4 Masalah Pokok dalam Akuntansi Pabrik

Situs Ekonomi - Perusahaan pabrik (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi, kemudian menjual barang jadi tersebut. Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus dalam akuntansi pabrik terdapat pada unsur persediaan, biaya pabrik, biaya produksi, dan harga pokok produksi (Soemarso, 2002: 270).

Perusahaan Pabrik
Sumber: Pixabay.com

1. Persediaan

Berbeda dengan perusahaan dagang, persediaan dalam perusahaan pabrik biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:

  1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory)
  2. Persediaan dalam proses (work in process)
  3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)
Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahkan, bahan baku itu sendiri -- dikatakan oleh Soemarso (2002: 271) -- adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi.

Sedangkan persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya pabrik lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang baru sebagian selesai. Untuk menyelesaikannya, perusahaan masih memerlukan tambahan biaya.

Lain halnya dengan persediaan barang jadi, di mana jenis yang ketiga ini terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Dengan demikian, sebuah perusahaan pabrik harus menyediakan tiga akun untuk persediaan.

2. Biaya Pabrik

Biaya-biaya yang terjadi dalam pabrik selama suatu periode disebut biaya pabrik (manufacturing cost). Pada dasarnya, biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
  1. Biaya bahan baku (raw materials), yaitu biaya untuk barang-barang yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mabel atau tembakau bagi perusahaan rokok.
  2. Biaya buruh langsung (direct labor) adalah biaya untuk buruh yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasi langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mabel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok.
  3. Biaya pabrikasi (overhead) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan buruh langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasi secara langsung dengan barang yang dihasilkan. Contoh biaya pabrikasi adalah (1) bahan pembantu (kadangkala disebut bahan tidak langsung -- indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut, dan pelitur dalam perusahaan mabel); (2) buruh tidak langsung (indirect labor) yaitu buruh yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan misalnya gaji mandor; (3) pemeliharaan dan perbaikan (maintenance and repair); (4) listrik, air, telepon, dan lain-lain.
3. Biaya Produksi

Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini meliputi persediaan dalam proses awal ditambah biaya pabrik. Termasuk dalam biaya produksi adalah biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode.

4. Harga Pokok Produksi

Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut harga pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan harga pokok produksi. Harga pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode (Soemarso, 2002: 272).

Oleh karena itu, harga pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga pokok produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari harga pokok penjualan (cost of goods sold).

0 Response to "4 Masalah Pokok dalam Akuntansi Pabrik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel