Matematika Versus Nonmatematika Ekonomi


Matematika Versus Nonmatematika Ekonomi

Situs Ekonomi - Karena matematika ekonomi hanya merupakan pendekatan dalam analisis ekonomi, maka secara mendasar tidak berbeda dari pendekatan nonmatematika dalam analisis ekonomi apa pun. Tujuan setiap analisis teoretis, tanpa memperhatikan pendekatannya, selalu untuk menghasilkan berbagai kesimpulan atau dalil dari suatu kelompok asumsi tertentu atau menerimanya sebagai dalil melalui proses pemikiran (Chiang, 2005: 2).

Perbedaan utama antara "matematika ekonomi" dan "nonmatematika ekonomi" adalah: Pertama, dalam matematika ekonomi, asumsi dan kesimpulan dinyatakan dalam simbol-simbol matematis bukan kata-kata dan dalam persamaan-persamaan bukan kalimat-kalimat. Kedua, sebagai pengganti logika matematik, banyak digunakan dalil-dalil matematis dalam suatu proses pembahasan.

Karena sebenarnya simbol-simbol dan kata-kata adalah sama (biasanya, simbol didefinisikan dalam kata-kata), maka mudah untuk memilih salah satu di antaranya. Namun, mungkin tidak perlu dipersoalkan lagi bahwa simbol lebih tepat dipergunakan dalam pembahasan dedukatif, dan tentu saja lebih ringkas, sehingga pernyataan tersebut menjadi lebih tepat.

Sekali lagi, pilihan antara logika nonmatematika dan logika matematika bukan merupakan persoalan yang penting, namun matematika mempunyai keuntungan karena dapat memaksa para analis untuk membuat asumsi-asumsi secara jelas di setiap pembahasan. Hal ini dikarenakan dalil-dalil matematis biasanya dinyatakan dalam bentuk "jika-maka", sehingga dalam rangka mendapatkan bagian "maka", para peneliti harus yakin bahwa bagian "jika" telah secara jelas memenuhi asumsi-asumsi yang diambil.

Timbul pertanyaan, mengapa kita harus meninggalkan metode ilmu ukur. Jawabannya adalah analisis ilmu ukur memang selain mempunyai manfaat penting dalam penggambaran, tetapi juga memiliki kelemahan karena keterbatasan dimensi.

Sebagai contoh, dalam pembahasan kurva "indiferens", diasumsikan secara umum bahwa hanya ada dua barang yang tersedia untuk konsumen. Penyederhanaan asumsi seperti ini sukar diterima, tetapi dipaksakan kepada kita karena menggambar grafik tiga dimensi sangatlah sulit dan pembentukan grafik empat dimensi (atau lebih) sebenarnya tidak mungkin (Chiang, 2005: 3).

Bila mendapatkan kasus yang lebih umum seperti 3, 4, atau n barang, kita harus kembali pada alat persamaan yang lebih fleksibel. Alasan-alasan inilah yang mendorong kita untuk mempelajari metode matematis dan bukan ilmu ukur. Singkatnya, pendekatan matematis mempunyai beberapa keunggulan:
  1. "Bahasa" yang digunakan lebih ringkas dan tepat.
  2. Kaya akan dalil-dalil matematis, sehingga mempermudah pemakaiannya.
  3. Mendorong kita untuk menyatakan asumsi-asumsi secara jelas sebagai suatu prasyarat untuk menggunakan dalil-dalil matematis, agar terhindar dari asumsi-asumsi implisit yang tidak diinginkan.
  4. Memungkinkan kita untuk menyelesaikan kasus dengan n variable.

Terkadang, kita mendengar kritik-kritik yang menentang keunggulan ini bahwa teori matematis yang diperoleh merupakan sesuatu yang tidak realistis (unrealistic). Tetapi, kritik ini tidaklah benar.

Apakah menggunakan pendekatan matematis atau tidak, kenyataannya perkataan "tidak realistis", tidaklah tepat digunakan untuk mengkritik teori ekonomi secara umum. Teori adalah suatu gejala alami yang merupakan pemindahan dari dunia nyata.

Teori merupakan alat untuk memisahkan beberapa faktor paling penting dan melihat hubungan di antaranya, sehingga kita dapat mempelajari masalah utama tersebut, terlepas dari masalah rumit yang timbul dalam dunia nyata. Jadi, pernyataan bahwa "teori tidak realistis" merupakan kenyataan yang tidak dapat diterima sebagai suatu kritik yang benar terhadap teori.

Oleh karena itu, secara logis tidak ada artinya mempersoalkan pendekatan manapun terhadap teori adalah "tidak realistis". Misalnya, teori mengenai perusahaan dalam keadaan persaingan sempurna adalah tidak realistis, ini merupakan hal yang tidak penting untuk diketahui apakah teori tersebut diperoleh secara matematis atau tidak.

Untuk mengambil manfaat dari kekayaan alat-alat matematika, tentu saja kita harus menguasai alat-alat tersebut terlebih dahulu. Sayangnya, alat yang diamati oleh ilmu ekonomi tersebar luas di antara mata kuliah matematika -- terlalu banyak untuk dapat dimasukkan ke rencana studi seorang mahasiswa ekonomi pada umumnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel