Substitusi Impor dalam Inflasi

Situs Ekonomi - Setiap negara pasti pernah mengalami yang namanya inflasi. Hanya saja, inflasi yang dialami oleh negara maju dan negara sedang berkembang memiliki tingkatan yang berbeda-beda (Irawan, 2002: 388).

Tingkat laju inflasi di negara maju biasanya berkisar antara 0 - 10 persen atau juga dapat disebut dengan inflasi lunak. Sementara di negara sedang berkembang, rata-rata laju inflasinya melebihi 10 persen.

Substitusi Impor dalam Inflasi

Di samping itu, inflasi yang ada di negara maju selalu denetralisirkan oleh banyaknya jumlah wiraswasta. Maka dari itu, inflasi dapat membawa pengaruh positif bagi negara yang bersangkutan.

Keadaan ini justru berbanding terbalik dengan negara sedang berkembang, di mana jumlah wiraswastanya sangat kurang. Dengan demikian, inflasi yang menerpa negara tersebut tidak diimbangi dengan penerapan investasi riil (Suparmoko, 2002: 389).

Kendatipun demikian, tetap saja inflasi dipandang buruk oleh teori ilmu ekonomi karena sekali harga-harga naik, maka akan sulit untuk dikendalikan sekalipun itu negara maju. Tidak hanya itu, inflasi juga menyebabkan rusaknya struktur harga.

Rusaknya struktur harga berarti rintangan bagi pelaksanaan industrialisasi karena mesin-mesin yang diimpor tidak dapat digunakan segera melainkan sebagai objek perdagangan saja. Masih banyak lagi pengaruh buruk dari inflasi, di antaranya investasi dan konsumsi (Irawan, 2002: 390).

Adapun pengaruhnya bagi investasi adalah pengetrapan investasi spekulatif dan komersial semakin meningkat. Penyebabnya adalah karena menurunnya daya beli masyarakat serta menurunnya nilai mata uang, maka investasi riil sangat sulit untuk diimplementasikan.

Mengenai konsumsi, inflasi menimbulkan jurang kesenjangan tingkat konsumsi yang lebar antara golongan masyarakat yang kaya dan golongan masyarakat yang miskin. Hal yang demikian sangat terasa di negara sedang berkembang (Suparmoko, 2002: 391).

Bagi masyarakat yang berpendapatan rendah, mereka semakin memusatkan konsumsinya pada kebutuhan-kebutuhan pokok saja. Sebaliknya, bagi masyarakat yang kaya, mereka lebih mengutamakan konsumsinya pada barang-barang lux dan semilux yang diimpor karena berlakunya efek pamer (demonstration effect).

Oleh sebab itu, akibat buruk dari inflasi adalah bergesernya pola konsumsi ke arah barang-barang impor. Dengan adanya inflasi, pertumbuhan industri substitusi impor mengalami hambatan dan rintangan, baik dari tabungan, investasi maupun konsumsi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel