Tanah dan Sewa Ekonomi

Situs Ekonomi - Menurut Sukirno (1994: 371), "Tanah merupakan faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat diubah, yaitu jumlahnya tidak dapat ditambah atau dikurangi." Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah memperbaiki mutu dari tanah yang tersedia, misalnya dengan menyediakan irigasi yang baik di tanah-tanah yang digunakan untuk persawahan, dan membuat proyek-proyek mencegah banjir di tanah-tanah yang sering digenangi air. Sebagai akibat dari sifat penawaran tanah seperti yang dinyatakan ini, dalam analisis ekonomi kurva penawaran tanah cenderung bersifat tidak elastis sempurna.

Analisis tentang penentuan penawaran tanah telah banyak dilakukan oleh ahli-ahli ekonomi yang hidup pada permulaan abad ke-19. Pandangan David Ricardo, salah satu ahli ekonomi klasik yang terkemuka, sampai sekarang masih selalu disinggung apabila analisis mengenai sewa ekonomi diimplementasikan (Sukirno, 1994: 372).

Pada masa hidupnya terdapat perdebatan tentang sebab-sebab mengapa harga jagung menjadi sangat tinggi. Sebagian ahli ekonomi berpendapat bahwa harga yang tinggi tersebut disebabkan karena tuan tanah menuntut sewa yang tinggi atas tanah yang dimilikinya.

Berdasarkan pendapat ini, mereka mengusulkan agar pemerintah mengawasi sewa tanah yang dituntut oleh tuan-tuan tanah tersebut. Sedangkan beberapa ahli ekonomi lainnya, termasuk Ricardo, mempunyai pendapat yang berbeda.

Ricardo sendiri berpendapat bahwa tingginya harga jagung disebabkan oleh permintaan yang banyak sementara penawarannya kurang mencukupi. Kemudian, harga jagung yang tinggi tersebut menyebabkan para petani harus menanam jagung lebih banyak lagi dan menaikkan permintaan mereka atas tanah, maka sewa tanah bertambah tinggi.

Dengan demikian, bukan sewa tanah yang tinggi yang menyebabkan harga jagung tinggi. Jawaban yang benarnya adalah sebaliknya, yakni: harga jagung yang tinggi menyebabkan sewa tanah yang tinggi.

Para ahli ekonomi di zaman modern ini tidak susah untuk memahami pendapat Ricardo di atas. Analisisnya dipandang sebagai penjelasan yang tepat dalam menerangkan sebab sewa tanah tinggi.

Penentuan Sewa Tanah
Penentuan Sewa Tanah

Dengan menggunakan grafik seperti yang terdapat pada gambar di atas, maka pandangan yang dikemukakan oleh Ricardo dapat dibuktikan dengan mudah. Kurva SS menggambarkan penawaran tanah, dan penawaran tersebut bersifat tidak elastis sempurna karena penawaran tanah tidak dapat ditambah atau dikurangi. Karena sifat penawaran yang seperti itu, besarnya sewa tanah tergantung sepenuhnya pada permintaan atas tanah tersebut (Sukirno, 1994: 373).

Makin tinggi permintaan, makin tinggi pula sewa tanah yang harus dibayar. Sedangkan permintaan atas tanah tergantung pada besarnya permintaan barang-barang yang dapat dihasilkan atas tanah tersebut.

Kembali ke pembicaran mengenai harga jagung, misalkan pada mulanya harga barang tersebut tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Berdasarkan produksi yang harus dicapai pada harga tersebut, keinginan petani untuk menggunakan tanah adalah seperti yang ditunjukkan oleh kurva D0D0. Maka sewa tanah mencapai sebesar R0.

Misalkan secara mendadak, mungkin karena permintaan dari luar negeri yang bertambah besar, harga jagung mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Lebih banyak orang ingin menanam jagung. Maka permintaan atas tanah bergeser menjadi D1D1.

Sebagai akibatnya, sewa tanah naik dari R0 menjadi R1. Sekiranya keadaan yang sebaliknya yang berlaku, yaitu harga jagung sangat merosot, permintaan atas tanah untuk ditanami jagung akan merosot juga.

Katakanlah permintaan terhadap tanah menurun dari D0D0 menjadi D2D2. Akibatnya, sewa tanah akan turun dari R0 menjadi R2. Analisis yang sederhana ini mengukuhkan pandangan Ricardo.

0 Response to "Tanah dan Sewa Ekonomi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel