Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Etika Kerja Menurut Para Ahli

Etika Kerja Menurut Para Ahli

Situsekonomi.com - Etika kerja merupakan rumusan penerapan nilai-nilai etika yang berlaku di lingkungannya, dengan tujuan untuk mengatur tatakrama aktivitas karyawannya agar mencapai tingkat efisiensi dan produktivitas yang maksimal. Etika perusahaan menyangkut hubungan perusahaan dan karyawannya sebagai satu kesatuan dalam lingkungannya, etika kerja menyangkut hubungan kerja antara perusahaan dan karyawannya, dan etika perorangan mengatur hubungan antarkaryawan (Sunyoto, 160: 2016).

Menurut AB. Susanto dikutip Erni R. Ernawan (2007) terdapat tiga faktor utama yang memungkinkan terciptanya iklim etika dalam perusahaan, yaitu:
  • Terciptanya budaya perusahaan secara baik;
  • Terbangunnya suatu kondisi organisasi berdasarkan saling percaya;
  • Terbentuknya manajemen hubungan antarpegawai.

Dengan menggunakan etika bisnis sebagai dasar berperilaku dalam bekerja, baik digunakan oleh manajemen maupun oleh semua anggota organisasi, maka perusahaan akan mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki kesehatan moral dan mental, mempunyai semangat dalam meningkatkan kualitas kerja di segala bidang, mampu beradaptasi dan memiliki kreativitas tinggi, ulet dan pantang menyerah, serta berorientasi pada produktivitas kerja (Putri, 161: 2016).

Menurut Erni R. Ernawan (2007), untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan adanya pemberdayaan karyawan seoptimal mungkin, dengan menciptakan lingkungan kerja di mana orang-orang merasa dihargai. Pemberdayaan karyawan yang terintegrasi dengan etika bisnis diharapkan akan menimbulkan rasa percaya antara manajer dengan karyawan atau atasan dan bawahan, setiap karyawan akan melakukan setiap pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab dan jujur karena sudah berpatok dengan kode etik yang telah ditetapkan perusahaan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lee dan Yoshihara (1997) dikutip Erni R. Ernawan (2007), bahwa terdapat tiga alasan yang mendorong mereka melakukan tindakan tidak etis dalam dunia bisnis, walaupun bertentangan dengan nilai pribadinya, yaitu: 1) Untuk mencapai keuntungan perusahaan; 2) Sudah berlaku umum di masyarakat; dan 3) Karena keinginan atasan.

Menurut Dave Ulrich (1996) dikutip Erni R. Ernawan (2007), bahwa terdapat empat aspek untuk meraih keunggulan yang harus dilakukan oleh sumber daya manusia, yaitu:
  • Strategic partner (bagaimana manajemen mengelola sumber daya manusia sehingga dapat menjadi mitra);
  • Administrative expert (bagaimana manajemen menciptakan efisiensi administrasi);
  • Employee champion (bagaimana manajemen dapat meningkatkan kontribusi karyawan);
  • Agent of Change (bagaimana manajemen mendorong karyawannya untuk berubah).

Cara untuk membangun lingkungan etis adalah dengan memulainya di tahap puncak, para atasan harus mengatur pola, menandakan bahwa tingkah laku etis akan mendapat dukungan dan tingkah laku tidak etis tidak akan ditoleransi. Para manajer yang mempunyai kedudukan atau posisi yang memungkinkan mereka untuk dapat mendidik, membina dan memengaruhi banyak orang dalam perusahaan atau organisasi, sehingga top management mempunyai tanggung jawab atas pengambilan keputusan dan implementasinya. Top management memegang peran kunci untuk membentuk perilaku berbisnis karyawan yang berorientasikan pada etika bisnis.

Keberhasilan manajemen dalam pemberdayaan karyawan sangat ditentukan oleh kesadaran para karyawan terhadap perlunya nilai-nilai kebenaran dan moral (nilai-nilai etika sebagai landasan berperilaku dalam berbisnis). Pemberdayaan karyawan yang didasarkan pada etika bisnis merupakan langkah strategis untuk pengurangan biaya dalam jangka panjang karena semua pekerjaan dilakukan berdasarkan pada standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dan masing-masing karyawan sadar akan tanggung jawab yang diembannya.

BACA JUGA:
Kesimpulan

Dari sini, setidaknya semua sadar akan pentingnya penerapan etika dalam berbisnis. Secara umum, ada beberapa cara yang dapat ditempuh manajemen untuk meningkatkan moral tenaga kerja (Erni R. Ernawan, 1997), yaitu:
  • Memberikan kompensasi atau imbalan kepada tenaga kerja dalam porsi yang wajar dengan tidak memaksakan kemampuan perusahaan;
  • Menciptakan kondisi kerja yang aman dan menyenangkan;
  • Meningkatkan spiritual pekerja;
  • Memerhatikan masa depan pekerja termasuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya;
  • Mengomunikasikan segala informasi secara jujur dan terbuka dengan pekerja.

Itulah pembahasan kita mengenai etika kerja menurut para ahli. Semoga yang sedikit ini bermanfaat buat kita semua. Jangan lupa nantikan terus informasi dari kami karena kami akan selalu mengulas informasi seputar ekonomi dan bisnis yang tentunya kalian pasti suka!

Posting Komentar untuk "Etika Kerja Menurut Para Ahli"