yaitu kurva agregat miring ke bawah. Hal ini mengimplikasikan bahwa jika hal lain tetap sama, penurunan tingkat harga keseluruhan dalam perekonomian (misalkan dari P1 ke P2) cenderung meningkatkan jumlah barang dan jasa yang diminta (dari Y1 ke Y2).

Mengapa Kurva Permintaan Agregat Miring ke Bawah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengingat bahwa PDB (Y) merupakan jumlah dari konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah (G) dan ekspor neto (NX):

Y = C + I + G + NX.

Masing-masing dari keempat komponen tersebut memberikan kontribusinya bagi permintaan agregat atas barang dan jasa. Saat ini, kita mengasumsikan bahwa belanja pemerintah adalah tetap karena berdasarkan kebijakan.

Sedangkan tiga komponen lainnya (konsumsi, investasi dan ekspor neto) tergantung pada kondisi-kondisi perekonomian, terutama pada tingkat harga. Oleh karena itu, untuk memahami mengapa kurva permintaan agregat miring ke bawah, maka kita harus mengkaji lagi bagaimana tingkat harga dapat memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta untuk konsumsi, investasi dan ekspor neto (Mankiw, 2006: 293).

Tingkat Harga dan Konsumsi: Efek Kekayaan

Kita dapat menjelaskannya melalui sebuah permisalan, di mana  nilai nominal uang yang ada di dalam dompet dan rekening bank Anda adalah tetap. Sejatinya, nilai riil yang Anda miliki tersebut tidaklah tetap.

Seandainya harga-harga turun, uang tersebut menjadi lebih bernilai karena dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa dengan jumlah yang lebih banyak. Jadi, penurunan tingkat harga membuat konsumen merasa lebih kaya, sehingga mereka terdorong untuk lebih banyak membelanjakan uangnya. Peningkatan pengeluaran konsumen berarti juga peningkatan jumlah barang dan jasa yang diminta.

Tingkat Harga dan Investasi: Efek Suku Bunga

Sejauh ini kita telah memahami bahwa tingkat harga merupakan salah satu penentu jumlah uang yang dibutuhkan. Semakin rendah tingkat harga, maka semakin sedikit jumlah uang yang perlu dipegang oleh rumah tangga guna membeli barang dan jasa yang mereka inginkan.

Ketika tingkat harga turun, kebutuhan uang pun berkurang. Dengan demikian, rumah tangga akan berupaya untuk memanfaatkan kelebihan uang yang mereka miliki dengan cara meminjamkan sebagian darinya.

Sebagai contoh, suatu rumah tangga mungkin menggunakan kelebihan uangnya untuk membeli surat berharga yang menawarkan pembayaran dengan suku bunga tertentu. Kemungkinan lainnya, rumah tangga tersebut juga dapat mendepositokan kelebihan uangnya dalam tabungan yang menghasilkan bunga dan bank akan menggunakan dana tersebut untuk memberi lebih banyak pinjaman.

Karena rumah tangga ingin mengonversikan sebagian uangnya menjadi aset-aset yang menghasilkan bunga, maka mereka ikut menurunkan suku bunga. Dengan suku bunga yang lebih rendah, maka akan mendorong diterapkannya peminjaman oleh perusahaan-perusahaan yang kemudian menginvestasikannya dalam bentuk pabrik baru dan peralatan.

Di samping itu, rumah tangga juga melakukan investasi dalam bentuk tempat tinggal yang baru. Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Mankiw (2006: 294), "Tingkat harga yang lebih rendah akan menurunkan tingkat suku bunga. Kemudian, keinginan untuk membelanjakan barang-barang kebutuhan investasi menjadi terdorong. Secara tidak langsung, hal ini dapat meningkatkan jumlah barang dan jasa yang diminta."

Tingkat Harga dan Ekspor Neto: Efek Nilai Tukar

Masih dalam koridor pembahasan yang sama, misalkan pemerintah Indonesia memberlakukan tingkat harga yang lebih rendah. Hal ini mengindikasikan suatu korelasi, di mana nantinya suku bunga di negara tersebut akan menurun. Hasilnya, beberapa investor Indonesia akan mencari keuntungan lebih dengan cara menanamkan modal mereka di luar negeri.

Sebagai contoh, ketika suku bunga surat obligasi pemerintah Indonesia jatuh, badan reksa dana mungkin akan menjual surat-surat berharga tersebut untuk membeli surat-surat obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Jerman. Pada saat reksa dana tersebut berupaya memindahkan aset-asetnya ke luar negeri, usaha tersebut meningkatkan jumlah mata uang rupiah yang beredar di pasar valuta asing.

Peningkatan jumlah mata uang rupiah yang beredar menyebabkan rupiah terdepresiasi relatif terhadap mata uang lainnya. Akibat depresiasi ini, barang-barang buatan luar negeri menjadi lebih mahal dibandingkan barang-barang dalam negeri.

Perubahan nilai tukar riil -- harga relatif barang-barang dalam dan luar negeri -- meningkatkan ekspor barang dan jasa serta menurunkan impor barang dan jasa. Ekspor neto (ekspor dikurangi impor) juga meningkat. Dengan demikan, jatuhnya tingkat harga di Indonesia menyebabkan jatuhnya suku bunga di negara tersebut, terdepresiasinya nilai tukar riil yang kemudian mendorong ekspor neto Indonesia dan meningkatkan jumlah permintaan barang dan jasa.

0 Response to "Kurva Permintaan Agregat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel