Penjelasan Tentang Surat-surat Berharga

Situs Ekonomi - Surat-surat berharga adalah saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka penanaman sementara untuk memanfaatkan dana selama tidak digunakan. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai penanaman sementara, surat berharga harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Mempunyai pasar, sehingga dapat diperjualbelikan dengan segera.
  2. Pemilikannya dilakukan dengan maksud untuk dijual kembali dalam waktu dekat, apabila terdapat kebutuhan dana untuk kegiatan umum perusahaan.
  3. Pemilikannya dilakukan tidak dengan maksud untuk menguasai perusahaan lain.
Surat-surat berharga dikatakan mempunyai pasar apabila surat berharga tersebut diperdagangkan di bursa efek. Untuk membeli sebuah surat berharga, seseorang cukup menghubungi makelar saham yang ada (Soemarso, 2002: 316).

Makelar saham akan meneruskan permintaan beli ini ke bursa. Demikian juga halnya apabila seseorang hendak menjual saham yang dimiliki. Makelar saham akan meneruskan permintaan jual tersebut ke bursa.

Penting kiranya untuk digarisbawahi bahwa surat-surat berharga yang diperdagangkan di bursa tidak terbatas pada saham saja. Obligasi dan surat-surat berharga yang lain juga diperdagangkan di dalamnya.

Mungkin di antara Anda sekalian bertanya-tanya, bagaimana kita bisa mengetahui informasi harga pasar tersebut? Maka, saya akan menjawab bahwa informasi tentang harga pasar surat-surat berharga dapat diketahui dari waktu ke waktu di bursa efek. Harga pasar ini, pada umumnya dikutip oleh sebagian besar surat kabar di Indonesia.

Kemudian untuk kriteria yang kedua dan ketiga berhubungan dengan tujuan pemilikan. Tujuan dimilikinya surat-surat berharga adalah untuk memutarkan kelebihan dana yang menganggur dan belum waktunya dipakai (Soemarso, 2002: 317).

Daripada disimpan dalam bentuk uang yang tidak menghasilkan apa-apa, maka baiknya kelebihan dana tadi dibelikan surat-surat berharga agar nantinya dijual kembali apabila dananya sudah diperlukan. Jadi, maksud utama dari pemilikan adalah untuk memperoleh tambahan pendapatan, bukan untuk menguasai perusahaan lain. Bila surat-surat berharga yang dimiliki bertujuan untuk menguasai perusahaan lain, maka ini digolongkan ke dalam investasi jangka panjang.

Perolehan

Harga perolehan surat berharga meliputi harga beli dan biaya-biaya lain yang terjadi dalam transaksi, seperti komisi makelar. Anggaplah bahwa pada tanggal 25 April 2019 suatu perusahaan membeli 1.000 lembar saham PT BTA dengan harga Rp4,30 untuk tiap lembar saham.

Komisi makelar yang dibebankan adalah satu persen. Transaksi ini akan dicatat sebagai berikut:

Surat Berharga

Perhitungan harga perolehan surat-surat berharga sebesar Rp4.343 adalah sebagai berikut:

Perhitungan Harga Perolehan

Penjualan

Seperti yang telah dijelaskan di awal pembahasan ini, surat-surat berharga akan dijual kembali apabila perusahaan sudah memerlukan dana. Anggaplah bahwa pada tanggal 26 Juni 2019, saham PT BTA tersebut dijual dengan harga Rp4,50 per lembar.

Untuk penjualan ini dibebani komisi makelar sebesar satu persen. Oleh sebab itu, ayat jurnal yang diperlukan adalah sebagai berikut:

Jurnal Penjualan

Penerimaan kas sebesar Rp4.455 dihitung sebagai berikut:

Penerimaan Kas

Penerimaan Dividen

Sebelum surat-surat berharga dijual, perusahaan menerima dividen maka dividen ini dicatat sebagai pendapatan. Anggaplah bahwa pada tanggal 1 Juni 2019 PT BTA memutuskan untuk memberikan dividen sebesar Rp0,50 untuk setiap lembar. Ayat jurnal yang dibuat untuk penerimaan dividen itu adalah sebagai berikut:

Penerimaan Dividen

Jumlah penerimaan dividen sebesar Rp500 diperoleh dari 1.000 lembar saham yang dimiliki dikalikan dengan dividen per saham yang diterima sebesar Rp0,50.

Jurnal Penyesuaian

Surat-surat berharga dinilai pada harga yang terendah antara harga pokok dan harga pasar (lower of cost or market). Penilaian pada harga terendah antara harga pokok dan harga pasar mengharuskan adanya jurnal penyesuaian jika harga pasar lebih rendah dibandingkan dengan harga pokok (Soemarso, 2002: 318).

Mari kita permisalkan bahwa pada tanggal 31 Desember 2019 harga saham PT BTA di bursa turun menjadi Rp4,10. Hal ini mengindikasikan bahwa apabila saham PT BTA tadi dijual pada tanggal ini, maka hasil yang diperoleh adalah:

Jurnal Penyesuaian

Apabila dibandingkan dengan harga perolehan, angka ini menunjukkan adanya kemungkinan rugi sebesar Rp284. Kemungkinan rugi ini dibebankan pada laba rugi tahun berjalan. Jadi, ayat jurnal yang perlu dibuat (kalau surat berharga tersebut belum dijual) adalah sebagai berikut:

Ayat Jurnal Penyesuaian

Selain langsung dikreditkan ke akun surat-surat berharga, kerugian karena penurunan harga juga dapat dikreditkan ke akun yang diberi nama: Penyisihan untuk penurunan nilai surat berharga. Dengan adanya jurnal penyesuaian ini, surat-surat berharga akan dilaporkan di neraca dengan nilai pasar sebesar Rp4.059.

Apabila pada tanggal neraca harga pasar lebih tinggi daripada harga pokok, maka jurnal penyesuaian seperti di atas tidak perlu dibuat. Namun, di neraca surat-surat berharga tetap dilaporkan pada harga pokoknya (Soemarso, 2002: 319).

Daftar Surat-surat Berharga

Saldo akun surat-surat berharga pada tanggal neraca perlu didukung dengan rincian menurut jenisnya. Rincian ini harus cocok dengan surat-surat berharga yang secara fisik ada di perusahaan. Adapun contoh rincian surat berharga adalah sebagaimana yang terlihat di bawah ini:

PT Maju Mundur
Daftar Surat-surat Berharga
31 Desember 2019
Daftar Surat-surat Berharga

Catatan tentang mutasi untuk tiap-tiap jenis surat berharga di atas perlu diselenggarakan dalam perusahaan. Sementara perolehan, penjualan dan saldo untuk tiap-tiap jenis surat berharga dicatat di dalamnya. Catatan ini dapat dianggap sebagai buku tambahan dari akun surat-surat berharga.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel