Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa yang Membuat Trading Frekuensi Tinggi Kontroversial?

Apa yang Membuat Trading Frekuensi Tinggi Kontroversial?

Situsekonomi.com - Theakston jelas telah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan reputasi trading frekuensi tinggi di dunia finansial. Dia memiliki bakat untuk menganalisis dan menjelaskan situasi secara singkat tapi jelas. Kata dia, semua orang menginginkan kambing hitam dan trading frekuensi tinggi memiliki semua atribut yang dibutuhkan untuk menjadi kambing hitam yang sempurna:
  • Trading frekuensi tinggi sulit dipahami, atau setidaknya butuh sedikit usaha untuk mengerti (bahkan investor institusional profesional pun kesulitan memahaminya).
  • Trading frekuensi tinggi cukup eksklusif. Perusahaan-perusahaan terkait, entah tidak termotivasi untuk berbicara mengenai apa yang mereka lakukan (karena mereka perusahaan trading modal sendiri dan tidak perlu menarik modal dari luar) atau tidak diperbolehkan (karena mereka hedge fund dan mempunyai hambatan regulasi untuk memasarkan diri mereka sendiri). Eksklusivitasnya kian diteguhkan oleh fakta bahwa sebagian besar peserta individual memiliki kualifikasi pendidikan yang sangat tinggi, sebagian besar bergelar Ph.D.
  • Trading frekuensi tinggi diasosiasikan dengan angka dolar dalam jumlah besar (meskipun lebih merupakan omzet bukan keuntungan).
  • Trading frekuensi tinggi memiliki banyak istilah yang dikaitkan dengannya yang terdengar aneh dan membingungkan bagi yang tidak berpengalaman: "microsecond (mikrodetik)," "collocate (kolokasi)," "momentum ignition (trader mengambil posisi dan memulai rumor atau menempatkan order untuk dengan cepat mengarahkan pasar ke bawah atau ke atas)," "quote stuffing (sejumlah besar order di-place dan dengan segera dibatalkan)," "temporal arbitrage (arbitrase sementara)," dan lain-lain.
  • Sebagian orang yang cerdas, berpengetahuan, dan pertanyaannya sering dikutip mengkritik keras trading frekuensi tinggi, termasuk di antaranya adalah Paul Wilmott dan Richard Bookstaber. Wilmott, editor jurnal keuangan kuantitatif miliknya sendiri, mengkritik trader frekuensi tinggi yang mencoba menebak berapa harga dalam beberapa mikrodetik berikutnya, dengan mengatakan bahwa industri tersebut harusnya peduli pada apa itu nilai.
  • Trading frekuensi tinggi cenderung menjadi faktor yang berkontribusi (atau, langkahnya mematikan mesin merupakan faktor yang berkontribusi) terhadap peristiwa-peristiwa yang bisa dilihat oleh publik, seperti flash crash.

"Flash crash" tanggal 6 Mei 2010 benar-benar mengekspos sejumlah miskonsepsi mengenai industri ini, yang terbesar adalah klaim bahwa trader frekuensi agak "memanfaatkan" para investor lain. Bagi Theakston, itu semua bohong, karena trader frekuensi tinggi sebenarnya dibayar, dalam sebuah pasar yang sangat kompetitif, untuk menyediakan jasa bagi investor lain (pelayanannya adalah likuiditas segera).

Dia berpendapat, media dan publik tidak menyadari bahwa ini adalah situasi kompetitif di mana penghasilan sesuai risiko yang tidak normal ini diperebutkan oleh sejumlah besar peserta pasar. Media tidak mampu memahami hal ini pada hampir semua konteks karena cerita "perusahaan yang rakus memanfaatkan konsumen yang tidak berdosa" sudah terlalu umum, katanya (Perez, 167: 2012).

Mereka juga tidak paham jumlah infrastruktur intelektual dan teknologi yang dibutuhkan untuk terlibat dalam trading frekuensi tinggi dan dengan demikian berpikir bahwa trader frekuensi mendapatkan "makan siang gratis". Fakta sebenarnya, mereka mengambil jatah makan siang satu sama lain dalam suatu perebutan mati-matian yang ultra kompetitif dan berakhir dengan sejumlah besar dari mereka tidak bisa menutup biaya tetapnya dan keluar dari bisnis, meninggalkan sangat sedikit pemain yang sangat kompetitif yang hanya menghasilkan keuntungan normal. Beginilah seyogyanya pasar kompetitif bekerja dan inilah yang semestinya diinginkan oleh investor institusional/ritel.

Ada risiko jelas bahwa regulator yang terlalu bersemangat akan membunuh industri ini. Contoh paling ekstrem di antaranya pajak Tobin, yang akan mengembalikan lanskap likuiditas untuk sebagian besar aset ke tahun 1960-an.

Aksi sembarang bermotif politik lebih mungkin dalam bentuk seperti waktu istirahat minimum untuk order (di mana Anda harus membiarkan order di luar setidaknya selama satu detik, misalnya), tetapi tidak dapat dipungkiri, aturan semacam ini akan diterapkan secara negara demi negara, sehingga trader frekuensi tinggi hanya akan memilih untuk menyediakan likuiditas di mana aturan-aturannya masuk akal. Lingkungan regulasi dengan sikap yang lebih laissez-faire (pasar bebas) terhadap trader frekuensi tinggi hasilnya akan mendapatkan pasar yang lebih likuid.

Semua kontroversi seputar trading frekuensi tinggi adalah pengalih perhatian sempurna, tidak ada masalah fundamental sama sekali. Theakston menyarankan kepada regulator agar jangan lakukan apa pun.

Dia sangat tidak sepakat bahwa perubahan regulasi dibutuhkan. Struktur pasar adalah sesuatu yang berevolusi, dan pada tahap awal evolusinya, akan ada beragam masalah.

Penyediaan likuiditas yang diwajibkan dari sistem spesialis berevolusi selama lebih dari 100 tahun menjadi sistem yang sangat kuat tetapi sangat lambat dan mahal. Sistem yang telah menggantikannya, bursa di mana semua orang bebas bersaing dan trader frekuensi tinggi, telah hadir selama hampir satu dasawarsa.

Segala peristiwa yang terjadi, seperti flash crash justru memperkuat struktur pasar dengan mengubah perilaku peserta. Pasar pada level tertentu menyembuhkan dirinya sendiri.

Sebagai contoh, untuk menghindari terulangnya flash crash, trader ritel kini memberikan batas harga pada perintah stop-loss mereka, ECN (electronic communications networks) akan lebih cepat untuk memotong pengiriman ke tempat lain yang mereka curiga mempunyai isu-isu seperti itu, dan orang-orang akan memastikan bahwa order algoritma futura mereka dikonfigurasikan dengan tepat karena jika tidak, mereka akan kehilangan uang, dan akan diambil dari mereka dan diberikan kepada peserta yang lebih berhati-hati. Inilah mekanisme yang membuat pasar-pasar kompetitif menjadi sistem yang lebih kuat dan lebih adil.

Sekadar informasi untuk Anda saja, sebagian tindakan bursa dan regulator pada hari flash crash justru membuat situasi menjadi kian buruk di masa mendatang dengan menghadirkan cacat moral. Dengan menghantam sebagian trader secara retroaktif, mereka telah memberi dorongan kepada trader frekuensi tinggi dan peserta lain untuk tidak menyediakan likuiditas ketika likuiditas sedang sangat dibutuhkan.

Jika melakukan hal ini, ada risiko salah satu kaki trading dihantam dan meninggalkan sisa buat mereka, mungkin pada posisi loss-making. Ini adalah tipikal reaksi otomatis. Hal terbaik yang seharusnya bisa dilakukan oleh bursa dan ECN untuk memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi adalah membiarkan semua trading.

BACA JUGA:

Ini lebih mengapresiasi dan bukan menghukum mereka yang masuk ke dalam lubang dan menyediakan likuiditas ketika likuiditas paling dibutuhkan. Setelah mengatakan itu semua, Theakston berpikir tidak ada ruginya mengimplementasikan semacam suspensi volatilitas ala Eropa selama suspensi tersebut tidak mengasumsikan bahwa sebagian venue adalah venue 'utama' dan menyisipkan keuntungan wajib mereka dalam buku aturan.

Posting Komentar untuk "Apa yang Membuat Trading Frekuensi Tinggi Kontroversial?"