Pergeseran pada Kurva Phillips

Situs Ekonomi - Friedman dan Phelps telah mengemukakan pada tahun 1968 bahwa perubahan-perubahan inflasi yang diharapkan menggeser kurva Phillips jangka pendek. Berdasarkan pengalaman, pada awal tahun 1970-an, hal tersebut mampu meyakinkan sebagian ekonom lainnya bahwa Friedman dan Phelps benar. Kemudian, para ekonom pun memalingkan perhatiannya pada sumber pergeseran yang berbeda pada kurva Phillips jangka pendek, yaitu guncangan bagi penawaran agregat.

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1974, OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) mulai menggunakan kekuatan pasarnya sebagai kartel dalam pasar minyak dunia untuk meningkatkan keuntungan para anggotanya. Para anggota OPEC, seperti Arab Saudi, Kuwait dan Irak, membatasi jumlah minyak mentah yang mereka produksi dan jual ke pasar dunia. Tidak lama setelahnya, pengurangan penawaran ini menyebabkan harga minyak naik bahkan hampir dua kali lipat (Mankiw, 2006: 373).

Peningkatan harga minyak di pasar dunia tersebut merupakan contoh guncangan penawaran. Guncangan penawaran (supply shock) merupakan peristiwa yang secara langsung memengaruhi biaya produksi perusahaan dan dengan demikian memengaruhi harga yang dibebankan; guncangan penawaran menggeser kurva penawaran agregat perekonomian. Sebagai akibatnya, kurva Phillips mengalami pergeseran ke arah kanan.

Kurva Phillips
Guncangan Penawaran

Contohnya, ketika kenaikan harga minyak meningkatkan biaya produksi bensin, minyak pemanas dan masih banyak produksi lainnya, maka jumlah barang dan jasa yang ditawarkan pada tiap tingkat harga menjadi berkurang. Seperti yang diperlihatkan pada panel (a), pengurangan penawaran ini digambarkan oleh pergeseran kurva penawaran agregat ke sebelah kiri, yaitu dari AS1 menuju AS2.

Seketika itu juga, tingkat harga naik dari P1 menjadi P2, dan hasil produksi menurun dari Y1 ke Y2. Kombinasi kenaikan harga dan penurunan hasil produksi ini terkadang disebut stagflasi.

Pergeseran yang ditunjukkan oleh penawaran agregat tersebut berkaitan dengan pergeseran yang serupa pada kurva Phillips dalam jangka pendek, sebagaimana yang ditampilkan pada panel (b). Karena perusahaan membutuhkan lebih sedikit pekerja untuk memproduksi hasil yang lebih sedikit, jumlah lapangan kerja yang tersedia menjadi berkurang, sehingga pengangguran meningkat.

Dengan tingginya tingkat harga tersebut, maka tingkat inflasi -- perubahan persentase tingkat harga dibanding tahun sebelumnya -- juga mengalami kenaikan. Jadi, pergeseran pada penawaran agregat menyebabkan tingkat pengangguran dan inflasi lebih tinggi. Tradeoff jangka pendek ini dapat diilustrasikan oleh PC1 yang bergeser menuju PC2.

Mankiw (2006: 374) menyatakan, "Kondisi yang tergambarkan secara umum oleh pergeseran penawaran agregat ini adalah suatu kerugian." Dengan demikian, para pembuat kebijakan menghadapi pilihan sulit antara mengatasi inflasi atau pengangguran. Apabila mengurangi permintaan agregat untuk mengatasi inflasi, hakekatnya, mereka akan semakin meningkatkan tingkat pengangguran. Jika dibalik, apabila para pembuat kebijakan meningkatkan permintaan agregat guna mengatasi pengangguran, malah mereka justru akan semakin meningkatkan inflasi.

Lantas, apakah pergeseran yang bersifat merugikan pada kurva Phillips ini hanyalah sekedar sementara atau permanen? Mankiw (2006: 375) menjawab, "tergantung pada bagaimana masyarakat menyesuaikan harapan mereka terhadap inflasi. Jika masyarakat memandang kenaikan inflasi karena guncangan penawaran sebagai suatu penyimpangan sementara, inflasi yang diharapkan tidak berubah, dan kurva Phillips akan segera kembali pada posis semula. Namun, apabila masyarakat yakin bahwa guncangan akan mengakibatkan inflasi yang lebih tinggi, maka inflasi yang diharapkan meningkat, dan kurva Phillips tetap pada posisinya sekarang, yakni pada posisi yang kurang diinginkan."

0 Response to "Pergeseran pada Kurva Phillips"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel