Tanah dan Penggunaannya

Situs Ekonomi - Pada umumnya, produktivitas per orang yang bekerja di sektor pertanian sangatlah rendah, terkhusus di negara-negara terbelakang atau negara sedang berkembang. Padahal sebagian besar penduduk (berkisar antara 60 - 70 persen) mempunyai mata pencaharian di sektor ini (Irawan, 2002: 302).

Rendahnya produktivitas tersebut tidak hanya disebabkan oleh kapital yang rendah, alat-alat produksi yang masih bersifat primitif dan terbatasnya kesediaan pupuk, tetapi juga karena sistem yang digunakan banyak menimbulkan kerugian. Sistem yang digunakan oleh sebagian negara-negara sedang berkembang saat ini adalah sistem sewa tanah secara tradisional (feodal). Sistem ini masih dijalankan di kawasan Kalimantan dan Sumatera (Suparmoko, 2002: 303).

Tanah

Sistem tersebut menggambarkan bahwa penyewa tanah tidak punya dorongan untuk menjaga kesuburan tanah, meskipun mereka tahu bagaimana cara mengerjakannya. Setiap kenaikan produksi hanya akan menguntungkan tuan tanah, sehingga sebaik apapun kinerja para petani tetap saja hidupnya melarat.

Satu hal yang penting yang harus diketahui, yaitu menjaga kelayakan hidup para petani itu penting. Jika tidak, bagaimana mereka bisa bekerja maksimal, sementara perut mereka lapar.

Kerugian lainnya yang diakibatkan oleh sistem tersebut adalah adanya shifting cultivation
(perladangan berpindah-pindah). Sederhananya, shifting cultivation dapat diartikan bahwa terjadinya penebangan pohon secara terus-menerus dan tanah hasil tebangan tersebut dibiarkan begitu saja hingga menjadi semak-semak. Lalu, di atas tanah yang semak-semak itulah ditanami pohon yang baru, jadi sangat rentan terjadinya erosi tanah. Itulah yang terjadi di daerah Kalimantan dan Sumatera.

Oleh karena itu, bagi negara terbelakang land reform sangatlah perlu, baik secara ekonomi maupun sosial. Di India, land reform telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dalam menaikkan produksi pertanian karena adanya tanah warisan dan mampu menghilangkan penghisapan serta ketidakadilan di dalam sistem pertanian (Irawan, 2002: 304).

Tidak hanya di India, tetapi juga di negara-negara Amerika Latin dan Mesir telah membuktikan bahwa sistem tersebut mampu menjadikan para petani bekerja lebih efisien. Di samping itu juga harus ada tindak lanjut (follow-up) untuk membantu para petani tersebut, seperti mengadakan kredit-kredit untuk pembelian pupuk, alat-alat serta perbaikan tanah seperti irigasi dan pendidikan berupa kursus-kursus pertanian (Suparmoko, 2002: 306).

Insentif-insentif seperti ini sudah dilaksanakan di Indonesia, hanya land reform-nya sendiri yang belum dilaksanakan. Jadi, land reform adalah pembagian hak milik tanah luas di antara para petani tanpa ada kompensasi bagi pemilik yang lama (Irawan, 2002: 305).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel