14 Prinsip Dasar Perusahaan

14 Prinsip Dasar Perusahaan

Situsekonomi.com - Untuk membentuk sebuah perusahaan yang solid, setiap perusahaan harus mempunyai landasan yang berupa prinsip-prinsip dasar yang akan membimbing arah perusahaan di masa depan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Prinsip dasar berfungsi sebagai platform sehingga perusahaan dalam perkembangannya ke depan selalu berada dalam track yang benar yang telah disepakati sejak awal berdirinya. Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar perusahaan yang dimaksud:

1. Dewan Pendiri Berhak dan Bertanggung Jawab Penuh

Dewan Pendiri memiliki hak penuh untuk menentukan arah, bentuk perusahaan, memilih pengelola serta bertanggung jawab penuh atas perusahaan. Tanggung jawab Dewan Pendiri adalah otentik, dibuktikan dengan tindakan yang riil terhadap perusahaan, artinya tidak sekedar tanda tangan di atas akte pendirian perusahaan semata.

2. Dewan Pendiri Menentukan Pengembangan Perusahaan

Pengembangan perusahaan dan penanaman modal (investasi) dalam bentuk saham dimungkinkan dengan persetujuan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Dewan Pendiri setelah perusahaan dianggap mandiri dan kokoh berdiri di atas platform-nya. Kerjasama investasi ditentukan oleh policy Dewan Pendiri sesuai dengan persentase kepemilikannya di perusahaan yang berupa saham.

3. Didukung Hanya Oleh SDM yang Handal

Perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang didukung oleh SDM yang qualified dan capable. Untuk mewujudkan itu, setiap perusahaan harus megadakan seleksi yang ketat dalam recruitment dan penentuan posisi/jabatan.

Setiap orang yang terlibat dalam perusahaan yang bersangkutan 'dipaksa' untuk mengeluarkan kemampuan dan inisiatif yang lebih (ekstra) untuk bisa tetap survive di perusahaan tersebut. Dengan cara seperti ini, maka dalam rentang waktu tertentu perusahaan akan mendapatkan SDM yang terbaik dan leluasa bergerak karena kerampingannya.

4. Stake Holder Berhak Menikmati Keuntungan Perusahaan

Stake holder (pihak yang berkepentingan pada perusahaan), dalam hal ini dikerucutkan menjadi tiga bagian terpenting: Pemegang Saham, Tim Manajerial dan Staf.
  • Pemegang Saham mendapatkan dividen tahunan atas persentase jumlah saham yang dimilikinya.
  • Tim Manajerial mendapatkan bonus tahunan jika berhasil mencapai target perusahaan yang ditentukan Pemegang Saham.
  • Staf perusahaan mendapatkan bonus dalam rentang waktu yang ditentukan (triwulan) jika berhasil mencapai target perusahaan yang ditentukan Tim Manajerial.

5. Menetapkan Standar Gaji di Atas Rata-rata

Sebagai imbangan atas tuntutan kemampuan yang tinggi, salary (gaji) sebagai hak setiap pekerja ditetapkan sesuai dengan kapasitas pekerjaan (sedikit lebih tinggi dari standar salary rata-rata regional). Ini merupakan hal yang wajar saja jika semakin keras seseorang bekerja, ia memperoleh imbalan yang makin besar juga (dalam bentuk bonus). 

Penentuan gaji pokok lebih baik tidak terlalu besar, sementara kompensasi yang lebih besar akan disalurkan dalam bentuk bonus. Pekerja yang kinerjanya baik/berkembang dalam jangka waktu tertentu (yang ditetapkan oleh Dewan Pendiri dan/atau Pemegang Saham) akan mendapatkan opsi pembelian saham.

Jadi, para staf tidak bekerja buat orang lain, tapi buat dirinya sendiri. Dengan opsi ini, maka loyalitas yang tinggi akan ditanamkan.

6. Manajer Adalah Pelayan, Bukan Penguasa

Manajerial bertugas mengatur hal-hal tentang kelangsungan perusahaan, prosedur dan sebagainya. Manajerial bukan pihak yang berkuasa alias atasan dalam perusahaan, melainkan pemimpin sekaligus pelayan yang menyalurkan aspirasi seluruh elemen perusahaan ke arah yang benar. Manajer bertugas memberdayakan SDM, bukannya menjadi orang yang hanya main perintah.

7. Team Work, Bukan One Man Show

Perusahaan tidak mungkin berkembang jika terus tergantung pada kemampuan perorangan, seberapapun hebatnya dia. Ketergantungan akan menciptakan sikap sok kuasa dan otoriter. Setiap perusahaan harus menyiapkan aturan main yang mengutamakan teamwork dan kemampuan bekerjasama serta menciptakan network yang efektif untuk meminimalisir keterbatasan-keterbatasan kemampuan individu, wilayah operasional dan target perusahaan ke depan.

8. Prosedur untuk Mempermudah, Bukan Mempersulit

Seluruh komponen perusahaan menjalankan prosedur tertentu sebagai alur kerja untuk menciptakan efektifitas, efisiensi dan sistem kontrol. Perbaikan prosedur akan terus dilaksanakan dengan mempertimbangkan situasi/kasus riil dan masukan dari stake holder.

9. Manajemen Terbuka dan Bottom Up

Manajemen mengelola perusahaan dengan cara terbuka (open management), seperti membuka akses informasi perusahaan kepada staf sesuai level dan kewenangannya sebagai proses empowerment. Manajemen wajib memperhatikan setiap saran, kritikan atau masukan dari seluruh komponen dan mempertimbangkan segala keputusan serta mempergunakan kewenangan yang dimilikinya untuk memperjuangkan kepentingan mayoritas stake holder.

Selain itu, manajerial juga harus aktif berproses secara bottom up dan bukan top down. Dengan begitu, maka konsekuensinya adalah SDM di bawahnya harus aktif memberikan input dan feedback ke manajerial.

10. Staf Creative Digaji Lebih Tinggi

Ketentuan gaji untuk Staf Kreatif adalah sedikit lebih tinggi dari departemen lainnya. Departemen lain adalah support bagi Departemen Kreatif. Jika sebuah perusahaan memiliki selling point pada bidang tertentu, maka SDM dengan special abilities di bidang tersebut akan dihargai lebih tinggi untuk mendorong munculnya kapabilitas maksimal mereka.

11. Manajerial Teknis untuk Mewadahi Staf Ahli Kreatif

Untuk mempertahankan SDM yang expert di bidang kreatif, perusahaan yang bersangkutan harus mengatur jenjang karier manajerial teknis, selain manajerial umum yang selalu ada di setiap perusahaan. Tidak semua orang memiliki minat dan kemampuan manajerial makro (keseluruhan). Penempatan para spesialis yang terus meningkat kemampuannya di bidang teknis sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan kualitas output.

12. Penentuan Jenjang Karier yang Objektif

Sistem jenjang karier ditetapkan secara objektif berdasarkan kinerja, profesionalisme dan loyalitas. Bukan sekedar atas pertimbangan gelar akademis, senioritas atau periode waktu semata. Jika kinerja dan kapabilitas seseorang terus meningkat, maka sewajarnya ia mendapatkan kenaikan jenjang kariernya.

13. Menerapkan Sistem Demokratis, Transparan dan Visioner

Dalam pengelolaan dan kelangsungan proses perusahaan, pendekatan yang dikedepankan adalah demokratisasi, keadilan, transparansi, tanggung jawab dan visi yang jauh ke depan. Untuk meningkatkan akselerasi, perusahaan diarahkan untuk selalu ekspansif dan menciptakan peluang baru terus-menerus dengan pertimbangan yang rasional dan matang. Hanya dengan itu kemajuan bisa didapatkan dan sejarah bisa diciptakan.

14. Menciptakan Fokus dalam Bidang Usaha

Sejak awal ditentukan bahwa bidang usaha yang dilaksanakan (misalnya) adalah bisnis yang berbasis ide atau kreativitas. Pengembangan di luar bidang tersebut (apalagi atas dasar pertimbangan keuntungan jangka pendek semata), sejauh mungkin harus dihindari.

Misalkan suatu perusahaan memiliki brand yang kuat di bidang kreatif dan ini tidak boleh digunakan di tempat yang salah, misalnya berkembang menjadi perusahaan real estate, mebel dan semacamnya. Brand yang kuat adalah penting, tapi pengelolaan brand untuk menciptakan kepercayaan publik dan perkembangan perusahaan ke depan adalah jauh lebih penting. Hanya perusahaan yang berfokus (terspesialisasi) yang mampu bertahan di era global.

BACA JUGA:

Sebelum saya mengakhiri pembahasan ini, sedikit saya mengingatkan Anda bahwa prinsip itu sangat penting, apalagi jika ditujukan untuk kepentingan masa depan perusahaan. Tanpa prinsip, perusahan Anda akan kehilangan arah nantinya, sehingga ciri khas perusahaan Anda itu terkesan tidak ada. Untuk itu, buatlah prinsip-prinsip tersebut secara tegas agar perusahaan yang Anda idamkan dapat berdiri dengan gagahnya.

Posting Komentar untuk "14 Prinsip Dasar Perusahaan"