Sejarah Perkembangan Perkebunan

Situs Ekonomi - Perkembangan perkebunan di negara sedang berkembang termasuk Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kolonialisme, kapitalisme dan modernisasi. Di negara-negara berkembang pada umumnya perkebunan merupakan sebagai perpanjangan dari perkembangan kapitalisme agraris Barat yang diperkenalkan melalui sistem perekonomian kolonial (Syechalad, 2009: 111).

Sejarah Perkembangan Perkebunan

Perkebunan sejak awal perkembangannya adalah sebagai suatu sistem perekonomian baru yang semula belum dikenal, yaitu sistem perekonomian pertanian komersil yang berorientasi pada kolonial. Sistem perkebunan didasarkan pada pendekatan pemerintah kolonial atau yang didirikan oleh kapitalis asing yang pada dasarnya ialah sistem perkebunan Eropa yang berbeda dengan sistem kebun yang telah lama berkembang di negara-negara berkembang pada saat prakolonial. Masuknya era sistem perekonomian pertanian baru, sistem perkebunan telah memperkenalkan berbagai pembaharuan dalam sistem perekonomian pertanian yang membawa dampak perubahan penting terhadap kehidupan masyarakat tanah jajahan atau negara-negara berkembang (Dirjo, 1999).

Perkembangan perkebunan di negara-negara berkembang berkaitan dengan proses modernisasi pertanian. Sebelum mengenal sistem perkebunan Barat, masyarakat agraris di negara-negara berkembang mengenal sistem kebun sebagai bagian dari sistem perekonomian pertanian tradisional (Syechalad, 2009: 112).

Dalam struktur perekonomian tradisional, usaha kebun sering dijadikan sebagai usaha tambahan atau pelengkap dari kegiatan kehidupan pertanian pokok, terutama pertanian pangan secara keseluruhan. Sistem kebun biasanya diwujudkan dalam bentuk usaha kecil, bukannya padat modal, lahannya yang terbatas, sumber tenaga kerja yang berpusat pada anggota keluarga, kurang berorientasi pada pasar dan lebih berorientasi pada kebutuhan subsisten. Ciri pokok sistem kebun seperti itu menjelaskan ciri umum dari usaha pertanian masyarakat secara agraris yang masih subsisten dan prakapitalistik atau praindustri.

Tinjauan mengenai kolonialisme dan modernisasi merupakan latar belakang perkembangan perkebunan di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. Ekspansi kekuasaan kolonial pada abad 19 merupakan gerakan kolonialisme yang besar pengaruhnya dalam membawa dampak perkembangan politik, ekonomi, sosial dan budaya di negara-negara jajahan mereka.

Penetrasi kekuasaan politik dan ekonomi Barat telah mengakibatkan terjadinya proses transformasi struktural dari ekonomi tradisional ke arah struktur politik, ekonomi kolonial dan moderen. Dominasi kolonial tidak hanya diwujudkan dalam sentralisasi kekuasaan politik di tangan kekuasaan kolonial, tetapi juga dalam eksploitasi dan akumulasi sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan negara mereka. Oleh karena itu, eksploitasi tanah jajahan merupakan ciri pokok dari sistem kolonial.

Setelah eksploitasi tersebut, maka timbulah lingkungan baru, yakni lingkungan perkebunan. Perkebunan ini biasanya dibentuk oleh kesatuan lahan penanaman-penanaman komoditi perdagangan, pusat pengolahan produksi (pabrik) dan komunitas pemukiman penduduk yang terlibat dalam kegiatan perkebunan.

Semakin majunya era, masyarakat semakin mengenal mana yang disebut dengan komoditi pokok. Komoditi pokok ini merupakan satu komponen penting dalam perdagangan Internasional.

Kebanyakan negara berkembang sangat tergantung pada ekspor produk-produk perkebunan yang sering disebut sebagai komoditi ekspor. Syechalad (2009: 113) menutup pembahasan ini dengan mengatakan, "Meskipun ekspor barang-barang industri meningkat, namun sebagian besar ekonomi negara-negara berkembang masih tetap bergantung pada ekspor barang-barang perkebunan."

0 Response to "Sejarah Perkembangan Perkebunan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel