3 Hal yang Dapat Mempengaruhi Kinerja Organisasi dan Praktik Manajemen

Situs Ekonomi - Perspektif sejarah atas manajemen menunjukkan perspektif atau lingkungan untuk menginterpretasikan peluang dan masalah yang ada. Meskipun demikian, mempelajari sejarah tidak berarti hanya menyusun peristiwa dalam urutan kronologis; tetapi juga mengembangkan pemahaman mengenai pengaruh kekuatan sosial terhadap organisasi (Daft, 2006: 55).

Mempelajari sejarah merupakan cara untuk menggapai pemikiran strategis, melihat gambaran secara besar dan memperbaiki keterampilan konseptual. Di sepanjang pembahasan ini, kita akan mengamati bagaimana kekuatan sosial, politik dan ekonomi dapat mempengaruhi organisasi dan praktik manajemen.

Manajemen dan Organisasi

Kekuatan Sosial

Kekuatan sosial (social forces) mengacu pada aspek-aspek budaya yang menuntun dan memengaruhi hubungan antarorang. Apa yang dihargai oleh orang? Apa yang diperlukan oleh orang? Apa saja standar perilaku antarorang? Kekuatan orang ini membentuk apa yang dikenal sebagai kontrak sosial yang merupakan aturan dan persepsi umum tidak tertulis mengenai hubungan antarorang dan antara karyawan dengan manajemen.

Kekuatan sosial yang signifikan saat ini adalah perubahan sikap, ide dan nilai antara karyawan Generasi X dan Generasi Y. Para karyawan Generasi X, yaitu mereka yang saat ini berumur akhir 20-an dan 30-an, memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap tempat kerja selama dekade terakhir. Akan tetapi, Generasi Y menjanjikan pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Generasi X.

Orang yang lahir di antara tahun 1980 dan 1995, saat ini merupakan 49 persen dari total populasi, dan mereka kebanyakan telah memasuki angkatan kerja. Pekerja muda ini -- yang merupakan generasi paling berpendidikan dalam sejarah Indonesia -- tumbuh besar dengan keterampilan teknologi dan kesadaran global.

Beberapa tren yang dipicu oleh pekerja Generasi X dan Y mengubah bentuk kontrak sosial secara penuh. Siklus hidup karier menjadi semakin pendek, dengan pekerja yang berganti pekerjaan setiap beberapa tahun, dan berganti karier beberapa kali selama masa hidup mereka (Daft, 2006: 56).

Para pekerja muda juga berharap memiliki akses atas teknologi yang paling mutakhir; kesempatan untuk belajar mengejar karier dan tujuan pribadi mereka; kekuatan untuk mengambil keputusan mendasar yang penting; serta perubahan dalam tempat kerja. Akhirnya, muncul fokus terhadap keseimbangan kerja/hidup yang semakin berkembang yang tercermin pada tren seperti telekomuting, waktu fleksibel, pekerjaan bersama dan cuti besar yang didukung oleh organisasi.

Kekuatan Politik

Pengaruh yang sangat kental lainnya adalah kekuatan politik (political forces). Kekuatan yang dimaksud di sini ialah pengaruh institusi politik dan hukum terhadap orang dan organisasi. Kekuatan politik mencakup asumsi dasar dari sistem politik, seperti keinginan untuk mendirikan pemerintahan sendiri, hak milik, kontrak, definisi keadilan dan penentuan bersalah atau tidak terhadap kejahatan.

Menyebarnya kapitalisme ke seluruh dunia telah mengubah secara dramatis kondisi lingkungan bisnis. Dominasi sistem pasar bebas dan meningkatnya ketergantungan antarnegara di dunia menuntut organisasi dan manajer untuk beroperasi dengan cara serta pola pikir yang berbeda dan baru.

Pada saat yang bersamaan, sentimen anti-NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang semakin tumbuh di berbagai daerah menimbulkan tantangan tersendiri bagi perusahaan dan manajer. Adapun kekuatan politik lainnya yang sangat kuat pengaruhnya adalah pemberdayaan warga negara yang bersangkutan.

Kekuasaan semestinya disebarkan ke segala lini kehidupan masyarakat, terutama bagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Masyarakat menuntut pemberdayaan, partisipasi dan tanggung jawab di seluruh bidang kehidupan, termasuk pekerjaan mereka.

Kekuatan Ekonomi

Kemudian adalah pengaruh dari kekuatan ekonomi (economic forces). Kekuatan ini berhubungan dengan ketersediaan produksi dan distribusi sumber daya di dalam masyarakat.

Pemerintah, unit militer, sekolah dan organisasi bisnis di setiap kehidupan masyarakat memerlukan sumber daya untuk mencapai tujuan mereka dan kekuatan ekonomi mempengaruhi alokasi sumber daya yang langka. Perekonomian Indonesia dan negara berkembang lainnya berubah secara dramatis, di mana sumber kemakmuran, fundamental distribusi dan sifat pengambilan keputusan ekonomi mengalami perubahan yang signifikan.

Perekonomian di era globalisasi yang sekarang ini mengharuskan setiap negara untuk bersandar pada ide, informasi dan pengetahuan, bukan sumber daya mentah. Kini, segala rantai pasokan dan distribusi sumber daya telah mengalami revolusi melalui teknologi digital.

Semakin ke mari, tentunya persediaan semakin menurun jumlahnya atau bahkan menghilang sama sekali. Tren ekonomi lainnya adalah semakin pentingnya peranan usaha kecil dan menengah, termasuk perusahaan baru dimulai.

"Saya menyebutnya sebagai 'perekonomian tidak terlihat,' namun ini adalah perekonomian," kata David Birch dari Cognetics Inc., yang merupakan sebuah perusahaan di Cambridge, Massachusetts, yang melacak pembentukan bisnis. Tentu saja, perubahan besar dalam perekonomian bukannya tanpa pergolakan seperti yang kita bahas sejauh ini.

Tahun-tahun dengan pertumbuhan yang kelihatannya tidak dapat dihentikan, tiba-tiba terhenti karena harga-harga saham menurun, khususnya untuk perusahaan dot-com dan teknologi. Daft (2006: 57) mengatakan, "Sejumlah besar perusahaan berbasis internet tutup, serta organisasi di seluruh Amerika Serikat dan Kanada mulai memberhentikan ratusan ribu pekerja." Namun demikian, penurunan ekonomi ini mungkin sekaligus menjadi stimulus untuk inovasi teknologi dan kehidupan usaha tani.

Penutup

Praktik dan perspektif manajemen berbeda-beda terkait dengan kekuatan sosial, politik dan ekonomi dalam masyarakat yang lebih besar. Untuk ke depannya kita akan melanjutkan pembahasan ini secara lebih menyeluruh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel