Mengelola Krisis dan Peristiwa Tidak Terduga

Situs Ekonomi - Banyak manajer mungkin bermimpi untuk bekerja pada sebuah organisasi dengan kehidupan yang relatif tenang, teratur dan dapat diprediksi. Namun demikian, dunia saat ini ditandai dengan semakin meningkatnya peristiwa yang membingungkan dan ketidakteraturan (Daft, 2006: 36).

Mengelola Krisis

Organisasi menghadapi berbagai tingkatan krisis setiap harinya, mulai dari hilangnya data komputer, tuduhan melakukan diskriminasi rasial, pabrik yang terbakar, atau wabah flu. Namun, krisis organisasi ini semakin sulit apabila berada di tingkat global.

Sebagai contoh, peristiwa-peristiwa yang memengaruhi perusahaan di Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun terakhir: krisis energi di California yang menyebabkan pengambilalihan pasar energi oleh negara bagian secara kasat mata. Kemudian, AS dihantam oleh peristiwa abad ke-21 yang paling menghebohkan dunia hingga saat ini: serangan teroris pada tanggal 11 September 2001 di New York dan Washington yang berdampak pada hancurnya gedung World Trade Center (WTC).

Serangan teroris yang selanjutnya adalah pemboman yang menimpa Afghanistan, berlanjutnya ketidakpastian terhadap aktivitas teroris dan semakin meningkatnya resesi masih terus mempengaruhi perusahaan di seluruh dunia. Selain itu, ketakutan akan bakteri antraks telah mengubah rencana pemasaran dan iklan perusahaan karena mereka mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap surat dari AS.

Daft (2006: 37) mengatakan, "Berkaitan dengan peristiwa tidak terduga yang selalu menjadi bagian dari pekerjaan manajer, dunia kita telah menjadi begitu cepat, saling terkait dan kompleks, sehingga peristiwa tidak terduga terjadi lebih sering, diikuti dampak yang lebih besar dan menyakitkan." Seluruh keterampilan dan kompetensi manajemen baru yang telah dibahas menjadi sangat penting bagi para manajer di lingkungan seperti ini.

Di samping itu, manajemen krisis menjadi kebutuhan yang meningkat, sehingga menambah tuntutan terhadap manajer sekarang ini. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Gubernur California ke-37 Gray Davis, "waktu yang luar biasa memerlukan kepemimpinan yang luar biasa." Beberapa pemikiran terbaru mengenai manajemen krisis menimbulkan pentingnya lima keterampilan kepemimpinan .
  1. Tetap tenang
  2. Tetap terlihat
  3. Memprioritaskan orang sebelum bisnis
  4. Menyampaikan kebenaran
  5. Tahu kapan saatnya untuk kembali berbisnis

Tetap Tenang (Stay Calm)

Emosi seorang pemimpin biasanya menular, sehingga pemimpin harus tetap tenang, fokus dan optimis menghadapi masa depan. Mungkin, bagian yang paling krusial dari pekerjaan seorang manajer dalam situasi krisis adalah menyerap rasa takut.

Pemimpin harus mengendalikan rasa takut dan ragu agar dapat menenangkan orang lain yang ada di sekitarnya. Meskipun mereka menyadari adanya bahaya dan kesulitan, mereka harus tetap tegar dan penuh harapan, sehingga dapat memberikan rasa tenang, inspirasi, serta harapan bagi orang lain.

Tetap Terlihat (Be Visible)

Ketika dunia manusia menjadi ambigu dan tidak pasti, orang memerlukan perasaan adanya seseorang yang memegang kendali. Sebelum terjadinya peristiwa 11 September, George W. Bush dipandang sebagai seorang pemimpin yang tidak memiliki kapabilitas dalam mengatasi krisis. 

Setelah berlangsungnya hari-hari yang mencemaskan tersebut, Presiden AS ke-43 itu mulai dianggap penting keberadaannya sebagai sosok pemimpin yang mempu mengatasi krisis. Maka dari itu, seluruh negara akhirnya praktis berhimpun di belakangnya.

Memprioritaskan Orang Sebelum Bisnis (Put People First Before Business)

Perusahaan yang mengatasi krisis terbaik, apakah krisis besar atau kecil, adalah perusahaan yang memiliki manajer yang dapat membuat orang dan perasaan manusiawi sebagai prioritas utama mereka. Untuk itu, mari kita ambil pelajaran dari seorang manajer puncak Thomson Financial, yang memiliki sekitar 200 karyawan di WTC dan kurang lebih 1.800 orang di tempat lain di pusat Manhattan. Beberapa hari pertama setelah kejadian 11 September, Thomson Financial tidak melakukuan kegiatan bisnis apapun, melainkan berkonsentrasi pada kebutuhan fisik dan emosional para karyawan yang menjadi korban akibat serangan tersebut (Daft, 2006: 38).

Menyampaikan Kebenaran (Tell the Truth)

Manajer harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber, melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan, terbuka dan bersikap apa adanya terhadap hal yang sedang terjadi. Pelajaran selanjutnya yang dapat kita ambil hikmah ialah jatuhnya Enron Corp pada tahun 2001 yang disebabkan oleh tuduhan akan aktivitas tidak etis dan mungkin melanggar hukum. Situasi ini semakin sulit tatkala manajer Enron sendiri menolak untuk berterus terang kepada karyawan dan media.

Tahu Kapan Saatnya untuk Kembali Berbisnis (Know When to Get Back to Business)

Meskipun manajer harus mengedepankan kebutuhan fisik dan emosional orang, mereka juga perlu untuk kembali berbisnis secepat mungkin. Perusahaan harus tetap berjalan, dan kebanyakan orang ingin menjadi bagian dari proses pembangunan kembali, merasa bahwa mereka memiliki rumah di dalam perusahaan dan sesuatu yang dapat diharapkan.

Kebangkitan bisnis merupakan tanda harapan dan inspirasi bagi karyawan. Momen krisis juga menjadi peluang yang baik untuk melihat ke depan dan menggunakan energi emosional yang muncul untuk membangun perusahaan yang lebih baik.

Manajemen krisis merupakan aspek yang krusial dalam pekerjaan setiap manajer, khususnya dalam waktu yang penuh pergolakan seperti saat ini. Oleh karena itu, Sekarang adalah waktu yang menantang bagi siapapun yang ingin bergulat di bidang manajemen.

0 Response to "Mengelola Krisis dan Peristiwa Tidak Terduga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel