Perkembangan Ekonomi di Negara Sedang Berkembang

Situs Ekonomi - Masalah-masalah pembangunan yang ada sekarang ini sebenarnya sudah ada dari sejak dulu. Namun, berbagai masalah tersebut masih belum dapat diatasi setelah terjadinya Perang Dunia II.

Kepentingan dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut sampai saat ini masih diakui oleh kalangan luas. Inilah yang membedakan antara negara-negara sedang berkembang dengan negara-negara maju.

Ekonomi Negara Sedang Berkembang

1. Asal Mula Ekonomi Dualistis (Dual Economy)

Pada akhir abad ke-19, negara-negara industri mengepakkan sayapnya hingga ke seluruh penjuru dunia, terkhusus negara-negara sedang berkembang. Mula-mula, negara tersebut hanya sebatas berdagang di negara setempat.

Kemudian, mereka mengambil alih kekuasaan, sehingga mereka memperoleh lebih banyak bahan-bahan yang mereka butuhkan. Adapun cara yang mereka lakukan adalah dengan memaksa para petani setempat untuk menanam tanaman tertentu yang mereka butuhkan (Irawan, 2002: 247).

Hal ini berdampak pada produksi, terutama di sektor pertanian. Lemahnya sektor tersebut menyebabkan harapan-harapan untuk kegiatan ekspor mulai sirna sebagaimana kegiatan ekspor tersebut merupakan tujuan dari produksi. Tentu keadaan ini mengganggu kestabilan perekonomian karena sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga pasar dunia.

Mulai saat itu, perekonomian negara sedang berkembang sangatlah terpadu dengan perekonomian dunia yang dikuasai oleh negara-negara Barat. Segala sektor perekonomian dipegang oleh penjajah demi kebutuhan dirinya, seperti pertambangan, timah dan karet.

Kemudian, investasi-investasi yang disalurkan sangatlah sedikit sehingga tidak cukup untuk menghadapi persoalan tersebut. Hal ini terus saja menyiksa negara sedang berkembang agar selalu bergantung pada perekonomian negara penjajah. Akibatnya adalah permintaan efektif (effective demand) tidak ada karena rendahnya produktivitas dan penghasilan (Suparmoko, 2002: 248).

Jadi, negara sedang berkembang sangat diidentikkan dengan ekonomi dualistis. Adapun sifat dari ekonomi dualistis tersebut adalah industri ekspor yang terpadu dengan perekonomian dunia yang sudah menggunakan sistem modern.

Sejauh ini, negara-negara sedang berkembang hanya mampu memproduksi barang-barang untuk pasar lokal. Sebagian besar dari mereka hanya bergantung pada sektor pertanian tradisional dan kerajinan.

2. Turunnya Kekuasaan Barat

Masalah lainnya adalah terjadinya krisis ekonomi yang sebelumnya belum pernah terjadi, yaitu pada tahun 1932. Padahal, kondis ekonomi di negara-negara sedang berkembang dua tahun sebelumnya, yakni tahun 1930, sedang menikmati puncak kejayaan (Irawan, 2002: 249).

Pada saat itu, ekspor menurun drastis, sehingga tidak ada lagi yang berani memberi pinjaman untuk investasi kecuali pinjaman dari pemerintah, terutama untuk membangun fasilitas prasarana umum. Selain tidak ada lagi pendapatan dari ekspor, banyak faktor-faktor produksi yang menganggur.

Keadaan ini yang mendorong negara sedang berkembang untuk membangun industri dasar supaya tidak bergantung lagi pada luar negri. Di samping itu, tujuan dari pembangunan industri tersebut adalah untuk menampung pengangguran.

Sedikit demi sedikit mereka merangkak dari fase ini hingga industrialisasi pun dimulai, meskipun mereka masih menjalani kehidupan ekonomi dualistis. Namun, bayang-bayang akan kestabilan ekonomi pun kian terlihat.

3. Periode Sesudah Perang Dunia II

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, negara-negara maju mulai menyadari bahwa perkembangan ekonomi merupakan tujuan penting. Hal ini dikemukakan pertama kali pada saat Atlantic charter yang berlangsung pada Agustus 1941, di mana adanya istilah kebebasan berkeinginan (freedom of want) (Suparmoko, 2002: 250).

Oleh karena itu, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, dan Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, menaruh perhatian terhadap negara sedang berkembang. Untuk membantu negara-negara tersebut, maka dibentuklah International Bank For Reconstruction and Development (IBRD).

Bank tersebut mendorong investasi di negara sedang berkembang dengan jalan mengadakan jaminan. Kemudian juga didirikannya badan lain seperti FAO (Food and Agriculture Organization) yang membantu untuk menaikkan produksi bahan makanan. Bersamaan dengan itu, juga adanya ITO (International Trade Organization) yang salah satu tujuannya adalah untuk memajukan pembangunan ekonomi serta menekankan pada penggunaan maksimum dari sumber-sumber manusia dan sumber alam dunia (Irawan, 2002: 251).

Meskipun demikian, keadaan di negara sedang berkembang tidak banyak mengalami kemajuan karena devisa yang mereka miliki selama perang tidak lagi banyak manfaatnya. Hal ini dikarenakan harga-harga barang impor dari Amerika naik setinggi 40 - 50 persen, sehingga pembangunan ekonomi mereka mengalami perlambatan.

Dari segi ekspor pun cenderung menurun karena permintaan akan ekspor bukan lagi dari bahan mentah, seperti pada saat perang, melainkan jenis barang-barang yang bersifat sintetis. Adapun bantuan yang selama ini diterima tidak sepadan dengan harapan-harapan dalam menetapkan tujuan perbaikan ekonomi mereka. Menurut Suparmoko (2002: 252), "Bantuan berupa kapital saja tidaklah cukup bila tidak disertai dengan tersedianya faktor-faktor lain seperti keterampilan, tenaga manusia dan kemampuan memimpin sesuai dengan rencana pembangunan."

0 Response to "Perkembangan Ekonomi di Negara Sedang Berkembang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel