Konsep Utilitas dan Maslahah

Situsekonomi.com - Seseorang dalam memutuskan untuk mengalokasikan pendapatannya akan membentuk fungsi permintaan terhadap barang atau jasa. Dalam konsep ekonomi konvensional, konsumen dalam mengeluarkan uangnya diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility) dalam kegiatan konsumsinya (ADESY, 2016: 326).

Utility secara bahasa berarti berguna (usefulness), membantu (helpfulness) atau menguntungkan (advantage). Dalam konteks ekonomi, utilitas dimaknai sebagai kegunaan barang yang dirasakan oleh seorang konsumen pada saat mengonsumsi suatu barang.

Karena rasa inilah maka sering kali utilitas dimaknai juga sebagai rasa puas dan kepuasan yang dirasakan oleh seorang konsumen dalam mengonsumsi suatu barang atau jasa. Jadi, kepuasan dan utilitas dianggap sama, meskipun sebenarnya kepuasan adalah akibat yang ditimbulkan oleh utilitas.

Jika menggunakan teori konvensional, konsumen diasumsikan selalu ingin mencapai kepuasan yang tertinggi. Konsumen memilih mengonsumsi barang X atau Y tergantung pada tingkat kepuasan yang diberikan oleh kedua barang tersebut.

Ia akan memilih barang X, jika memberikan kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan Y, demikian sebaliknya. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mungkinkah konsumen tersebut mengonsumsi barang yang lebih mempunyai kepuasan? Untuk menjawab pertanyaan di atas, tentunya konsumen akan melihat dana atau anggaran yang dia miliki.

Kalau si konsumen mempunyai sejumlah dana untuk membelinya, maka ia akan membeli, jika tidak, maka ia tidak akan membelinya. Kemungkinan terjadi, konsumen tersebut akan mengalokasikan anggarannya untuk membeli barang lain yang kepuasannya maksimal dan sesuai dengan anggaran yang dia miliki.

Jika ilustrasi di atas kita cermati dan telaah, maka setidaknya terdapat dua hal penting untuk dikritisi. Pertama, tujuan konsumen adalah mencari kepuasan tertinggi, penentuan barang atau jasa untuk dikonsumsi didasarkan pada kriteria kepuasan.

Beberapa pertanyaan yang bisa kita ajukan antara lain pertama, apakah barang yang memuaskan selalu identik dengan barang yang membawa manfaat atau kebaikan (maslahah)? Jawabannya belum tentu! Kedua, faktor yang menjadi pembatas konsumen dalam mengonsumsi suatu barang atau jasa hanyalah jumlah anggaran yang dia miliki.

Sepanjang dia mempunyai anggaran yang cukup untuk membeli barang atau jasa, maka dia akan terus mengonsumsi barang tersebut. Dengan kata lain, sepanjang dia memiliki pendapatan, maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk mengonsumsi barang/jasa yang diinginkan. Sikap seperti ini jelas akan menafik pertimbangan kepentingan orang lain atau berbagi dengan orang lain (ADESY, 2016: 327).

Konsep ekonomi Islam tidak dapat menerima sepenuhnya perilaku konsumsi seperti yang diilustrasikan di atas. Konsumsi yang diperkenalkan dalam konsep Islam selalu berpedoman pada ajaran Islam, di antara ajaran yang penting berkaitan dengan perilaku konsumsi, salah satunya adalah perlunya memerhatikan orang lain dalam membelanjakan harta.

Seperti hadis yang menyatakan bahwa: "setiap Muslim wajib membagi makanan yang dimasaknya kepada tetangganya yang merasakan bau dari makanan tersebut". Contoh lain misalnya, "diharamkan bagi seorang Muslim hidup dalam keadaan serba berkelebihan sementara ada tetangganya yang menderita kelaparan".

Dengan demikian, tujuan konsumsi itu sendiri, di mata seorang Muslim akan lebih mempertimbangkan maslahah daripada utilitas. Itulah yang dilakukan oleh seorang Muslim, yang mementingkan membagi 2,5% pendapatannya untuk diberikan kepada orang yang tidak mampu dalam bentuk zakat.

Menurut pandangan seorang Muslim, seharusnya konsumsi mempunyai nilai maslahah selain hanya untuk memuaskan diri pribadi. Maslahah adalah segala bentuk keadaan baik material maupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia yang paling mulia.

Menurut as-Shatibi (dalam P3EI), maslahah dasar bagi kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu agama (dien), jiwa (nafs), intelektual ('aql), keluarga dan keturunan (nasl), serta material (wealth). Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Termasuk juga jika kita ingin mendapat kebahagiaan dalam proses konsumsi atau membelanjakan harta. Dalam konsep Islam kita akan mendapatkan kepuasan yang maksimum jika konsumsi kita mengandung maslahah. Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat Islam (maqashid syariafi), yang tentu saja harus menjadi tujuan dari kegiatan konsumsi orang Muslim, seperti yang juga dilakukan oleh informan dalam penelitian ini.

Setelah mengenal konsep maslahah seperti yang diulas di atas, maka seorang konsumen Muslim tentunya cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan maslahah maksimum. Tujuan tersebut sesuai dengan konsep Islam yang mengarahkan bahwa setiap pelaku ekonomi selalu ingin meningkatkan maslahah yang diperolehnya.

Keimanan terhadap adanya kehidupan dan pembalasan yang adil di akhirat, serta janji dari Allah, maka seharusnya akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi. Kandungan maslahah terdiri dari manfaat dan berkah (ADESY, 2016: 328).

Demikian pula, dalam hal perilaku konsumsi, seorang konsumen akan mempertimbangkan manfaat dan berkah yang dihasilkan dari kegiatan konsumsinya. Konsumen merasakan adanya manfaat suatu kegiatan konsumsi ketika dia merasa mendapat pemenuhan kebutuhan fisik atau material. Di sisi lain, berkah akan diperolehnya pada saat dia mengonsumsi barang atau jasa yang dihalalkan oleh syariat Islam.

Dengan memahami konsep utilitas dan maslahah, maka dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kepuasan merupakan suatu akibat dari terpenuhinya suatu keinginan, sedangkan maslahah merupakan suatu akibat atas terpenuhinya suatu kebutuhan. Itulah yang dilakukan seharusnya oleh seorang konsumen Muslim. Menurut pandangan seorang konsumen Muslim membelanjakan harta untuk maslahah merupakan suatu kebutuhan dalam upaya mencari kepuasan jiwa dan hatinya.

Kepuasan hanya bisa dinikmati oleh individu yang membelanjakan hartanya untuk barang atau jasa. Berbeda dengan kepuasan yang bersifat individualis, maslahah tidak hanya bisa dirasakan oleh individu.

Maslahah bisa jadi dirasakan oleh selain konsumen, yaitu dirasakan oleh sekelompok masyarakat lainnya. Misalnya seorang Muslim yang membeli pakaian, makanan kemudian diberikan kepada tukang becak dan tetangga miskin yang ada di daerahnya, maka maslahah fisik atau psikis akan dinikmati oleh tetangga yang mendapatkan pakaian dan makanan, sementara itu, si Muslim akan mendapatkan berkah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan sedekah dimungkinkan diperoleh manfaat sekaligus berkah.

Dalam upaya untuk mengeksplorasi konsep maslahah konsumen Muslim secara detail, maka dalam hal ini aktivitas konsumen Muslim kita golongkan menjadi dua, yaitu konsumsi yang ditujukan untuk sedekah (ibadah) dan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen Muslim semata. Jenis konsumen Muslim yang pertama adalah pembelian barang atau jasa untuk diberikan kepada orang miskin, dalam bentuk sedekah, waqaf maupun ibadah lainnya. Sedangkan konsumen jenis kedua adalah konsumsi untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen Muslim sendiri seperti konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.

Kita lihat terlebih dahulu maslahah dari konsumen Muslim yang digunakan untuk ibadah. Konsumsi ibadah pada dasarnya adalah segala konsumsi atau menggunakan harta di jalan Allah (fii sabilillah). Islam memberikan imbalan terhadap belanja (konsumsi) ibadah dengan pahala yang sangat besar, misalnya senilai 10 kali lipat atau belanja 1 unit untuk disedekahkan kepada orang lain, maka kita akan mendapatkan balasan 10 unit, dan setiap kali dilakukan amal kebaikan akan mendapatkan imbalan pahala yang sama, yaitu 10 kali lipat (ADESY, 2016: 329).

Besarnya berkah yang diterima berkaitan dengan besarnya pahala dan maslahah yang ditimbulkan. Nabi pernah mengatakan bahwa "amal sedekah yang paling mulia (paling besar imbalan berkahnya) adalah sedekahnya orang yang membutuhkan kepada orang lain yang lebih membutuhkan". Hadis ini menunjukkan bahwa besarnya manfaat atas suatu amalan akan menambah pahala dan berkah yang diterimanya.

Tabel: Frekuensi Konsumsi, Utilitas Total, dan Marginal
Frekuensi Konsumsi Total Utility
(TU)
Marginal Utility
(MU)
1 10 -
2 18 8
3 24 6
4 28 4
5 30 2
6 32 2
7 32 0
8 30 -2
Sumber: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI)

Sebagai ilustrasi, tabel di atas menyajikan bagaimana maslahah dari sedekah atau amal saleh konsumen Muslim yang selama ini dilakukan, yaitu ibadah yang tidak secara langsung terkait dengan kemanfaatan dunia bagi konsumen Muslim. Dalam hal ini, konsumen Muslim tidak hanya akan merasakan manfaat akhirat bagi dirinya, melainkan perasaan aman dan tenteram akan berkah yang akan diberikan Allah, baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Perasaan itulah yang dirasakan oleh konsumen Muslim selama mereka menjalankan ibadah sedekah, sehingga mereka selalu ingin terus menambah sedekahnya. Bahkan, konsumen Muslim tidak hanya bersedekah uang saja, tetapi apa saja yang mereka punya dan bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

Dalam ilmu ekonomi konvensional, kita mengenal adanya hukum penurunan utilitas marginal (law of diminishing marginal utility), hukum ini mengatakan jika seseorang mengonsumsi suatu barang dengan frekuensi yang diulang-ulang, maka nilai tambah kepuasan dari konsumsi berikutnya akan semakin menurun. Pengertian konsumsi ini bisa dimaknai mengonsumsi apa saja termasuk mengonsumsi waktu luang (leisure). Hal ini berlaku juga untuk setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang, seperti yang dilakukan oleh si pensiunan yang menggunakan waktunya untuk mengurus masalah sosial terutama pendidikan dan pemberdayaan lansia.

Utilitas marginal (MU) adalah tambahan kepuasan yang diperoleh konsumen akibat adanya peningkatan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi. Untuk memberikan penggambaran yang lebih jelas, ilustrasi di bawah in akan menyajikan utilitas marginal yang dimaksud.

Gambar: Utilitas Total dan Marginal

Utilitas Total dan Marginal

Dari gambar di atas, terlihat nilai utilitas marginal semakin menurun. Penurunan ini bisa dirasakan secara intuitif, jika seseorang mengonsumsi suatu barang/jasa secara terus-menerus secara berurutan, maka nilai tambahan kepuasan yang diperoleh semakin menurun (ADESY, 2016: 330).

Hal ini terjadi karena munculnya masalah kebosanan, kalau kondisi tersebut terus berlanjut, maka akan menjadi kejenuhan yang menyebabkan orang yang bersangkutan bukannya merasa senang dalam mengonsumsi barang tersebut, melainkan justru merasa sebaliknya. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan nilai utilitas marginal yang negatif.

Sebelum mencapai nilai negatif, nilai utilitas marginal mencapai kejenuhan terlebih dahulu yang ditunjukkan oleh nilai nol pada variabel tersebut. Pada saat mencapai kejenuhan ini, utilitas total mencapai nilai maksimumnya.

Hal ini juga bisa dilihat dari kacamata hukum kelangkaan barang. Suatu barang yang jumlahnya langka dan konsumsi tinggi, maka nilai dari barang tersebut tinggi, demikian juga sebaliknya. Meskipun hukum mengenai nilai utilitas marginal ini berlaku secara umum dalam teori ekonomi konvensional, namun ada beberapa pengecualian.

Pengecualian yang tidak termasuk dalam kategori ini adalah perilaku konsumen yang menunjukkan adanya kecanduan (addicted). Bagi orang yang kecanduan terhadap sesuatu, maka dia tidak akan mengalami penurunan nilai utilitas marginal. Singkatnya, orang tersebut tidak pernah merasa bosan melakukan kegiatan konsumsi tersebut, meskipun sudah berulang kali dilakukan.

Hukum mengenai penurunan utilitas marginal tidak selamanya berlaku pada maslahah. Maslahah dalam konsumsi tidak seluruhnya secara langsung dapat dirasakan, terutama maslahah akhirat atau berkah. Adapun maslahah dunia manfaatnya sudah bisa dirasakan setelah konsumsi.

Dalam hal berkah, dengan meningkatnya frekuensi kegiatan, maka tidak akan ada penurunan berkah karena pahala yang diberikan atas ibadah mahdhah termasuk sedekah tidak pernah menurun. Sedangkan maslahah dunia atau konsumsi untuk kepentingan diri sendiri akan meningkat dengan meningkatnya frekuensi kegiatan, namun pada level tertentu akan mengalami penurunan.

BACA JUGA:

Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan manusia di dunia adalah terbatas sehingga ketika konsumsi dilakukan secara berlebih-lebihan, maka akan terjadi penurunan maslahah duniawi. Dengan demikian, kehadiran maslahah akan memberi warna dari kegiatan yang dilakukan oleh konsumen Muslim.

Belum ada Komentar untuk "Konsep Utilitas dan Maslahah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel