Produksi Hasil-hasil Pertanian: Tanaman Pangan

Situs Ekonomi - Provinsi Aceh didominasi oleh hasil-hasil pertanian, baik bahan makanan (padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat dan lain-lainnya) maupun hasil perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit, kopi dan sebagainya). Hasil pertenakan juga berlimpah ruah di daerah yang subur akan tanahnya ini, seperti daging sapi/lembu, kambing, unggas dan masih banyak lagi lainnya.

Selain itu, di daerah Serambi Mekkah (julukan Provinsi Aceh) ini juga terdapat hasil perikanan, baik darat (budi daya) ataupun laut berupa ikan dan udang. Itu belum lagi ditambah dengan hasil hutan yang berupa kayu dan rotan.

Dari sekian banyak yang dapat dihasilkan oleh provinsi ini, namun hanya satu yang paling menarik perhatian penulis untuk dijadikan bahasan pada kesempatan ini, yaitu bahan makanan pokok atau tanaman pangan. Mengingat terlalu banyak hal yang harus disampaikan dalam waktu yang serentak, barangkali sisa-sisa dari pertemuan ini akan diutarakan pada kesempatan lainnya. Untuk itu, mari disimak bagaimana kondisi tanaman pangan di Provinsi Aceh di sepanjang tahun 2016 sampai 2017.

Tanaman Pangan

Sebagai salah satu jenis tanaman pangan, luas areal tanaman padi di Aceh ini sebesar 439.373 Ha dengan luas panen 420.770 Ha. Produksi bahan makanan penting lainnya yang dihasilkan di daerah ini adalah jagung, kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah dan kacang hijau) serta ketela (pohon dan rambat). Untuk lebih jelasnya lagi, Anda dapat melihatnya di bawah ini:

Luas Tanaman dan Panen Bahan Makanan Pokok
Provinsi Aceh, 2016 - 2017
Bahan Makanan Pokok
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh

Apabila kita melihat perbandingannya antara tahun 2016 dengan 2017, maka di sana terlihat jelas bahwa luas tanaman padi kian bertambah dari yang awalnya hanya 439.373 Ha menjadi 454.917 Ha. Pertambahan ini mempengaruhi luas panen, jika ditinjau pada tahun sebelumnya, yaitu 2016, kita dapat mengamati bersama bahwa luas panennya sebanyak 420.770 Ha. 

Kemudian, tepat pada tahun 2017, jumlah tersebut semakin bertambah dengan luas lahan panen sejumlah 464.543 Ha. Luas panen ini mencerminkan hasil produksi, jika luas panennya bertambah maka hasil yang diproduksinya juga bertambah, dan ini tentunya sangat positif sekali bagi jenis tanaman padi.

Demikian juga bagi tanaman jagung yang luas tanamannya kian mengembang. Tabel di atas menunjukkan bahwa luas tanaman jagung pada tahun 2016 sebesar 73.851 Ha dengan luas panen pastinya 70.024 Ha. Setahun kemudian, jumlah tersebut membesar menjadi 93.546 Ha serta juga diikuti dengan membengkaknya luas panen yang diperoleh, yakni 81.552 Ha. Ini juga dinyatakan positif.

Sejauh ini, kita dapat menyimpulkan bahwa target swasembada pemerintah berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Pemerintah telah memperluas lahan pertanian untuk jenis tanaman padi dan jagung di Aceh. Berkat hal tersebut, kita dapat lihat bersama bahwa lahan panennya juga bertamabah seperti yang telah baru saja kita kaji.

Lanjut ke jenis tanaman kacang kedelai, ini tampak berbeda dari yang sebelumnya menurut angka-angka yang telah dicantumkan. Perbedaan tersebut terletak pada luas tanaman, di mana luas tanamannya menyempit dari 16.920 Ha pada tahun 2016 menjadi 10.025 Ha pada tahun 2017. 

Berdasarkan asumsi yang kita gunakan, yaitu semakin besar luas lahan tanaman, maka semakin besar pula panen yang dihasilkan oleh para petani. Hal ini mengindikasikan bahwa luas panen untuk jenis tanaman kacang kedelai juga turut ikut mengecil, yakni dari 14.559 Ha (2016) berkurang menjadi 4.436 Ha (2017). Jumlah tersebut tentunya sangat jauh sekali perbandingannya antara tahun 2017 dengan 2016.

Dengan demikian, permasalahan ini dapat kita simpulkan bahwa adanya pengalihfungsian lahan oleh para petani kacang kedelai. Kira-kira apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Pada pertemuan kemarin kita telah membahas permasalahan ini pada topik komoditi karet dan kelapa di Provinsi Aceh

Namun, pada saat itu penulis hanya menjelaskannya sekedar begitu saja. Kali ini, penulis akan sedikit menambahkan informasi terkait penyebab berkurangnya luas areal tanaman yang pada gilirannya berimbas pada luas panen atau produktivitas para petani. 

Baik, penyebab utamanya adalah urbanisasi yang sulit dihilangkan. Perpindahan penduduk dari desa ke kota diduga sebagai penyebab turunnya produktivitas pertanian di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.

Kepala Penelitian Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, "Semakin berkurangnya jumlah petani yang memilih merantau demi mencari pekerjaan baru mempengaruhi tinggi rendahnya produksi komoditas pangan." Adapun salah satu penyebab urbanisasi adalah keinginan untuk mencari penghidupan yang layak di kota karena pendapatan mereka sebagai petani tidak mampu mencukupi kebutuhan. Demikian yang dilaporkan oleh Bisnis.com.

Mengenai jenis tanaman kacang tanah, kita tidak dapat menggunakan asumsi di atas karena luas lahan panennya mengalami penambahan (1.864 Ha) di saat lahan tanamannya menyusut kecil dari 1.836 Ha pada tahun 2016 menjadi 1.756 Ha pada tahun 2017. Biasanya, ini terjadi karena penggunaan pupuk yang berkualitas serta didorong dengan pengaplikasian teknologi yang baik pula oleh petani kacang tanah di Aceh.

Penutup

Secara garis besar, kita dapat menggarisbawahi bahwa produktivitas tidak hanya dilihat dari luas lahannya, tetapi juga dari cara menggunakan teknologi yang baik. Tentunya, itu semua tergantung pada edukasi.

Pemerintah harus memberikan edukasi untuk peningkatan kapasitas para petani dan juga penguasaan teknologi pertanian. Penguasaan teknologi pertanian sebaiknya juga diikuti dengan revitalisasi alat-alat pertanian.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel