8 Definisi Penting Seputar Trading Frekuensi Tinggi

8 Definisi Penting Seputar Trading Frekuensi Tinggi

Situsekonomi.com - Trading frekuensi tinggi adalah istilah yang saat ini mencakup berbagai strategi yang hanya memiliki sedikit karakter yang sama. Ada banyak informasi (atau informasi keliru menurut sebagian kalangan) mengenai trading frekuensi tinggi yang penting untuk diketahui (Perez, 17: 2012).

1. Program Trading (Trading Program)

Trading program adalah istilah generik untuk menjelaskan sebuah tipe perdagangan dalam sekuritas, biasanya terdiri atas sekelompok saham. Trading ini secara longgar didefinisikan sebagai transaksi elektronik yang melibatkan 15 saham atau lebih dengan akumulasi nilai paling sedikit $1 juta.

Tiga faktor yang dapat menjelaskan ledakan program trading. Pertama, kecanggihan teknologi melahirkan pertumbuhan jaringan komunikasi elektronik (electronic communication networks -- ECN).

Bursa-bursa elektronik ini, seperti Instinet (belakangan diserap oleh Nasdaq OMX) dan Archipelago (belakangan diserap oleh NYSE Euronext), memungkinkan ribuan order beli dan jual dilakukan dengan sangat cepat tanpa campur tangan manusia. Kedua, SEC mengamanatkan pada tahun 2001 agar bursa saham besar menetapkan harga saham dalam dolar dan sen, bukan dalam pecahan.

Saham yang sebelumnya dihargai 71/8 kini terdaftar dengan harga $7,13. Penetapan harga saham dalam porsi sen bukan porsi 1/16 menghasilkan 100 poin harga dalam satu dolar, bukan delapan poin harga seperti sebelumnya.

Ini artinya, semua pembeli dan penjual yang berminat mendapat sebaran harga yang lebih banyak, membuat kian sulit bagi mereka untuk bertemu pada suatu harga. Yang terakhir, mungkin yang paling signifikan, proliferasi hedge funds dengan segala strategi trading mereka yang rumit meningkatkan volume program trading.

2. Quantitative Trading (Trading Kuantitatif)

Trading kuantitatif merujuk pada strategi-strategi berdasarkan analisis kuantitatif, yakni mengandalkan komputasi matematika dan angka untuk mengidentifikasi peluang trading. Harga dan volume adalah dua dari input data yang lebih umum yang dipergunakan dalam analisis kuantitatif sebagai input utama dalam model matematika.

Karena trading kuantitatif secara umum digunakan oleh institusi keuangan dan hedge funds, transaksi biasanya dalam jumlah besar dan bisa melibatkan pembelian atau penjualan ratusan ribu saham serta sekuritas lainnya. Namun, trading kuantitatif juga lazim digunakan oleh investor perorangan.

Teknik-teknik quantitative trading melibatkan trading frekuensi tinggi, trading algoritma, dan arbitrase statistik (statistic arbitrage). Banyak investor perorangan yang lebih familiar dengan perangkat kuantitatif seperti moving average (rata-rata harga sekuritas dalam periode waktu tertentu yang dihitung secara terus-menerus) dan oscillator (suatu model untuk menemukan harga di mana suatu sekuritas memiliki harga yang terlalu tinggi dan terlalu rendah).

3. Algorithmic Trading (Trading Algoritma)

Trading algoritma adalah trading yang menggunakan seperangkat aturan untuk memuluskan eksekusi perdagangan. Trading algoritma melibatkan pemecahan suatu perdagangan ke dalam sejumlah order guna mengurangi visibilitas dan dampak pasar, tetapi keputusan untuk melakukan perdagangan utama mungkin tidak terjadi secara otomatis.

Seorang fund manager mungkin memutuskan saham tertentu terlihat menarik berdasarkan analisis fundamental yang dia lakukan dan kemudian menginstruksikan bagian meja trading untuk membeli blok saham. Trader di meja trading mungkin sekali menggunakan algoritma eksekusi perdagangan untuk memuluskan penempatan perdagangan ini.

4. Automatic Trading (Trading Otomatis)

Trading otomatis melibatkan seperangkat aturan (satu contoh sederhana adalah sepasang moving average dengan durasi berbeda bersinggungan) yang apabila puas, secara otomatis memicu penempatan suatu order. Perdagangan otomatis sangatlah sederhana dan dalam jumlah kecil dapat ditempatkan secara langsung ke dalam pasar.

Sementara perdagangan yang lebih susbtansial dapat diserahkan kepada algoritma eksekusi untuk penempatan dalam potongan-potongan order kecil sedemikian rupa, sehingga mengurangi dampak pasar, dan lain-lain. Secara singkat, model otomatis menentukan apakah menempatkan suatu perdagangan, sementara model algoritma menentukan bagaimana melakukan penempatan.

5. Proprietary Trading (Trading Hak Milik)

Trading hak milik merujuk pada praktik yang dilakukan oleh bank, perusahaan pialang, dan institusi finansial lainnya dengan melakukan perdagangan untuk diri mereka sendiri, bukan atas nama pelanggan. Secara singkatnya, dalam trading hak milik (proprietary atau prop), meja trading menggunakan modal atau neraca bank itu sendiri untuk melakukan transaksi pada berbagai instrumen, yang seringkali untuk tujuan spekulasi.

Instrumen-instrumen tersebut bisa berupa saham biasa atau obligasi yang bisa diperdagangkan di bursa, tetapi sering kali derivatif -- entah exchange traded (perdagangan secara langsung antara dua belah pihak) atau foreks. Ada juga proprietary trading murni di mana trader melakukan perdagangan untuk keuntungan bank itu sendiri, tidak terkait dengan bisnis klien mereka.

Trader di sini secara umum "terpisah" dari bagian lain bank dan hanya menghasilkan sebagian dari penerimaan total perdagangan. Praktik ini sangat dibatasi di Amerika Serikat melalui aturan Volcker, sebuah ketentuan dalam undang-undang perubahan finansial Dodd-Frank yang bertujuan untuk membatasi kemampuan bank untuk mengambil risiko dengan modal mereka sendiri.

6. Flow Business

Jenis trading lain yang dilakukan oleh bank adalah untuk membantu klien melaksanakan perdagangan, di mana meja trading akan menggunakan modal bank itu sendiri untuk membentuk pasar pada suatu instrumen tertentu, menawarkan diri sebagai pembeli kepada klien yang ingin menjual atau seorang penjual kepada seorang klien yang ingin membeli. Hal ini dikenal dengan flow business.

Ini bukan trading spekulatif oleh bank. Namun, pada level tertentu, perdagangan ini membahayakan modal bank itu sendiri, kadang-kadang dengan cara signifikan seolah-olah bank itu melakukan prop trading spekulatif sendiri.

7. Statistical Arbitrage (Arbitrase Statistik)

Arbitrase statistik, atau StatArb, berlawanan dengan arbitrase (deterministik) terkait dengan mispricing statistik dari satu atau lebih aset berdasarkan nilai yang diharapkan dari aset-aset ini. Misalnya, pikiran permainan di mana seseorang melempar koin dan mendapatkan $1 untuk kepala dan membayar $50 sen untuk ekor.

Dalam satu lemparan, tidak ada kepastian apakah seseorang akan menang atau kalah. Akan tetapi, dari segi statistik, ada nilai harapan (expected value) sebesar $1 × 50% - $0,50 × 50% = $0,25 untuk setiap lemparan.

Berdasarkan hukum angka-angka besar, penghasilan rata-rata dari lemparan aktual akan mendekati angka yang diharapkan ini ketika jumlah lemparan semakin banyak. Ini persis seperti cara bagaimana kasino juga mendapatkan keuntungan. Dengan kata lain, statistical arbitrage menduga-duga mispricing statistik atau relasi harga yang diharapkan benar dalam jangka panjang ketika mengulang suatu strategi trading.

Sebagai suatu strategi trading, statistical arbitrage merupakan pendekatan yang sangat kuantitatif dan komputasional terhadap perdagangan ekuitas. Strategi ini menjelaskan sejumlah sistem trading otomatis yang lazimnya menggunakan teknik-teknik penggalian data, metode statistik, dan inteligensi artifisial.

Salah satu strategi terkenal adalah trading berpasangan (pairs trading), di mana saham ditempatkan secara berpasangan berdasarkan kesamaan fundamental dan pasar. Ketika salah satu saham pasangan tersebut berkinerja lebih baik daripada yang lainnya, saham yang berkinerja lebih buruk bought long (dibeli dan ditahan untuk jangka waktu tertentu) dengan ekspektasi bahwa saham tersebut akan naik menuju ke pasangannya yang lebih baik; sedangkan yang lainnya sold short (dijual ketika harganya diperkirakan masih tinggi). Strategi ini mengurangi risiko dari pergerakan pasar secara keseluruhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada tren menjauh dari trading berpasangan sederhana, dan kini lebih lazim portofolio saham di-cluster-kan berdasarkan sektor dan kawasan dalam mengimbangi eksposur beta. Setelah portofolio dikonstruksi dengan cara seperti itu, biasanya dioptimalkan dengan menggunakan model-model risiko seperti Barra/APT/EMA/Northfield untuk menghambat atau mengilangkan berbagai faktor risiko.

8. Ultra-High-Frequency Trading (Trading Frekuensi Ultra Tinggi)

Menurut Rishi Narang dari Telesis Capital, ini merupakan subkategori dari trading frekuensi tinggi yang sangat sensitif pada latency hingga milidetik dan mikrodetik. "Kebanyakan obrolan di luar sana saat ini adalah tentang trading frekuensi ultra tinggi, manakala kolokasi menjadi sangat penting dan memangkas milidetik juga penting," katanya.

BACA JUGA:

Itulah pembahasan kita tentang delapan definisi penting seputar trading frekuensi tinggi. Meskipun trading frekuensi tinggi baru dikenal oleh masyarakat umum belakangan ini, praktik penggunaan trading terkomputerisasi telah berjalan selama beberapa dasawarsa.

Belum ada Komentar untuk "8 Definisi Penting Seputar Trading Frekuensi Tinggi"

Posting Komentar

Komentar yang sesuai dengan topik lebih disenangi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel