Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Persepsi Kultural Trading Frekuensi Tinggi

Persepsi Kultural Trading Frekuensi Tinggi

Situsekonomi.com - Persepsi bisa menjadi realitas jika saja flash crash tidak terjadi dan trader frekuensi tinggi tidak terpaksa meninggalkan komputer mereka dan menonton CNBC. Lebovitz mengakui bahwa secara historis industri ini merahasiakan aktivitas-aktivitasnya karena berbagai alasan (Perez, 76: 2012).

Di antaranya adalah untuk melindungi hak intelektual, tetapi juga terkait dengan kerusakan kreatif yang dipercepat oleh revolusi teknologi. Beberapa pemain industri yang mapan dan sangat kuat melihat trading frekuensi tinggi sebagai ancaman terhadap saluran distribusi mereka atau terhadap kemampuan meja trading mereka untuk mendapatkan bayaran dari menyediakan likuiditas.

Hal tersebut mendorong disinsentif bagi para trader frekuensi tinggi untuk mengiklankan keberadaan mereka. Kata Lebovitz: "Sudah sangat jelas, kurangnya informasi di luar sana mengenai aktivitas dan kontribusi trader frekuensi tinggi, pada gilirannya memicu munculnya informasi keliru akibat kekosongan informasi. Sebagai praktisi, kami memiliki tanggung jawab untuk mengubah itu."

Lebovitz berpendapat kekeliruan konsepsi terbesar mengenai industri ini adalah bahwa trading frekuensi tinggi merupakan jenis perdagangan baru. Bagi dia, sebagian besar trading frekuensi tinggi hanya mengotomatiskan tugas-tugas rutin yang selama dasawarsa dilakukan oleh trader.

Miskonsepsi terbesar kedua adalah bahwa trading frekuensi tinggi artinya menghasilkan uang dengan mengorbankan pemakai terakhir. Pada kenyataannya, kata Lebovitz, trading frekuensi tinggi terkait dengan berinovasi menggunakan teknologi untuk mengurangi friksi pasar: "Ketika Wal Mart menyampaikan bagaimana menggunakan teknologi untuk meningkatkan logistik dan mengurangi biaya, siapa yang diuntungkan? Pelanggan. Siapa yang tidak untung? Sears, Kmart, toko-toko lain yang berupaya melakukan hal yang sama tetapi dengan struktur biaya yang lebih tinggi. Analogi ini tidak sempurna, tapi Anda tahu maksudnya."

Bagi Lebovitz, risiko terbesar terkait pertumbuhan trading frekuensi tinggi sama dengan risiko yang selalu dihadapi oleh industri trading. Dalam ketergesaan mereka masuk ke dalam ruang baru seperti trading frekuensi tinggi, beberapa perusahaan menjadi ceroboh sehingga gagal memahami dan gagal mempersiapkan diri terhadap konsekuensi ketika algoritma mereka menjadi kacau.

BACA JUGA:

"Hal besar dalam hal ini adalah kami keluar terlebih dahulu ketika sesuatu terjadi," jelas Lebovitz mengenai pengamatannya. Banyak dari orang-orang tercerdas dalam industri ini dan di Washington menyerang isu-isu ini, dan sementara pemikiran-pemikiran yang tidak biasa telah mengambang, kita berputar-putar pada pengembangan praktik-praktik terbaik dan pengendalian pengaturan industri yang akan meminimalisir risiko masalah yang terjadi dan dampak dari permasalahan yang memang terjadi. Bahaya terbesar saat ini adalah kita menciptakan lingkungan regulasi yang menempatkan terlalu banyak kekakuan pada aktivitas trading yang sah dan mendorong kenaikan biaya investor ritel dan institusional.

Posting Komentar untuk "Persepsi Kultural Trading Frekuensi Tinggi"