Penyerapan Kapital dan Stabilitas

Situs Ekonomi- Setiap masyarakat pastinya mengalami yang namanya batas kemampuan untuk menyerap kapital (capital absorption capacity). Untuk mengetahui apakah sebuah negara tersebut dikategorikan sebagai negara yang memiliki kapasitas dalam hal ini atau tidak, maka Baldwin membagikannya menjadi dua sisi pandangan.

Pertama, kita meninjau apakah negara tersebut memiliki faktor-faktor produksi komplementer yang berhubungan dengan kapital. Ke dua, kita mengamati apakah negara tersebut memiliki kemampuan untuk menghindari inflasi guna mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran internasional. Jika tidak memenuhi keduanya, maka negara tersebut dapat dikatakan tidak memiliki kapasitas untuk menyerap kapital.

Penyerapan Kapital

Biasanya, keterbatasan kapasitas untuk menyerap kapital di negara sedang berkembang disebabkan oleh kurangnya teknologi, kurangnya tenaga ahli dan kurangnya mobilitas faktor produksi. Namun yang paling menentukan apakah negara tersebut mampu untuk menyerap kapital atau tidak adalah kurangnya tenaga ahli atau tenaga yang terampil. Demikian yang disampaikan oleh Meier dalam bukunya Economic Development, Theory, History and Policy.

Kurangnya jumlah tenaga kerja yang terampil akan mengakibatkan turunnya produktivitas modal marjinal (marginal productivity of capital). Hal ini dapat terjadi karena investasi yang ada tidak diimbangi dengan tersedianya tenaga kerja yang terampil. Keadaan seperti ini sangat sering dialami oleh negara sedang berkembang dibandingkan dengan negara maju (Irawan, 2002: 270).

Dengan demikian, Baldwin mencoba untuk mengobservasi bagaimana negara sedang berkembang menyikapi akumulasi kapital. Ternyata, akumulasi kapital yang ada di negara tersebut melebihi kemampuan penyerapan, sehingga setiap tambahan investasi cenderung menimbulkan inflasi.

Di luar itu semua, sebetulnya inflasi yang mempunyai laju sedang (1 - 10 persen per tahun) sangatlah baik untuk perkembangan. Namun, realitanya adalah faktor produksi yang ada di negara sedang berkembang belum dapat dipergunakan dengan baik (ketidaksempurnaan pasar dan ketidakluwesan), sehingga inflasi tersebut praktis tidak bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, tetap saja investasi dengan cara inflasi merupakan pembentukan modal yang salah arah (misdirection of capital formation).

Meier mengatakan, "Lagi pula sekali inflasi muncul, biasanya sukar untuk mengendalikannya." Keadaan ini persis yang sedang dialami oleh Brazilia, Chili dan Indonesia.

Kesimpulannya adalah apabila akumulasi kapital bertambah dengan cepat, maka segera mungkin menaikkan faktor-faktor produksi lain yang berhubungan dengan kapital. Bila rintangan-rintangan (bottlenecks) produksi telah dapat diatasi, maka investasi dapat ditentukan berdasarkan kriteria investasi rasional (Suparmoko, 2002: 271). Jadi, pada intinya adalah untuk mengadakan perkembangan ekonomi itu harus ada kemampuan dari dalam masyarakat agar dapat menyerap tambahnya kapital dan perlu adanya stabilitas ekonomi.

0 Response to "Penyerapan Kapital dan Stabilitas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel