Menggapai Kemaslahatan Melalui Penerapan Nilai-nilai Islam dalam Bisnis

Menggapai Kemaslahatan Melalui Penerapan Nilai-nilai Islam dalam Bisnis

Situsekonomi.com - Pada dasarnya, hakikat penciptaan umat manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah dan sebagai khalifah Allah serta untuk memakmurkan bumi. Adapun rezeki yang didapatkan untuk menjalankan tugas telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta (QS Al-An'aam [6]: 59). Oleh karena itu, manusia semestinya meniru sifat-sifat Tuhannya dan bekerja optimal sesuai tuntunan-Nya.

Berbisnis dengan memahami implementasi nilai-nilai Islam akan menghasilkan berbagai kemanfaatan/kinerja kemaslahatan yang tidak akan dicapai melalui bisnis yang menerapkan nilai-nilai konvensional. Adapun kinerja yang dapat dicapai antara lain sebagai berikut:

1. Small is Beautiful

Konsep harga jual yang menerapkan kekonsistenan menjalankan niat yang telah diikrarkan mendorong setiap perusahaan untuk menikmati keuntungan yang telah ditetapkan meskipun peluang untuk meningkatkan harga jual per unit memungkinkan. Konsekuensinya, perusahaan tersebut akan dikenang dan dipromosikan oleh pelanggan kepada calon pelanggan lainnya bahwa perusahaan tersebut tidak mudah mengubah harga jual meskipun harga di sekitarnya telah mengalami kenaikan. Dalam pandangan Purnamasari dan Triyuwono (2011), kenangan dan promosi yang dilakukan pelanggan seperti ini digolongkan sebagai laba kenangan.

Dengan demikian, meskipun keuntungan yang kecil per unit akan berdampak pada keuntungan yang lebih besar secara keseluruhan. Di samping itu, kepercayaan yang besar dari pelanggan akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan pelanggan dan kekal sehingga berdampak pada perolehan keuntungan yang berkesinambungan dan semakin bertambah (multiplier effect).

2. No Barrier to Entry

Di dalam penerapan nilai kejujuran, tidak ada manfaatnya membeli barang dagang yang berlebih. Pengadaan persediaan yang melimpah tidak akan berdampak pada kenaikan harga jual atau keuntungan.

Dengan demikian, menjalankan kegiatan bisnis tidak perlu membutuhkan modal yang relatif besar. Konsekuensinya, setiap orang yang memiliki modal meskipun relatif kecil dapat mendirikan usaha tanpa ada perasaan takut akan dipermainkan oleh pengusaha yang memiliki modal yang relatif besar (ADESY, 2016: 106).

Akibatnya, aktivitas perdagangan menjadi lebih terbuka bagi siapa saja yang berkeinginan tanpa harus dibatasi oleh kepemilikan modal yang besar. Kesempatan kerja pun akan terbuka luas sehingga dapat mengurangi atau memangkas habis pengangguran. Pemerataan pendapatan pun akan tercipta dan kesejahteraan masyarakat akan semakin merata serta hubungan kemasyarakatan akan semakin harmonis.

3. Efisiensi

Dalam manajemen modern, efisiensi pengelolaan usaha menjadi persyaratan mutlak menghadapi persaingan yang semakin ketat. Pada pasar yang semakin terbuka, harga jual atas suatu produk adalah given (berlaku umum) sehingga untuk meningkatkan keuntungan, efisiensi pengelolaan usaha menjadi alternatif yang paling memungkinkan untuk dilakukan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan persediaan adalah menerapkan just in time (JIT). Penerapan nilai kejujuran mendorong setiap pengusaha untuk menghindari penumpukan persediaan karena tidak memberikan kemanfaatan yang berarti. Penumpukan persediaan akan memacu kenaikan pengeluaran non-value added, berupa investasi, yaitu penambahan ruang atau gedung untuk menampung persediaan (gudang) dan kenaikan kebutuhan modal kerja untuk membiayai persediaan, tenaga kerja, penerangan, asuransi, dan administrasi.

Penyiapan persediaan yang tidak berlebih akan mendorong pemanfaatan dana yang lebih produktif pada usaha lain. Akibatnya akan tercipta peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

4. Mengurangi Risiko

Setiap pengusaha akan senantiasa mengurangi risiko dalam berusaha agar tingkat kepastian dapat diprediksi dan keuntungan dapat ditingkatkan. Penyediaan persediaan yang tidak berlebih akan mengurangi risiko kerusakan, kehilangan, dan penurunan nilai persediaan sehingga dapat mengakibatkan kenaikan keuntungan atau kenaikan kekayaan materi.

Penerapan nilai kejujuran mencegah terjadi penumpukan persediaan yang berlebih karena penumpukan persediaan menyebabkan ketidakproduktifan kekayaan. Penumpukan persediaan bertentangan dengan ajaran agama ini yang menghendaki produktivitas kekayaan. Dengan demikian,  penerapan nilai-nilai Islam ini akan mengurangi tingkat risiko di dalam berusaha, khususnya risiko pengelolaan persediaan dan menghindari perbuatan tercela (ADESY, 2016: 107).

5. Hidup Tawadhu

Hidup dalam kesetaraan akan menghindari pemaksaan kehendak pihak tertentu, khususnya mereka yang hidup bergelimang harta untuk memenuhi keinginannya. Sementara yang lain tidak berdaya dan terpaksa harus memenuhi kemauan mereka guna memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun terkadang bertentangan dengan norma-norma etika dan agama.

Mendapatkan keuntungan sesuai kebutuhan akan mendorong mereka yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa merasa mendapat bantuan secara langsung. Setiap umat manusia tidak ada yang diagungkan -- yang bisa menjerumuskan ke penyembahan kepada sesama umat dan tidak ada umat yang direndahkan martabatnya -- yang bisa memunculkan sifat kesombongan. Akibatnya tercipta kehidupan yang lebih rendah diri dan hanya mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

6. Hidup Tenteram

Setiap makhluk yang diciptakan memiliki hak untuk hidup. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki kelebihan harta sangat dianjurkan untuk membantu orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama bagi mereka yang tidak mampu. Bagaikan orang tua yang berkewajiban memberi nafkah kepada anak-anaknya tanpa mengharapkan imbalan.

Kondisi demikian akan menciptakan hubungan yang harmonis, baik di dalam keluarga maupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Semua akan hidup tenteram dalam bingkai kasih sayang. Penerapan nilai-nilai Islam dalam bisnis akan tercipta kehidupan harmonis dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tidak ada lagi seorang umat manusia yang kelaparan, tidak ada lagi yang berjalan tanpa pakaian, hidup di bawah kolong jembatan, tidak tahu berhitung dan membaca, dan sakit yang diakibatkan ketidakmampuan membayar.

7. Percaya, Bukan Curiga

Kebiasaan mencurigai merupakan perbuatan yang bukan hanya menyiksa diri sendiri tetapi juga bisa menimbulkan ketidakharmonisan hubungan dengan sesama umat. Sebaliknya, mempercayai orang lain akan membangkitkan ketenangan batin dan menjalin hubungan persaudaraan yang lebih akrab dan rukun.

Kepercayaan merupakan fitrah umat manusia dan watak alam semesta. Seorang ibu sangat mempercayai bayinya yang sedang menangis sebagai tanda dia membutuhkan makanan. Demikian juga alam, matahari bersinar sebagai tanda panas, tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen di siang hari dan menarik/menghirup oksigen di malam hari. Semua berlaku jujur untuk bisa bertahan hidup (ADESY, 2016: 108).

Penerapan nilai-nilai Islam dalam bisnis mendorong setiap pelaku bisnis untuk saling mempercayai. Penjual akan berlaku jujur atas spesifikasi produk yang dihasilkan dan percaya kepada pernyataan saudaranya. Sementara pembeli akan berlaku jujur mengungkapkan kemampuan ekonominya jika mereka berkeinginan mendapatkan pengurangan harga dari harga yang berlaku umum dan percaya atas kualifikasi produk yang ditawarkan saudaranya.

8. Mengatasi Masalah, Menggapai Keberkahan

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok akan berdampak pada rendahnya kualitas kehidupan, pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Di pihak lain, terdapat sebagian umat manusia yang hidup bergelimang harta benda tetapi merasa kehidupannya belum tenteram dan bahkan masih merasa serba kekurangan dengan hasil yang diperoleh selama ini.

Meskipun disadari juga bahwa sebagian dari mereka yang mampu secara ekonomi berusaha membantu sesamanya tetapi terkadang malah menciptakan ketergantungan. Penerapan nilai-nilai ukhuwwah Islam dalam bisnis akan menjembatani kedua pihak tersebut dengan cara menetapkan harga sesuai kemampuan pembeli. Bagi mereka yang mampu akan membayar sesuai dengan harga yang berlaku umum, sedangkan bagi mereka yang kurang mampu disesuaikan dengan kondisi ekonominya.

Dengan demikian, akan tercipta hubungan kasih sayang yang memacu terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Bagi yang kurang mampu, akan merasakan terpenuhinya kebutuhan hidup mereka sehingga memudahkan untuk melaksanakan peribadatan dengan baik dan berkesinambungan.

BACA JUGA:

Bagi penjual, akan mendapatkan pengobatan batin dengan merasakan kenikmatan menolong sesama. Raut muka pembeli akan memancarkan sinar kesenangan dan kebahagiaan menerima perlakuan tersebut akan menembus masuk ke dalam lubuk sanubari sang penjual sehingga tercipta suasana kedamaian dan kebahagiaan yang sulit dibeli dengan harta benda. Tentunya penentuan harga ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan kemalasan berusaha dan ketergantungan, tetapi semata-mata dilandasi rasa kasih sayang.

Belum ada Komentar untuk "Menggapai Kemaslahatan Melalui Penerapan Nilai-nilai Islam dalam Bisnis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel