Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Permasalahan-permasalahan Produktivitas Karet Alam di Indonesia sebagai Komoditi Ekspor

Permasalahan-permasalahan di Sektor Pertanian

Usaha perkebunan di Indonesia hingga kini merupakan sumber pendapatan utama penduduk di beberapa wilayah, seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Sektor ini juga mendorong adanya aktivitas-aktivitas lain seperti penyediaan alat-alat pertanian dan prasarana. Kita tahu bahwa karet asli merupakan komoditi ekspor yang dapat meningkatkan pendapatan negara (Syechalad, 2009).

Indonesia adalah negara produsen karet nomor dua terbesar di dunia dengan Thailand sebagai produsen pertama dan Malaysia sebagai negara produsen ketiga. Produksi karet Indonesia sejauh ini sebanyak 25 persen dari produksi karet asli dunia. Hal itu disebabkan belum majunya penerapan teknologi dalam usaha perkebunan karet asli Indonesia apabila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia.

Produksi karet secara petani kecil merupakan produksi karet alam di Indonesia. Menurut Prijono (1998), sebenarnya komoditi ekspor Indonesia dapat bersaing di pasaran Internasional, tetapi jika dilihat selama ini biaya produksi yang tinggi dan juga kualitasnya yang rendah barangkali tampak sulit dipasarkan di pasar Internasional karena faktor harga menentukan jenis komoditi yang diekspor.

Perlu diketahui bahwa pasaran dan harga di tingkat internasional dipengaruhi oleh kualitas dan biaya produksi dari produsen (Sumitro, 1975). Sejauh ini, hampir setiap saat pasaran karet ditentukan oleh negara-negara konsumen seperti Amerika Serikat dan United Kingdom.


Tingkat Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi

Tingkat Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia 2018

Kegiatan ekonomi di Indonesia mulai berjalan kembali di tahun 1999 dan hasilnya mulai menunjukkan pertumbuhan yang positif. Kegiatan perekonomian mulai bergerak lebih cepat pada tahun 2012, sehingga mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi menjadi 6,19 persen.


Namun, pada tahun 2013, angka pertumbuhan ekonomi tersebut turun menjadi 5,56 persen. Kondisi yang tidak mengenakkan tersebut terus berlanjut hingga ke tahun-tahun setelahnya, yakni 2014 dan 2015, di mana angka yang tertera semakin mengecil, atau tepatnya menjadi 5,02 persen (2014) dan 4,79 persen (2015).

Menciutnya persentase pertumbuhan ekonomi sedikit banyak dipengaruhi oleh tingginya harga minyak dunia dan krisis global. Kendatipun demikian, beranjak dari tahun 2016 pertumbuhan ekonomi kembali meroket yang awalnya 5,02 persen (2016) terus menanjak tinggi ke tahun-tahun berikutnya, yaitu 5,07 persen tahun 2017 dan 5,17 persen tahun 2018.

Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang, maka pemerintah harus memperhatikan tenaga kerja di sektor pertanian karena sumber utama pendapatan penduduk berasal dari sana, sebagaimana yang telah dinyatakan di awal pembahasan ini. Adapun Faktor yang secara efektif mendorong petani meningkatkan hasil ialah harga yang menguntungkan dan juga kestabilan harga di pasaran internasional. Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi pola serta cara usaha tani yang tentunya tidak terlepas dari masalah modal, pengangkutan dan kemampuan yang ada pada petani di Indonesia sendiri.


Jumlah pendapatan pekebun kecil juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti modal, tingkat pengetahuan dan informasi pasar. Perkembangan pasar karet dunia dewasa ini menunjukkan bahwa harga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penawaran dan permintaan, sifat karet, serta spekulasi pasar di tingkat internasional.