Motif-motif Substitusi Impor

Situs Ekonomi - Industrialisasi dengan cara substitusi impor adalah cukup baik untuk mengadakan penghematan devisa karena tidak lagi mengimpor barang industri yang telah disubstitusi, sehingga dengan adanya industri substitusi impor itu dapat diperoleh suatu keuntungan. Selain tersedianya penghematan devisa, keuntungan lainnya adalah berupa timbulnya kegiatan-kegiatan produksi yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan infrastruktur (Irawan, 2002: 375).

Kendatipun demikian, realitanya adalah hasil yang dicapai dari industri tersebut sangat sedikit, bahkan tidak seperti yang diharapkan. Keadaan yang seperti ini disebabkan oleh adanya masalah-masalah yang cukup rumit, di mana negara-negara sedang berkembang harus menghadapi persaingan yang super ketat dari barang-barang impor itu sendiri.

Motif Substitusi Impor

1. Kualitas Barang-barang yang Dihasilkan

Terkait permasalahan yang ada selama ini, kualitas barang-barang yang dihasilkan tidak mampu menyingkirkan barang-barang impor. Berdasarkan pengamatan, kualitas barang-barang dalam negeri jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil produksi luar negeri yang diimpor.

Kalau saja hal ini masih dilalaikan, maka dampaknya akan mempengaruhi devisa yang ada, baik itu penghematan devisa (yang dihasilkan dari persaingan dengan barang-barang impor) ataupun perolehan devisia (yang dihasilkan dari persaingan barang-barang ekspor). Jadi, tujuan dibangunnya industri substitusi impor tersebut tidak hanya serta merta untuk menghemat devisa, tetapi juga harus mendatangkan devisa dari negara lain.

2. Biaya Produksi

Di samping itu, biaya produksi yang dibutuhkan sangat besar apalagi ketika sedang menempuh fase-fase awal pembangunan industrialisasi. Biaya tersebut tidak lain digunakan untuk memenuhi sejumlah kebutuhan, seperti mendidik tenaga kerja, membeli mesin-mesin dan membayar bahan-bahan dasar yang dibutuhkan (Suparmoko, 2002: 376).

Untuk memenuhi kebutuhan itu, negara sedang berkembang seringnya kewalahan karena langkanya faktor-faktor kapital. Dengan langkanya faktor tersebut, maka dalam melaksanakan tahap permulaannya harus mendatangkan kapital dan tenaga ahli dari luar negeri.

Maka jelaslah bahwa industri-industri baru itu selain tidak mampu bersaing dalam hal kualitas produksi, juga kalah dalam hal biaya produksi. Dengan demikian, untuk menghadapi persaingan tersebut, di mana dari segi kualitas barang-barang impor lebih bagus dan dari segi biaya lebih murah, maka pemerintah harus memberikan suatu proteksi tarif atau pengendalian impor.

3. Efisiensi Alokasi Faktor Produksi

Kemudian, kurangnya efisiensi alokasi faktor produksi adalah hambatan lainnya yang kini sedang dihadapi oleh negara sedang berkembang. Pada tahap permulaan industrialisasi, kerap kali kurang efisien, padahal negara tersebut sangat berkeinginan untuk mendirikan industri substitusi impor (Irawan, 2002: 377).

Kurangnya efisiensi tersebut disebabkan oleh langkanya faktor kapital. Supaya industri itu dapat berjalan konsisten, maka penggunaan kapital harus sangat berhati-hati. Dengan kata lain, harus digunakan dengan penuh pertimbangan ketika hendak mengalokasikannya.

Dengan alasan seperti itu, maka proteksi dapat dilaksanakan sehingga dapat menaikkan penghasilan kapital. Namun, proteksi ini tidak dapat dilakukan secara terus-menerus melainkan akan dikurangi sedikit demi sedikit agar indsutri tersebut dapat mandiri dan terbebaskan dari penyakit manja.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel