Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

5 Tahap Strategi Visual Branding

5 Tahap Strategi Visual Branding

Visual branding tidak hanya marak akhir-akhir ini saja. Bangsa Mesir telah melakukannya 3.000 tahun sebelum Masehi dengan menulis lambang-lambang pada tempat minum mereka yang terbuat dari tanah liat (Budiman, 2008).

Sampai hari ini, trilliunan dolar dikeluarkan untuk proses pemasaran dan promosi yang dikenal sebagai visual branding. Lalu, ada jabatan yang namanya Brand Manager. Bahkan, telah muncul agency yang khusus didirikan untuk menangani brand semata, seperti Inkara Design dan Petakumpet.

Untuk harga desain satu logo korporat dan aplikasinya bisa mencapai milyaran rupiah. Zaman terus berubah sesuai dengan hukum supply and demand. Marty Neumeier dalam bukunya The Brand Gap membeberkan strategi visual branding menjadi lima tahap, yaitu:

1. Differensiasi

Untuk berhasil, sebuah produk harus mempunyai pembeda yang unik dengan produk lain. Pembeda tersebut bisa berasal dari kategori produknya sendiri, segmentasi, kualitas, atau packaging-nya. Al Ries mempunyai konsep jadilah yang pertama dalam kategori tertentu.


2. Kolaborasi

Brand building tidak bisa dikerjakan semuanya oleh produsen. Ini harus dipahami karena beberapa produsen menganggap pekerjaan menangani brand adalah sangat mudah, sehingga mereka memilih merekrut beberapa orang sebagai inhouse designer untuk menghemat.

Akibatnya, brand mereka tidak pernah bisa menjadi top of mind. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dengan agency, institusi terkait, dan juga dengan konsumen sendiri sebagai target market. Konsumen juga harus didengarkan pendapatnya, tidak sekedar dijejali promosi terus-menerus yang pada gilirannya menimbulkan antipati.

3. Inovasi

Brand yang tidak diremajakan dan direvitalisasi akan lenyap ditelan waktu. Konsumen juga punya sifat bosan, sehingga harus disegarkan pandangan dan ingatannya. Anda sering melihat A Mild mengganti tema kampanyenya tiap tahun secara kontinyu, sehingga konsumen tidak apatis.

Satu hal penting yang harus diketahui, yaitu perubahan yang dilakukan harus sistematis dan tetap menjaga benang merah komunikasinya. Jika Anda perhatikan dengan teliti, selalu ada tagline "Bukan Basa-Basi" di iklan A Mild.


4. Evaluasi

Tingkat penerimaan target audiens atas sebuah brand harus dilacak dan diketahui. Biasanya, survey dilakukan untuk mendapatkan tingkat akseptabilitas (penerimaan) khalayak. Akan lebih baik jika hasil evaluasi ini bisa digunakan sebagai bahan bagi produsen dan agency untuk menentukan strategi branding tahap berikutnya.

5. Manajemen Brand

Brand tidak hidup di lembar-lembar iklan atau bersuara di iklan radio, melainkan ia hidup di otak dan hati konsumennya serta juga di budaya perusahaan produsennya. Brand harus tetap hidup dan bergerak seiring zamannya agar tidak terlindas kerasnya kompetisi.

Coca Cola menjadi contoh bagus bahwa brand bisa bertahan dari generasi ke generasi, bahkan mencapai nilai yang lebih besar dari aset perusahaan Coca Cola keseluruhan. Itulah the power of visual branding.

Demikianlah ulasan tentang 5 tahap strategi visual branding. Visual branding ini dapat diartikan sebagai suatu pengaruh yang diakibatkan oleh suatu bentuk visual untuk membedakan antara mana brand milik sendiri dan brand milik kompetitor.