Pertumbuhan Uang dan Inflasi

Situs Ekonomi - Walaupun saat ini harga Mie Goreng Aceh berada di kisaran Rp 8.000, kehidupan tampak berbeda 10 tahun yang lalu. Di Aceh sendiri, yang merupakan salah satu Provinsi Indonesia, untuk membeli sebungkus/sepiring mie goreng hanya merogoh kocek kurang lebih Rp 5.000.

Namun, pergeseran harga ini hanya dirasakan oleh penduduk yang bermukim di perkotaan. Adapun yang berdomisili di area pedesaan, harga Mie Goreng Aceh masih tetap berada di harga Rp 5.000, seperti di Kecamatan Pante Raja, Pidie Jaya, Aceh, Indonesia.

Pasalnya, mereka mengolah sendiri bahan bakunya, sehingga para penjual mie goreng di sana berani menetapkan harga di bawah harga yang ada di kota-kota. Selain itu karena wilayahnya yang berjauhan dari lokasi industri juga merupakan salah satu alasan mengapa harga-haraga di sana lebih murah.

Meskipun demikian, tetap saja kehidupan kita berkonsentrasi pada area perkotaan, di mana harga-harga cenderung naik. Naiknya harga-harga ini dinamakan dengan inflasi.

Secara sederhana, Inflasi ini dapat dikatakan dengan turunnya daya beli uang. Berdasarkan laporan yang datang dari Bank Indonesia, selama 10 tahun terakhir, harga-harga telah naik dengan rata-rata 5,86 persen setiap tahun. Setelah terakumulasi selama bertahun-tahun, laju inflasi tahunan yang 5,86 persen menyababkan harga-harga meningkat dari Rp 5.000 menjadi Rp 8.000.

Inflasi Tahunan Indonesia
Inflasi Indonesia
Sumber: Badan Pusat Statistik

Mankiw (2006: 193) mengatakan bahwa inflasi merupakan hal yang wajar terjadi dan tidak mungkin dihindari karena pada faktanya inflasi memang tidak terhindarkan sama sekali. Namun, terkadang ada masanya di mana harga-harga turun, sebuah fenomena yang disebut dengan deflasi.

Menurut Trading Economics, tingkat harga di Indonesia dari bulan Januari - Februari 2019 menurun dari 2,82 - 2,57 persen. Ini merupakan yang terendah sejak Maret 2018 - Februari 2019.

Deflasi ini terus saja menjadi isu utama politik. Di lain sisi, bagi para petani yang memiliki banyak utang, mereka menderita ketika jatuhnya harga hasil panen, sehingga mengurangi pemasukan dan kemampuan mereka untuk membayar utang. Mereka mendorong pemerintah agar mengambil kebijakan untuk mengatasi deflasi ini.

Kendati inflasi merupakan hal yang wajar, ada variasi penting pada tingkat kenaikan harga. Selama tahun 2005 hingga 2009, harga-harga naik dengan tingkat rata-rata 8,82 persen tiap tahun.

Sedangkan pada tahun 2010 sampai 2014, harga-harga tumbuh sebesar 6,35 persen tiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat inflasi di Indonesia dalam satu dekade sebanyak 7,59 persen. Publik sering memandang laju inflasi yang tinggi ini sebagai masalah utama dalam perekonomian.

Data internasional menunjukkan berbagai peristiwa inflasi yang kisarannya lebih lebar lagi. Setelah Perang Dunia I, Jerman mengalami inflasi yang sangat hebat.

Harga surat kabar naik dari 0,3 mark pada tahun 1921 menjadi 70.000.000 mark dalam waktu kurang dari dua tahun. Harga-harga lain naik dengan jumlah serupa.

Laju inflasi yang sangat tinggi ini disebut hiperinflasi. Hiperinflasi di Jerman memiliki dampak merugikan perekonomian Jerman sehingga sering dianggap sebagai salah satu penyebab munculnya Nazisme dan sebagai hasilnya, Perang Dunia II. Selama kurun waktu 50 tahun berikutnya, karena masih mengingat kondisi hiperinflasi yang baru saja lewat, para pembuat kebijakan di Jerman sangat menentang inflasi, sehingga menyebabkan inflasi di Jerman selalu lebih kecil dibanding di Amerika Serikat (Mankiw, 2006: 194).

Lantas, sebenarnya apa penyebab terjadinya inflasi? Pertanyaan tersebut akan dijawab melalui teori jumlah uang. Teori ini merupakan salah satu Prinsip Ekonomi, yaitu harga-harga naik bila pemerintah mencetak terlalu banyak uang.

Pemahaman ini sangat disanjung oleh para ekonom. Teori jumlah uang yang disampaikan oleh filsuf terkenal abad ke-18, David Home, dan baru-baru ini didukung kembali oleh ekonom terkemuka Milton Friedman. Teori inflasi ini dapat menjelaskan inflasi tingkat menengah, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, dan hiperinflasi, seperti yang terjadi di Jerman pada masa-masa perang dan baru-baru ini juga terjadi di beberapa negara Amerika Latin.

Setelah mengembangkan teori mengenai inflasi, kita kembali pada pertanyaan yang berkaitan, yaitu mengapa inflasi merupakan suatu masalah. Sekilas, jawaban atas pertanyaan ini sudah jelas.

Inflasi menjadi masalah karena masyarakat tidak menyukainya. Pada tahun 1970-an, ketika Amerika Serikat mengalami laju inflasi yang relatif tinggi, jajak pendapat menempatkan inflasi sebagai isu terpenting.

Presiden Ford menggemakan sentimen ini pada tahun 1974 ketika ia menyebut inflasi sebagai "musuh publik nomor satu." Ford memakai bros bertuliskan "WIN" (Whip Inflation Now), yang artinya: hilangkan inflasi sekarang.

Tapi, sebenarnya, apakah kerugian inflasi bagi masyarakat? Mankiw (2006: 195) menjawab, "Membahas kerugian-kerugian inflasi tidaklah semudah yang dibayangkan. Walaupun para ekonom membenci hiperinflasi, beberapa ekonom lainnya berpendapat bahwa kerugian atau beban-beban akbit inflasi tidaklah sebesar yang diperkirakan oleh masyarakat."

0 Response to "Pertumbuhan Uang dan Inflasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel