Nilai Kejujuran dalam Meraih Keuntungan

Nilai Kejujuran dalam Meraih Keuntungan

Situsekonomi.com - Dalam paham kapitalisme, keuntungan materi adalah segala-galanya dalam berbisnis, apa pun yang dilakukan selalu diarahkan pada peningkatan keuntungan, tidak mengenal halal atau haramnya proses yang dilalui yang penting menghasilkan keuntungan. Sementara dalam pandangan Islam, keuntungan materi merupakan dambaan tetapi bukan segala-galanya, proses produksi harus dalam bingkai kejujuran dan kehalalan (ADESY, 2016: 95).

Keuntungan materi hanyalah salah satu bagian dari keuntungan yang lebih besar. Keuntungan dalam pandangan Islam bukan hanya keuntungan materi tetapi meliputi keuntungan karena telah mengikuti norma, etika dan moral, keuntungan karena bertambah teman, kesenangan melihat orang lain senang, semakin dekatnya hubungan dengan Sang Pemberi Rezeki, dan masih banyak lagi jenis keuntungan.

Dalam kisah Yunus bin Ubid menjual berbagai macam pakaian. Ada jenis pakian yang berharga 400 dirham dan ada juga yang berharga 200 dirham. Ketika akan pergi ke masjid untuk shalat, Yunus meminta anak pamannya untuk menjaga tokonya (Qardhawi, 2000: 181).

Pada saat tokonya dititipkan itu, datang seorang Badui yang ingin membeli pakaian. Oleh anak tersebut, ditunjukkan pakaian yang berharga 200 dirham yang ternyata diminati oleh pembeli, sehingga ia pun membayar dan pergi.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Yunus. Yunus mengetahui persis bahwa pakaian yang dipegang oleh Badui tersebut adalah jenis pakaian yang dijual di tokonya. Ia pun bertanya, berapa kamu belikan? Badui menjawab 400 dirham.

Kata Yunus, 'harga pakaian ini tidak lebih dari 200 dirham. Mari kembali ke toko dan kukembalikan kelebihan uangmu'. Badui pun berkomentar 'di kampung kami harga pakaian semacam ini 500 dirham dan saya sudah rela dengan harga 400 dirham'.

Yunus berkata, 'mari kembali! kejujuran lebih baik daripada dunia dan segala isinya'. Lalu mereka kembali ke toko dan Yunus mengembalikan uang sejumlah 200 dirham kepadanya. Adapun anak tersebut dimarahi dan dinasihati oleh Yunus.

Ia berkata, 'tidakkah kamu malu dan takut kepada Allah? Kamu untung sebanyak harga barang tetapi meninggalkan kejujuran untuk kaum muslimin'. Anak itu berkata, 'demi Allah! ia rela dengan harga itu'. Jawab Yunus, 'apakah kamu rela atasnya sebagaimana kamu rela atas dirimu'.

Implementasi kejujuran dalam penjualan produk diutarakan juga oleh Bu Umi, panggilan akrab Ibu Umi Wahidah, pemilik sekaligus pemimpin Kedai Assalamu'alaikum di Malang yang tidak menaikkan harga jual atau menurunkan ukuran produk yang dijual, meskipun harga bahan bakunya sudah naik. Hal ini dilakukan karena dia menjunjung tinggi kejujuran dalam penetapan harga. Selanjutnya dia mengatakan:

Pernah suatu ketika harga ayam potong sangat mahal sementara kami tetap harus menjual, pilihannya ada dua jika keuntungan dipertahankan dengan sebelumnya, yaitu menaikkan harga jual atau mengurangi ukurannya. Kami tidak memilih salah satu dari alternatif tersebut tetapi kami tetap bertahan dengan ukuran dan harga yang sama dengan sebelumnya. Meskipun kami naikkan harganya, pelanggan bisa mengerti tetapi kami tidak mau melakukan itu, yang penting kami tidak rugi.

Hasil dari kebijakan pimpinan kedai ini menyebabkan pengunjung semakin bertambah bukan hanya pada saat harga bahan baku meningkat tetapi juga setelah harga bahan baku stabil ke harga semula. Bahkan pengunjungnya sudah variatif, kalau sebelumnya lebih banyak mahasiswa tetapi sekarang (pertengahan bulan tahun 2009) sudah mulai banyak masyarakat umum yang berkunjung, khususnya pada hari libur (Alimuddin, 2011: 106).

Perlakuan yang semestinya diterima pelanggan perlu dipertahankan bahkan jika memungkinkan semakin ditingkatkan agar energi balik positif akan lebih besar. Bukan sebaliknya, dengan mengurangi kualitas atau ukuran dari produk yang dijual atau menyerahkan barang yang rusak akan mendatangkan juga energi balik negatif yang lebih besar.

Perbuatan negatif bisa saja dalam jangka pendek meningkatkan keuntungan tetapi dalam jangka panjang akan terjadi kerugian atau musibah yang lebih besar. Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan besarnya keuntungan berdasarkan nilai kejujuran tidak ada aturan bakunya, tergantung mekanisme pasar yang terjadi.

BACA JUGA:

Namun demikian, tidak berarti penjual seenaknya menaikkan harga, khususnya jika terjadi kenaikan permintaan. Bahkan, pada tingkat pemahaman yang lebih dalam, penjual hanya bisa menaikkan harga jualnya jika biaya masukannya mengalami kenaikan. Dengan demikian, perubahan harga jual hanya bisa dilakukan pada produk baru.

Belum ada Komentar untuk "Nilai Kejujuran dalam Meraih Keuntungan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel