Perdagangan di Masa Rasulullah

Perdagangan di Masa Rasulullah

Situsekonomi.com - Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam diutus Allah Subhanahu Wa Ta'ala ke dunia untuk menyampaikan risalah Islam sebagai pegangan hidup dan solusi dalam setiap permasalahan kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari (mu'alajah musykilah). Namun demikian, Nabi Muhammad juga mengajarkan perdagangan dan cara berbisnis yang halal dan barakah sebagai salah satu bentuk ajaran dari Islam. Beliau bersabda dalam salah satu hadisnya yang berbunyi:
Aku diberi wahyu bukan untuk menumpuk kekayaan atau menjadi seorang pedagang

Nabi Muhammad sangat menganjurkan kepada umatnya untuk berbisnis (berdagang) karena dapat menumbuhkan jiwa kemandirian dan kesejahteraan bagi keluarga dan meringankan beban orang lain. Beliau bersabda bahwa:
Berdaganglah kamu, sebab dari sepuluh bagian kehidupan, sembilan di antaranya dihasilkan dari berdagang

Dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa:
Dan kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan. (QS An-Naba' [78]: 11).

Ini merupakan petunjuk bagi umat manusia untuk berdagang agar seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Pada Al-Qur'an juga terdapat anjuran untuk berbisnis, yaitu:
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumu'ah [62]: 10)
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS Al-Baqarah [2]: 275)

Para sahabat Nabi Muhammad melakukan perdagangan walaupun diri mereka juga harus menjadi khalifah atau pemimpin perang. Beberapa contohnya adalah Abu Bakar merupakan khalifah pertama dari khulafa Al-Rasyidin.

Abu Bakar memiliki usaha dagang bahan pakaian. Umar ibn Khattab merupakan pedagang jagung serta menjadi pemimpin kaum beriman dan penakhluk kekaisaran Persia dan Byzantium. Utsman ibn Affan dikenal sebagai konglomerat tekstil dan pakaian. Demikian juga dengan Imam Abu Hanifa dikenal sebagai pedagang pakaian.

Perjalanan bisnis Nabi Muhammad dilakukan sejak beliau berumur 12 tahun. Pada saat itu, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syria bersama paman beliau (Afzalurrahman, 1997: 5). Oleh karena itu, beliau tumbuh sebagai wirausahawan yang mandiri di bawah bimbingan paman beliau. Pada saat Nabi Muhammad telah memasuki umur dewasa, paman beliau mengalami kebangkrutan sehingga Nabi Muhammad melakukan kegiatan perdagangan di kota Makkah dengan cara berdagang keliling dengan penuh kesungguhan dan dedikasi tinggi (Hafidhudhin, 2003: 52).

Kecakapan beliau sebagai pebisnis telah menghasilkan keuntungan dan tidak mengalami kerugian. Beliau telah berkiprah dalam bisnis selama kurang lebih 20 tahun lamanya, sehingga beliau dikenal di Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab.

BACA JUGA:

Beliau adalah seorang pebisnis yang tangguh yang selalu siap mengunjungi pasar-pasar regional yang seharusnya dikunjungi. Beliau menjemput bola, memperluas jaringan, mencari produk terbaru, dan mencari mitra strategis di berbagai kawasan dagang dan industri. Kesuksesan Muhammad sebagai pebisnis ini perlu dipelajari lebih mendalam dari sudut pandang manajemen bisnis berdasarkan perspektif Islam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel