Pola Perkebunan Besar

Situs Ekonomi - Pola ini bertujuan untuk mengembangkan secara lebih luas lagi perkebunan dalam bentuk sebuah institusi berdasarkan undang-undang negara. Peranan perkebunan besar sangat berpengaruh terhadap usaha-usaha meningkatkan kualitas hasil produksi perkebunan, perluasan lapangan kerja masyarakat, meningkatkan nilai komoditas untuk ekspor dan secara langsung dapat menjadi suatu unit usaha. Selain itu juga dapat mengembangkan perkebunan masyarakat yang ada di sekitar mereka, terutama di kebun-kebun yang berdekatan dengan perkebunan besar secara terpadu (Syechalad, 2009: 121).

Di bawah ini dapat dilihat luas kawasan dan hasil produksi kelapa sawit perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS) di Indonesia.

Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit (Minyak Sawit) Menurut Status Pengusahaan Tahun 2009-2015
Luas Areal Produksi Kelapa Sawit
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan

Tabel di atas menunjukkan bahwa luas kawasan kebun kelapa sawit di Indonesia tampak semakin meluas dari tahun ke tahun. Di sana pula terlihat bahwa pada tahun 2009, luas areal perkebunan kelapa sawit nasional sebesar 7.873.294 Ha.

Jumlah tersebut kian membengkak di tahun-tahun berikutnya. Hingga pada akhirnya, yakni pada tahun 2015, luas wilayah perkebunan kelapa sawit mencapai 11.260.277 Ha.

Apabila dirincikan antara tahun awal (2009) dengan tahun akhir (2015), maka kita mendapati bahwa luas lahan perkebunan rakyat (PR) sebesar 3.061.413 Ha. Sementara perkebunan besar negara (PBN) berjumlah 630.512 Ha dan perkebunan besar swasta (PBS) 4.181.369 Ha.

Kemudian, tepat pada tahun 2015 jumlah tersebut berubah menjadi lebih luas lagi dibandingkan dengan sebelumnya, di mana untuk PR sendiri seluas 4.535.400 Ha, PBN 743.894 Ha dan PBS 5.980.982 Ha. Dengan besarnya pertumbuhan lahan tersebut, pastinya berimbas pada produktivitas kelapa sawit nasional.

Untuk itu, mari kita amati bersama di mana pada tahun 2009 jumlah produksi sawit Indonesia sebanyak 19.324.293 Ton. Selang setahun berikutnya, jumlah tersebut bukannya menurun atau cenderung stabil, melainkan makin bertambah.

Tabel tersebut mencatat bahwa dua tahun berturut-turut setelahnya, secara signifikan bertambah banyak. Tepatnya, pada tahun 2010 sampai 2011, Indonesia berhasil memproduksi kelapa sawit sebesar 21.958.120 Ton tahun 2010 dan 23.096.541 Ton tahun 2011.

Apakah perolehan yang memuaskan tersebut akan berhenti begitu saja di tahun berikutnya? Tentunya tidak, kita dapat mengidentifikasinya pada tahun 2015, sebagaimana yang telah dibukukan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, perolehan tersebut mengalami peningkatan yang sangat pesat, yaitu 31.070.015 Ton. Besarnya produktivitas pada tahun 2015 tidak terlepas dari perannya PR dan PBS. PR sendiri berhasil mengantongi 10.527.791 Ton kelapa sawit, sedangkan PBS mengantongi lebih banyak dari itu, yakni 18.195.402 Ton pada tahun yang sama.

Sebelum kita mengakhiri pembahasan ini, sedikit kita bergeser ke perkebunan karet. Di daerah Aceh -- yang merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia -- sudah mulai diperkenalkan kualitas karet standar Indonesia atau Standard Indonesian Rubber (SIR) di tingkat pasar nasional dan internasional (Syechalad, 2009: 122).

Saat ini, setengah dari hasil produksi karet di Aceh berasal dari produksi Crumb Rubber. Perkembangan hasil produksi karet asli di wilayah ini meningkat setiap tahunnya, terutama produksi dalam bentuk SIR.

Perusahaan perkebunan PT. Perkebunan I Aceh Timur (salah satu kabupaten di Provinsi Aceh) pada masa kini telah memiliki pabrik untuk produksi SIR. Pabrik-pabrik tersebut adalah:
  1. Pabrik Crumb Rubber di Julok Aceh Timur,
  2. Pabrik Sheet di Julok Rayek Aceh Timur dan
  3. Pabrik Sheet Karang Inong di Langsa.

Di samping tiga buah pabrik tersebut, di wilayah ini juga terdapat dua buah pabrik pengolahan bahan mentah kelapa sawit yang dipunyai oleh PT. Perkebunan I Aceh Timur. Berikut adalah nama-nama pabriknya:
  1. Pabrik kelapa sawit Tanjung Semantok Aceh Timur dan
  2. Pabrik kelapa sawit Pulau Tiga di Kabupaten Aceh Timur.

PT. Perkebunan I Aceh Tmur akhir-akhir ini telah memiliki sejumlah 7.978 pekerja yang terdiri dari 1.245 orang pekerja gaji bulanan, 6.519 orang pekerja harian, 169 staf bagian administrasi, 37 orang pekerja sampingan/part time, 4 orang bidang pemasaran dan sebanyak 4 orang lainnya sebagai anggota pimpinan/dewan penasehat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel