Masalah-masalah dalam Perhitungan Biaya Hidup

Situs Ekonomi - Tujuan penggunaan indeks harga konsumen (IHK) adalah mengukur perubahan-perubahan biaya hidup. Dengan kata lain, indeks harga konsumen membantu kita mengukur seberapa banyak pendapatan yang harus bertambah agar dapat mempertahankan standar hidup.

Namun demikian, indeks harga konsumen bukanlah alat ukur yang sempurna untuk menghitung biaya hidup. Secara umum, ada tiga masalah pokok yang sulit diatasi (Mankiw, 2006: 33).

Perhitungan Biaya Hidup

1. Bias Substitusi

Masalah pertama disebut bias substitusi. Bias substitusi ini dapat digambarkan dengan keadaan di mana konsumen akan mengganti barang-barang kebutuhannya dengan barang-barang lain yang harganya lebih murah.

Apabila IHK diasumsikan dengan sekeranjang barang dan jasa tertentu, maka indeks harga konsumen telah mengabaikan adanya kemungkinan substitusi konsumsi. Akibatnya, indeks ini cenderung menetapkan kenaikan biaya hidup yang terlalu tinggi dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Misalnya, dalam suatu tahun harga apel lebih murah daripada buah pir, sehingga konsumen lebih banyak membeli buah apel daripada buah pir. Ketika ekonom statistika menetapkan isi keranjang barang dan jasa, buah apel lebih banyak dimasukkan daripada buah pir.

Andaikan pada tahun berikutnya harga buah pir lebih murah dari apel, maka konsumen akan merespon perubahan harga tersebut dengan mengonsumsi lebih banyak pir daripada apel. Namun demikian, pakar statistika mengasumsikan bahwa konsumen tetap membeli apel yang harganya sedang mahal dengan jumlah yang sama seperti tahun sebelumnya. Oleh karena itulah indeks akan menghitung peningkatan biaya hidup yang lebih besar.

2. Munculnya Barang-barang yang Baru

Masalah ke dua yang berhubungan dengan indeks harga konsumen adalah munculnya barang-barang yang baru. Menurut Mankiw (2006: 34), ketika terdapat barang baru di pasar, konsumen lebih banyak pilihan.

Selanjutnya, jumlah pilihan yang semakin banyak akan meningkatkan nilai uang, sehingga konsumen membutuhkan lebih sedikit uang untuk mempertahankan standar hidupnya. Maka dari itu, indeks ini tidak dapat mencerminkan perubahan dalam daya beli uang karena IHK dihitung berdasarkan keranjang barang dan jasa yang tetap.

Contohnya, ketika media online diperkenalkan pada pasar, seperti kompas.com, konsumen dapat membacanya di sela-sela waktu kosong di mana pun mereka berada. Dibandingkan dengan media cetak, seperti koran, pilihan ini memberikan kenyamanan yang lebih besar dan biaya yang lebih murah.

Sebuah indeks biaya hidup yang sempurna seharusnya menunjukkan bahwa pemasaran media online mengakibatkan penurunan biaya hidup. Bagaimanapun juga, indeks harga konsumen tidak menunjukkan penurunan sebagai dampak dari dipasarkannya media online.

Akhirnya, ekonom statistika merevisi isi keranjang barang dan jasa dengan memasukkan media online ke dalamnya, sehingga indeks dapat memantau perubahan harganya. Namun, penurunan biaya hidup yang semestinya terjadi karena pemasaran media online tidak pernah muncul dalam indeks.

3. Perubahan Kualitas

Masalah ke tiga adalah perubahan kualitas yang tidak terukur. Jika kualitas suatu barang memburuk dari tahun ke tahun, nilai uang akan jatuh sekalipun harga barangnya tetap. Demikian pula apabila kualitas barang tersebut meningkat dari tahun ke tahun, nilai uang akan meningkat (Mankiw, 2006: 35).

Pakar statistika berusaha untuk memperhitungkan perubahan kualitas ini. Jika kualitas suatu barang dalam keranjang berubah -- misalnya sebuah mobil jenis baru memiliki tenaga yang lebih besar atau penggunaan bahan bakarnya lebih hemat -- Ekonom statistika berusaha menyesuaikan harga barang tersebut dengan perubahan kualitasnya.

Pada pokoknya, ekonom statistika mencoba menghitung harga sekeranjang barang dan jasa yang kualitasnya tetap. Walaupun demikian, perubahan kualitas tetap merupakan suatu masalah karena kualitas sangat sulit diukur.

Masih banyak perdebatan yang terjadi di antara para ekonom mengenai seberapa sulit masalah pengukuran ini dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Berdasarkan penelitian tahun 1990-an, IHK dapat menimbulkan inflasi sekitar satu persen per tahun dan ini dianggap terlalu besar pada saat itu dari kenyataan sebenarnya.

Untuk menanggapi hal itu, pakar statistika melakukan perubahan teknis guna memperbaiki indeks harga konsumen. Sejak itu, para ekonom percaya bahwa ketidakakuratan tersebut sekarang kira-kira hanya setengahnya.

Hal ini sangatlah penting karena banyak program pemerintah yang menggunakan IHK untuk menyesuaikan perubahan tingkat harga keseluruhan. Misalnya para peroleh tunjangan sosial yang mengalami peningkatan tahunan yang besarnya tergantung pada indeks harga konsumen. Beberapa ekonom telah mengusulkan untuk mengubah program-program ini dalam rangka mengatasi masalah pengukuran, seperti dengan mengurangi besarnya peningkatan jumlah tunjangan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel