Pemimpin dalam Konsep Islam

Pemimpin dalam Konsep Islam

Situsekonomi.com - Pemimpin dalam konsep (manhaj) Islam merupakan hal yang sangat final dan fundamental. Pemimpin menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam. Kecakapan dalam memimpin mengarahkan umatnya pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan umat dengan iringan ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Pemimpin adalah "leader" yang artinya bergerak lebih awal di depan. Manusia mempelajari, mengarahkan pikiran, pendapat, tindakan orang lain ke arah yang dikehendakinya karena pengaruh kepemimpinannya (Hassanudin, 1982: 28).

Pemimpin menjadi salah satu pilar penting dalam upaya kebangkitan umat Islam yang telah dikenal memiliki manhajul hayat (konsep hidup) paling teratur dan sempurna dibandingkan konsep-konsep buatan dan olahan hasil rekayasa dan imajinasi otak manusia, telah menunjukkan nilainya yang universal dan dinamis. Dalam Islam, eksistensi kepemimpinan memiliki landasan syar'i dan 'aqli (Ahmad, 2011: 12). Allah berfirman:
Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa (QS Al-Furqan [25]: 74).

Demikian pula firman Allah di QS An-Nisaa (4): 59:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa' [4]: 59).

Seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang memiliki kredibilitas artinya ia dipercaya, dan memiliki tingkah laku yang terpuji. Manusia juga memiliki pengetahuan yang luas sehingga mampu menghadapi setiap problema yang ada, dan mampu memecahkan masalah yang menghadang.

Dengan kata lain, seorang pemimpin harus memiliki kepribadian yang baik, yang dapat diteladani oleh masyarakat sekitarnya atau orang yang dipimpinnya/bawahannya. Kepemimpinan seorang pemimpin/pimpinan sangat tergantung pada kepribadian sang pemimpin/pimpinan itu sendiri.

Pengalaman dan tingkat pendidikan yang dimiliki tidak lebih daripada sebagai pelengkap/penunjang belaka. Kepribadian seseorang menduduki peranan penting dalam banyak hal. Lebih-lebih kalau orang itu memangku jabatan sebagai pemimpin atau pimpinan. Karena kepribadian seseorang banyak pengaruhnya terhadap kebijaksanaan dalam menunaikan tugasnya sebagai pemimpin atau pimpinan.

Pengangkatan manusia sebagai khalifah di muka bumi tiada lain tiada bukan hanya untuk menjalankan dan menegakkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Di muka bumi Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sempurna dan komprehensif (ADESY, 2016: 116).

Tugas manusia sebagai khalifah sangatlah mulia karena menegakkan tiang agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebuah tugas yang tidak dapat dianggap remeh mengingat kemaslahatan yang dapat menimbulkannya hingga beberapa generasi mendatang.

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang sangat terkenal: "setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya". Hadis Abdullah bin Umar Radhiallahu'anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya".

Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Sementara wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang hal mereka itu.

Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.

Terdapat pula sebuah hadis yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan di antara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Secara 'aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan rusak dan porak poranda.

Kepemimpinan dalam konsep Al-Qur'an disebutkan dengan istilah Imamah, pemimpin dengan istilah imam. Al-Qur'an mengaitkan kepemimpinan dengan hidayah dan pemberian petunjuk pada kebenaran.

Seorang pemimpin tidak boleh melakukan kezaliman dalam segala tingkat. Kezaliman dalam keilmuan dan perbuatan, kezaliman dalam mengambil keputusan dan aplikasinya. Seorang pemimpin  harus mengetahui keadaan umatnya, merasakan langsung penderitaan mereka. Seorang pemimpin harus melebihi umatnya dalam segala hal, keilmuan dan perbuatan, pengabdian dan ibadah, keberanian dan keutamaan, sifat dan perilaku, dan lainnya.

Perbedaan signifikan antara kepemimpinan konvensional dan kepemimpinan dalam Islam adalah adanya unsur keagamaan, moral, serta keteladanan. Pemimpin dalam Islam akan senantiasa merasa takut akan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga pemimpin Islam akan berhati-hati dalam mengambil keputusan serta dalam melakukan kegiatannya selalu meneladani kepemimpinan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

Teladan-teladan yang diberikan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam merupakan model kepemimpinan yang dapat dijadikan oleh seluruh Muslim sebagai patokan dalam memimpin. Metode-metode tersebut terbukti berhasil menjadikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam sebagai pemimpin yang dikagumi sepanjang masa.

Ahmad (2007) menuliskan pula bahwa "kualitas kepemimpinan dapat dilihat dari empat faktor yang diambil dari kepemimpinan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, yakni sabar (sabr), eloquence (fasah), enterprise (iqdam), dan leniency (lin). Kombinasi keempat faktor tersebut akan menjadikan seorang pemimpin menjadi unggul tidak hanya pada kecerdasan intelektual namun pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya. Pemimpin inilah yang diharapkan mampu mengarahkan bawahannya untuk senantiasa menegakkan nilai-nilai islami dan bersama-sama mencapai kesuksesan duniawi dan akhirat.

Pengertian kepemimpinan dalam perspektif Islam menurut Nawawi dibagi menjadi dua, yaitu pengertian spiritual Islam dan pengertian empiris. Kepemimpinan menurut pengertian spiritual Islam adalah kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, baik dilakukan secara bersama-sama maupun perseorangan, dengan kata lain kepemimpinan adalah kemampuan mewujudkan semua kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah diberitahukan-Nya melalui Rasul-Nya Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Ada istilah yang mengarah kepada pengertian pemimpin, antara lain:
  1. Umara atau Ulil Amri yang berarti pemimpin negara/pemerintahan
  2. Amirul Ummah yang bermakna pemimpin umat
  3. Al-Qiyadah yang berarti ketua atau pemimpin kelompok
  4. Al-Masauliyah yang bermakna penanggung jawab
  5. Khadimul Ummah yang berarti pelayan umat.

Kepemimpinan menurut pengertian empiris adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan suatu masyarakat sebagai usaha mewujudkan kebersamaan (sosialitas). Dengan demikian, dapat didefinisikan sebagai berikut:

1). Dalam kepemimpinan selalu berhadapan dua belah pihak. Pihak pertama disebut pemimpin dan pihak lainnya adalah orang-orang yang dipimpin. Jumlah pemimpin tentunya lebih sedikit daripada yang dipimpin. Kepemimpinan merupakan gejala sosial yang berlangsung sebagai interaksi antarmanusia di dalam kelompoknya, baik berupa kelompok besar yang melibatkan banyak orang, maupun kelompok kecil dengan jumlah orang yang terlibat di dalamnya sedikit.

2). Kepemimpinan sebagai perihal memimpin berisi kegiatan menuntun, membimbing, memandu menunjukkan jalan, mengepalai dan melatih agar orang-orang yang dipimpin dapat mengerjakan sendiri. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang mempraktikkan nilai-nilai ajaran Islam dalam mengelola suatu organisasi, seperti sifat amanah (dapat dipercaya), 'adl (keadilan), syura' (musyawarah) dan lain sebagainya (Tasmara, 1995). Adapun paradigma kepemimpinan dalam Islam terdiri dari dua bagian, yaitu:
  • Paradigma legal formalistik, yaitu kepemimpinan yang dilakukan oleh orang Muslim, asas-asas yang digunakan juga Islam, simbol-simbol yang dipakai juga mencerminkan Islam. Hal ini terlepas apakah caranya dalam memimpin itu berpegang pada prinsip-prinsip dasar keislaman atau tidak.
  • Paradigma esensial substansial, yaitu kepemimpinan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai Islam yang dipraktikkan dalam mengelola sebuah organisasi, seperti menjaga sifat amanah, kejujuran, keadilan, musyawarah, keikhlasan, tanggung jawab, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan tanpa melihat apakah orang-orang yang terlibat di dalamnya Muslim atau non Muslim.

BACA JUGA:
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan amanah dan tanggung jawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpinnya saja tetapi juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam QS Al-Mu'minun (23): 8-11.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel