Substitusi Impor dan Pinjaman Luar Negeri

Situs Ekonomi - Umumnya, pemerintah negara sedang berkembang sangat mengandalkan kebijakan moneter dan fiskal guna mengatasi permasalahan pembangunan ekonomi negara. Kebijakan itu diharapkan dapat memenuhi target yang telah ditentukan dalam rencana pembangunan ekonomi.

Dengan niatnya yang besar dalam upaya membangun negaranya, maka pemerintah sangat memerlukan kapital yang sebanding dengan niatnya tersebut. Menurut Irawan (2002: 381), "Berdasarkan kenyataan yang dapat dilihat, negara sedang berkembang hanya mempunyai sejumlah kapital yang relatif sedikit bila dibandingkan dengan kebutuhan pembangunannya."

Pinjaman Luar Negeri

Maka dari itu, pemerintah terpaksa harus mendatangkan alat-alat kapital dari negara yang telah maju industrinya, mengingat bahwa negara tersebut belum mampu untuk menciptakan alat-alat itu dalam waktu yang dekat. Untuk itu, tentunya devisa akan menjadi korban sebagai alat pembayaran luar negeri.

Keadaan seperti ini memang membuat pemerintah agak sedikit dilema karena di satu sisi kapitalnya relatif sedikit dan di sisi lain devisanya sangat terbatas. Bagi negara sedang berkembang, kemungkinan untuk memperoleh devisa dari luar negeri sangat kecil karena barang yang diekspornya berwujud produksi primer, sehingga nilai tukar yang dipunyainya relatif rendah (Suparmoko, 2002: 382).

Produksi primer sangat sedikit permintaannya di pasar internasional, kecuali pada saat pasca Perang Dunia II. Saat ini, produksi yang paling besar permintaannya adalah produksi sintetis karena maraknya barang-barang tersebut. Itulah yang menyebabkan turunnya nilai tukar di negara-negara sedang berkembang.

Oleh karena itu, mereka terpaksa meminta bantuan berupa pinjaman luar negeri karena pembangunan tetap harus dilaksanakan. Dari pinjaman tersebut, pemerintah dapat menggunakannya untuk melaksanakan industrialisasi, terutama di bidang industri substitusi impor.

Ketika industri substitusi impor tersebut telah dibangun, selanjutnya devisa akan menjadi hemat penggunaannya dan bahkan dapat menambah penghasilan devisa negara. Setelah hal itu terjadi, maka negara tersebut  akan dapat segera membayar kembali pinjamannya tadi. Jadi, dengan berdirinya industri substitusi impor dapat membayar kembali pinjaman luar negeri itu (Irawan, 2002: 383).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel