Menurunnya Perolehan Keuntungan dan Efek Pengejaran

Situs Ekonomi - Anggaplah pemerintah menjalankan kebijakan politik untuk meningkatkan penghematan negaranya. Dalam artian bahwa PDB-nya (produk domestik bruto) dialokasikan lebih banyak untuk disimpan dan bukan dipakai untuk konsumsi.

Dengan penghematan yang dilakukan oleh negara tersebut, maka semakin sedikit sumber daya yang diperlukan untuk membuat barang konsumsi, dan semakin banyak sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan modal. Akibatnya, persediaan modal akan meningkat, sehingga meningkatnya produktivitas dan laju pertumbuhan PDB (Mankiw, 2006: 63).

Mengenai sejauh mana tingkat pertumbuhan PDB itu, maka perlu diketahui yang namanya proses produksi. Menurut pandangan tradisional, proses produksi adalah modal dipengaruhi oleh penurunan perolehan keuntungan (diminishing returns).

Jadi, seiring dengan semakin besarnya akumulasi modal, jumlah tambahan hasil produksi dari tambahan input satu unit modal menjadi semakin kecil. Dengan kata lain, ketika para pekerja telah memiliki modal yang cukup besar untuk melakukan proses produksi barang dan jasa, tambahan modal hanya akan menyebabkan produktivitas mengalami sedikit kenaikan.

Oleh karena itu, meningkatnya penghematan hanya menyebabkan kenaikan laju pertumbuhan dalam waktu tertentu. Dengan penghematan yang tinggi akan memperbesar jumlah modal yang terakumulasi.

Dengan demikan, manfaat dari tambahan modal semakin lama akan semakin berkurang, sehingga pertumbuhan akan melambat. Untuk jangka panjang, tingkat penghematan yang tinggi akan menghasilkan tingkat produktivitas dan pendapatan yang semakin tinggi, namun tidak akan meningkatkan laju pertumbuhan variabel-variabel tersebut. Menurut penelitian data internasional mengenai pertumbuhan ekonomi, meningkatnya laju penghematan akan dapat mengakibatkan naiknya tingkat pertumbuhan ekonomi untuk jangka waktu beberapa dekade.

Mankiw (2006: 64) menjelaskan bahwa menurunnya perolehan keuntungan dari modal memiliki implikasi penting yang lain, dengan anggapan variabel lain tetap. Secara global, negara yang awalnya miskin lebih cepat pertumbuhan ekonominya dibandingkan dengan negara kaya.

Keadaan yang seperti ini disebut dengan efek pengejaran (catch-up effect). Kenapa dikatakan demikian? karena negara-negara tersebut berusaha bangkit dari keterpurukan ekonominya.

Di negara-negara miskin, para pekerjanya bahkan kekurangan berbagai peralatan yang paling mendasar, sehingga produktivitasnya rendah. Adanya investasi modal tentunya akan menaikkan produktivitas pekerja ini.

Sebaliknya, para pekerja di negara maju mempunyai sejumlah modal yang banyak, hal ini menjelaskan tingginya produktivitas mereka. Namun, dengan jumlah modal yang sudah banyak, tambahan modal hanya akan mengakibatkan produktivitas mengalami sedikit peningkatan. Penelitian data internasional mengonfirmasikan efek pengejaran ini.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Tercepat
Laju Pertumbuhan Ekonomi Tercepat
Sumber: Trading Ekonomi

Agar lebih mudah untuk memahaminya, mari kita simak bersama bagaimana laju pertumbuhan itu terjadi. Kelima negara tersebut merupakan negara miskin atau dengan bahasa lembutnya negara sedang berkembang (sebagian ekonom ada yang membedakan antara negara miskin dan negara sedang berkembang).

Laju pertumbuhan ekonomi mereka jauh lebih cepat daripada negara maju. Pada tahun 2017, negara yang memiliki laju tercepat ialah Vietnam, Bangladesh dan seterusnya.

Apabila kita mengambil Negara Vietnam sebagai perwakilan negara dengan laju pertumbuhan tercepat, kemudian disandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang berpredikat sebagai PDB terbesar di dunia, maka apa yang akan tergambarkan. Cepatnya pertumbuhan ekonomi Vietnam saat ini disebabkan oleh besarnya akumulasi kapital di masa lampau. Pada masa itu, ekonomi Vietnam masih sangat langka faktor-faktor produksinya, sehingga banyak sektor yang perlu diperbaiki melalui akumulasi kapital.

Tentunya sangat berbeda dengan AS, perekonomian mereka sangat stabil dari dulu hingga sekarang, sehingga tambahan modal tidak memberikan banyak perubahan. Hampir setiap faktor produksi seperti mesin, gedung dan tenaga ahli sudah berkumpul di sana. Oleh sebab itu, laju pertumbuhan AS yang hanya sebesar tiga persen tidaklah sebanding dengan Vietnam 7,31 persen.

Namun, apakah Vietnam lebih layak untuk menyandang status sebagai raksasa ekonomi dunia? Jawabannya terdapat pada nilai PDB masing-masing negara. PDB Vietnam sebesar US$ 224 miliar dan AS US$ 19.391 miliar. Maka dari itu, besarnya laju pertumbuhan belum tentu PDB-nya lebih besar pula.

Contoh efek pengejaran lainnya ialah perbandingan antara Modric dan Ronaldo sebagai dua pemain bola terpopuler baru-baru ini. Ronaldo yang kini usianya 34 tahun lebih dulu terkenal dibandingkan dengan Modric yang telah menginjak usia 33 tahun.

Ketika Ronaldo meraih trofi prestigious (Ballon D'or) pertamanya sebagai pesepakbola terbaik dunia pada tahun 2008, Modric masih belum dikenal oleh kalangan luas. Setelah Ronaldo mengoleksi gelar tersebut sebanyak lima kali, tahun berikutnya (2018) giliran Modric yang merebutnya dari tangan Ronaldo. Namun, apakah Modric layak disebut sebagai pemain bola terbaik selama 10 tahun terakhir? dari segi jumlah koleksi, pastinya Ronaldo-lah yang lebih layak dikatakan sebagai pemain terbaik.

0 Response to "Menurunnya Perolehan Keuntungan dan Efek Pengejaran"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel