Ciri-ciri Kepribadian Wirausahawan

Situs Ekonomi - Sejumlah studi telah menyelidiki karakteristik-karakteristik kepribadian dari para wirausahawan dan bagaimana mereka berbeda dari para manajer yang sukses dalam organisasi-organisasi mapan. Daft (2006: 260) mengemukakan bahwa wirausahawan secara umum menghendaki hal berbeda dalam kehidupan dibanding para manajer tradisional.

Karakteristik Wirausahawan
Sumber: Diadaptasi dan Charles R. Kuehl dan Peggy A. Lambing, Small Business: Planning and Management (Ft. Worth: The Dryden Press, 1994), 45.

Para wirausahawan tampaknya menempatkan kepentingan tinggi dalam kebebasan pencapaian dan memaksimumkan potensi mereka. Sejumlah 40 ciri-ciri telah diidentifikasi yang berhubungan dengan kewirausahaan, tetapi terdapat enam darinya yang secara khusus dianggap penting. Karakteristik-karakteristik ini diilustrasikan pada gambar di atas.

Titik Kontrol Internal (Internal Locus of Control)

Tugas-tugas dalam menjalankan sebuah bisnis baru memerlukan kepercayaan bahwa Anda dapat menghasilkan hal-hal seperti yang Anda kehendaki. Seorang wirausahawan tidak hanya mempunyai sebuah visi, tetapi juga harus dapat merencanakan, dan percaya bahwa hal tersebut dapat terealisasi.

Sebuah titik kontrol eksternal (external locus of control) adalah suatu keyakinan bahwa masa depan tidak berada dalam kendali sendiri, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Para wirausahawan adalah individu-individu yang berkeyakinan bahwa mereka dapat membuat perbedaan di antara keberhasilan dan kegagalan. Oleh sebab itu, mereka termotivasi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi mencapai tujuan-tujuan dari pendirian dan perjalanan sebuah bisnis baru.

Tingkat Energi Tinggi (High Energy Level)

Sebuah bisnis yang baru dimulai memerlukan usaha besar. Sebagian besar wirausahawan melaporkan adanya perjuangan dan kesulitan (Daft, 2006: 261).

Mereka bertahan dan bekerja luar biasa keras meskipun mengalami trauma dan rintangan-rintangan. Sebuah survei dari para pemilik bisnis melaporkan bahwa setengah dari mereka bekerja 60 jam atau lebih setiap minggu.

Sedangkan survei lainnya mengatakan bahwa para wirausahawan bekerja dalam jam-jam panjang, tetapi hanya sedikit manfaat yang didapatkan jika lebih dari 70 jam. Apabila kita mengamati hasil survei yang dilakukan oleh Federasi Nasional Bisnis Independen (National Federation of Independent Business), maka kita mendapati hanya 23 persen yang bekerja lebih sedikit dari 50 jam. Hal ini menunjukkan bahwa para pemilik bisnis baru mendekati kerja per minggu normal dari manajer-manajer bisnis mapan.

Kebutuhan Akan Pencapaian (Need to Achieve)

Kualitas manusia lain yang dihubungkan dekat dengan kewirausahaan adalah kebutuhan akan pencapaian, yang berarti bahwa orang-orang termotivasi untuk menjadi unggul dan memilih situasi-situasi di mana keberhasilan dapat tercapai. Orang-orang yang mempunyai kebutuhan akan pencapaian tinggi menyukai untuk menetapkan tujuan mereka sendiri yang mempunyai tingkat kesulitan sedang.

Tujuan-tujuan yang mudah tidak memberikan tantangan, sementara tujuan-tujuan dengan kesulitan yang tidak realistis sulit tercapai. Tujuan-tujuan yang sedang dapat memberi tantangan dan kepuasan besar ketika tercapai. Para pencapai keberhasilan juga senang mengejar tujuan-tujuan di mana mereka mendapatkan umpan balik mengenai keberhasilan.

Kepercayaan Diri (Self-Confidence)

Orang-orang yang memulai dan menjalankan sebuah bisnis harus bertindak tegas. Mereka membutuhkan kepercayaan diri mengenai kemampuan menguasai tugas bisnis sehari-hari.

Mereka harus merasa yakin mengenai kemampuan memenangkan pelanggan, menangani detail-detail teknis, dan memelihara bisnis agar terus berjalan. Para wirausahawan juga mempunyai suatu kepercayaan diri yang umum bahwa mereka dapat mengatasi apa pun di masa depan; masalah-masalah kompleks dan tidak terduga dapat tertangani jika muncul (Daft, 2006: 262).

Kesadaran pada Berlalunya Waktu (Awareness of Passing Time)

Para wirausahawan cenderung tidak sabar, mereka merasakan bahwa keadaan selalu mendesak. Mereka menginginkan hal-hal untuk berkembang dengan segera seperti tidak ada lagi hari esok. Mereka menghendaki hal-hal untuk bergerak secepatnya dan jarang menangguhkannya.

Toleransi pada Ambiguitas (Tolerance for Ambiguity)

Banyak orang membutuhkan situasi-situasi kerja dengan karakteristik struktur yang jelas, instruksi spesifik, dan informasi lengkap. Toleransi pada ambiguitas (tolerance for ambiguity) adalah karakteristik psikologis yang memungkinkan seseorang untuk tidak terganggu oleh kekacauan dan ketidakpastian.

Ini adalah ciri yang penting karena hanya sedikit situasi yang memberikan ketidakpastian lebih besar daripada memulai sebuah bisnis baru. Keputusan-keputusan diambil tanpa adanya pemahaman atas opsi-opsi atau kepastian mengenai opsi yang akan berhasil.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel