Paritas Daya Beli Sebagai Kasus Khusus

Situs Ekonomi - Pembaca yang kritis mungkin bertanya: Mengapa kita harus mengembangkan sebuah teori nilai tukar? Mankiw (2006: 263) menerangkan, "Teori ini menegaskan bahwa satu dolar (atau mata uang lain) pasti membeli jumlah barang dan jasa yang sama di semua negara." Maka oleh sebab itu, nilai tukar riil bersifat tetap dan semua perubahan nilai tukar nominal antara dua mata uang mencerminkan perubahan tingkat harga pada kedua negara tersebut.

Pasar Pertukaran Valuta Asing
Pasar Pertukaran Valuta Asing

Model nilai tukar yang dikembangkan ini memiliki keterkaitan dengan teori paritas daya beli. Menurut teori paritas daya beli, perdagangan internasional menanggapi perbedaan harga internasional dengan cepat.

Jika suatu barang lebih murah di suatu negara daripada di negara lain, barang tersebut akan diekspor dari negara pertama dan diimpor ke negara yang ke dua hingga perbedaan harganya menghilang. Dengan kata lain, teori paritas daya beli mengasumsikan bahwa ekspor neto sangat berandil dalam perubahan nilai tukar riil sekecil apa pun itu. Apabila ekspor neto memang sangat sensitif terhadap perubahan, maka kurva permintaan pada gambar di atas akan menjadi horizontal.

Jadi, teori paritas daya beli dapat dilihat sebagai kasus khusus dari model yang kita amati sekarang ini. Dalam kasus khusus tersebut, kurva permintaan pertukaran valuta asing tidak miring ke bawah, tetapi horizontal pada tingkat nilai tukar riil yang memastikan terciptanya paritas daya beli di dalam dan luar negeri. Kasus khusus tersebut merupakan permulaan yang baik saat mempelajari nilai tukar, namun kita masih jauh dari akhir cerita keseluruhannya.

Oleh karena itu, pembahasan ini berkonsentrasi pada kasus yang lebih realistis, di mana kurva permintaan pertukaran valuta asingnya miring ke bawah. Hal ini memungkinkan nilai tukar riil berubah seiring berjalannya waktu, sama seperti yang kadang terjadi di dunia nyata.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel