Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi Produksi Menurut Para Ahli

Definisi Produksi Menurut Para Ahli

Situsekonomi.com - Kata produksi telah menjadi kata Indonesia setelah diserap ke dalam pemikiran ekonomi bersamaan dengan kata distribusi dan konsumsi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, produksi diartikan sebagai proses mengeluarkan hasil atau penghasilan. Dalam kamus Inggris-Indonesia oleh Jhon M. Echols dan Hasan Sadily kata 'production" secara linguistik mengandung arti penghasilan (Jhon M. Echols dan Hasan Sadily, 1996).

Dalam teori konvensional, disebutkan bahwa teori produksi ditujukan untuk memberikan pemahaman tentang perilaku perusahaan dalam membeli dan menggunakan masukan (input) untuk produksi dan menjual keluaran atau produk. Lebih lanjut ia menyebutkan teori produksi juga memberikan penjelasan tentang perilaku produsen dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan efisiensi produksinya (Adiwarman, 2007).

Tri Pracoyo dan Antyo Pracoyo (2006) mendefinisikan bahwa produksi sebagai suatu proses mengubah kombinasi berbagai input menjadi output. Pengertian produksi tidak hanya terbatas sebagai proses pembuatan saja tetapi juga sebagai penyimpanan, distribusi, pengangkutan, pengemasan kembali hingga pemasarannya.

Istilah produksi berlaku untuk barang maupun jasa. Setiap produsen dalam melakukan kegiatan produksi diasumsikan dengan tujuan memaksimumkan keuntungan. Masalah pokok yang dihadapi produsen dalam melakukan kegiatan produksi adalah berapa output yang harus diproduksikan dan bagaimanakah mengombinasikan berbagai input (faktor produksi) agar dapat menghasilkan output secara efisien (ADESY, 2016: 249).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa produksi adalah kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada barang dan jasa tetapi suatu proses mengubah kombinasi input menjadi output, yang menitikberatkan pada pencapaian maksimum keuntungan. Produksi tidak berarti menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorang pun dapat menciptakan benda. Dalam pengertian ahli ekonomi, yang dapat dikerjakan manusia adalah membuat barang-barang menjadi berguna disebut dihasilkan (Mannan, 1993).

Para ahli ekonomi mendefinisikan produksi sebagai menghasilkan kekayaan melalui eksploitasi manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan. Atau secara konvensional, produksi adalah proses menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang ada (ADESY, 2016: 250).

Terminologi produksi tidak ditemukan pada nash-nash, baik Al-Qur'an maupun hadis. Akan tetapi, ada dua terminologi yang bisa dipakai dalam menjelaskan makna produksi ini, yaitu "al-kasab" atau "al-intaj" (Abidin, 2008).

Terminologi al-kasab lebih tepat dipakai dalam ilmu ekonomi Islam daripada sekadar konsep produksi. Hal ini disebabkan karena kata kasab banyak ditemukan dalam ayat Al-Qur'an maupun hadis. Misalnya firman Allah tentang kewajiban mengeluarkan zakat dari usaha yang baik (QS Al-Baqarah [2]: 267) dan hadis yang mengatakan bahwa tidak ada makanan yang dimakan oleh seseorang lebih baik dari hasil usahanya (kasab) sendiri, sesungguhnya Nabi Daud alaihisalam makan dari hasil usahanya sendiri (HR Bukhari).

Kasab merupakan isim masdar dari kasaba-yuksibu-kasban yang berarti berusaha, bekerja, mencari nafkah, memperoleh, dan lain sebagainya. Kasab juga diartikan bisnis yang dengan segala bentuknya telah terjadi dan menyelimuti aktivitas manusia setiap harinya.

Sejak bangun tidur sampai tidur lagi, tak terlepas dari cakupan bisnis. Mulai dari tempat tinggal (rumah seisinya), segala pakaian, beraneka ragam makanan, mobil, tempat bekerja dan sebagainya merupakan hasil dari proses bisnis. Intinya, segala apa yang ada dan dimiliki serta dilakukan oleh manusia tak lepas dari hasil dan produk bisnis (Arifin, 2009).

Menurut Al-Syaibani sebagaimana bahwa usaha produktif (al-iktisab) adalah usaha untuk menghasilkan harta melalui cara-cara yang diperbolehkan atau dihalalkan syariat (Arifin, 2009). Secara tidak langsung, pengertian ini telah memberikan batasan antara teori produksi yang Islami dengan teori produksi konvensional yang bebas nilai dan norma.

Sedangkan dalam ekonomi Islam, nilai merupakan kunci yang tidak bisa ditawar-tawar, karena Islam itu sendiri adalah sumber nilai dalam segala aspek kehidupan termasuk ekonomi. Jadi, nilai syariat Islamlah yang menjadi roh dalam epistemologi ilmu ekonomi Islam.

Produksi suatu barang atau jasa, seperti dinyatakan dalam ilmu ekonomi, dilakukan karena barang atau jasa itu mempunyai, utilitas (nilai guna). Islam memandang bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai guna jika dan hanya jika mengandung kemaslahatan (ADESY, 2016: 251).

Seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatibi, kemaslahatan yang hanya dicapai dengan memelihara lima unsur pokok kehidupan, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan demikian, seorang Muslim termotivasi untuk memproduksi setiap barang atau jasa yang memiliki maslahat tersebut. Hal ini berarti bahwa konsep maslahat merupakan konsep yang objektif terhadap perilaku produsen karena ditentukan oleh tujuan (maqashid) syariah, yaitu menjaga kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

BACA JUGA:

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produksi secara Islami definisinya berbeda dengan produksi secara konvensional. Produksi secara Islami menekankan pada pengoptimalan efisiensi dan pengoptimalan keuntungan. Jelaslah bahwa produksi secara Islami tidak hanya mencari keuntungan semata (profit oriented) melainkan kepada (ibadah oriented) sehingga apa pun barang yang diproduksi maka seorang produsen Islam akan menekankan etika di dalam produksi.

Posting Komentar untuk "Definisi Produksi Menurut Para Ahli"