Suku Bunga Nominal dan Riil

Situs Ekonomi - Mengoreksi variabel-variabel ekonomi terhadap inflasi merupakan suatu hal yang penting dan agak sedikit rumit apabila kita melihat data suku bunga. Ketika menyimpan uang dalam sebuah rekening bank, Anda akan memperoleh bunga. Sebaliknya, ketika menarik pinjaman dari bank untuk memenuhi suatu kebutuhan, Anda harus membayar bunga.

Suku bunga merupakan sebuah pembayaran di masa yang akan datang atas perpindahan uang di masa lampau. Akibatnya, suku bunga selalu melibatkan perbandingan jumlah uang pada waktu yang berbeda. Agar lebih mudah memahaminya, kita perlu mengetahui bagaimana melakukan koreksi terhadap dampak inflasi (Mankiw, 2006: 42).

Sebagai contoh, anggaplah bahwa Sinta menyimpan uang sebesar Rp 14.000.000 di sebuah bank yang menawarkan tingkat suku bunga enam persen per tahun. Setelah satu tahun, Sinta memperoleh bunga sebesar Rp 840.000. Kemudian, Sinta mengambil seluruh simpanannya yang kini berjumlah Rp 14.840.000. Pertanyaannya adalah apakah Sinta sekarang lebih kaya Rp 840.000 daripada sebelumnya?

Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan istilah "lebih kaya". Sinta memang memiliki Rp 840.000 lebih banyak daripada yang ia punya sebelumnya.

Dengan kata lain, jumlah uangnya naik enam persen. Namun, jika harga-harga naik pada saat yang bersamaan, maka daya beli Sinta tidak meningkat sebanyak enam persen.

Jika tingkat inflasinya tiga persen, jumlah barang dan jasa yang dapat dibelinya hanya bertambah sebanyak tiga persen. Dan jika tingkat inflasinya mencapai 10 persen, maka harga-harga barang dan jasa pun meningkat lebih banyak daripada jumlah simpanan Sinta. Dengan demikian, daya beli Sinta telah turun sebanyak empat persen.

Mengenai perbedaan antara suku bunga nominal dan riil, Mankiw (2006: 43) menjelaskan bahwa suku bunga yang dibayarkan oleh bank disebut suku bunga nominal (nominal interest rate) dan suku bunga yang telah dikoreksi terhadap inflasi disebut suku bunga riil (real interest rate). Kita dapat menghubungkan suku bunga nominal, suku bunga riil dan inflasi sebagai berikut:

Suku bunga riil = Suku bunga nominal - Tingkat inflasi

Suku bunga riil merupakan selisih antara suku bunga nominal dan tingkat inflasi. Suku bunga nominal menunjukkan seberapa cepat jumlah uang Anda di bank bertambah dalam suatu periode.

Suku Bunga
Sumber: Bank Indonesia (BI) 2019

Gambar tersebut memperlihatkan bahwa suku bunga nominal dan riil sejak bulan Januari 2018 bergerak dengan sedikit adanya kemiripan. Dari bulan Januari - April 2018, pergerakan laju suku bunga nominal nyaris konstan pada tingkat 4,25 persen, sementara suku bunga riil mengalami pasang surut, di mana pada bulan Januari suku bunga riil berada di titik satu, kemudian naik 1,07 pada bulan berikutnya.

Sejak itu, nilainya turun sebesar 0,85 persen dan kemudian turun lagi sebanyak 0,84 persen. Naik turunnya suku bunga riil ini dikarenakan adanya tingkat inflasi, apabila inflasinya rendah maka suku bunga riil akan meningkat, seperti yang tertera pada grafik di atas.

Puncak tertinggi dari suku bunga riil selama 12 bulan belakangan ini adalah pada bulan September 2018. Pada saat itu, inflasi berada di titik terendahnya, yaitu 2,83 persen dengan suku bunga nominal mencapai 5,75 persen maka hasil yang didapati oleh suku bunga riil adalah 2,92 persen.

Begitulah gambaran ringkas mengenai suku bunga nominal dan suku bunga riil serta inflasi. Para investor sangat memperhatikan grafik ini guna memprediksi keuntungannya apabila mereka ingin menanamkan modalnya di suatu perusahaan. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel