Pengertian Lobi dan Negosiasi

Pengertian Lobi dan Negosiasi

Situsekonomi.com - Konflik terjadi karena perbedaan pendapat atau opini, ketidaksepakatan, perselisihan, rivalitas, ketidakharmonisan, serta percekcokan. Lobi merupakan suatu upaya pendekatan yang dilakukan untuk memengaruhi dengan tujuan kepentingan tertentu (Raharjo, 2020: 104).

Pada tahap lobi, pelobi tidak memutuskan. Lobi dilakukan dengan cara baik ataupun tidak baik. Sedangkan negosiasi adalah sebuah proses yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang pada mulanya memiliki pemikiran yang berbeda, hingga pada akhirnya mencapai kesepakatan bersama.

Negosiasi bisa terjadi karena adanya konflik, dan lobi ada di dalamnya untuk mengurangi konflik di suatu organisasi. Organisasi dapat berupa negara, perusahaan, dan Humas. Diplomasi, pada tahap ini dilakukan deliberasi (pertimbangan) serta berbagai bentuk pertemuan.

Fungsi Lobi:

  • Lobi sebagai pembuka jalan bernegosiasi, kalau ada respons;
  • Memengaruhi pengambilan keputusan.

Fungsi Negosiasi:
  • Mencapai kesepakatan bersama;
  • Mengubah pendapat orang lain;
  • Meyakinkan pihak lain; dan
  • Terkait empat kuadran negosiasi.

Fungsi Diplomasi:
  • Menentukan strategi/kebijakan, taktik, dan siasat;
  • Mendamaikan beragamnya kepentingan.

Hubungan antara Komunikasi dengan Teknik Lobi dan Negosiasi:
  • Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah komunikasi;
  • Cara kita memulai pesan sering menentukan hasil komunikasi;
  • Cara pesan disampaikan selalu berpengaruh terhadap cara pesan itu diterima;
  • Komunikasi yang sesungguhnya adalah pesan yang diterima, bukan pesan yang dimaksudkan.
  • Komunikasi adalah jalan dua arah, kita harus memberi sekaligus menerima; dan
  • Komunikasi bukanlah tindakan menyampaikan informasi, melainkan representasi keyakinan bersama (shared-belief).

Jadi, berdasarkan definisi di atas, dalam praktiknya komunikasi sangat berguna dalam teknik negosiasi dan lobi.

Kuadran Negosiasi

Tipe Pihak 1 Pihak 2 Hasil
Kolaborasi Menang Menang Win Win
Dominasi Menang Kalah Win Lose
Akomodasi Kalah Menang Lose Win
Kompromi Kalah Kalah Lose Lose

Filosofi serta Tokoh dalam Lobi dan Negosiasi:
  • John F. Kennedy, "Jangan pernah bernegosiasi karena takut, tetapi jangan pernah takut untuk bernegosiasi."
  • Socrates, "Dalam sebuah negosiasi, 'Never say no'."
  • Francis Beacon, "Kearifan lebih penting daripada kefasikan."
  • Peribahasa China, "Siapa yang berjalan lambat, maka akan berhasil."

Uraian mengenai BATNA, Reservation Price, dan ZOPA:

1. BATNA (Best Alternative To a Negotiated Agreement)

Yaitu, langkah-langkah alternatif negosiator bila negosiasi tidak mencapai kesepakatan. Misalnya, dalam proses PHK yang diajukan pihak pengusaha tidak sepakat. Maka, pengusaha memiliki dua pilihan, yaitu melakukan trade off; penambahan cuti atau meninggalkan perundingan.

2. Reservation Price

Yaitu, nilai atau tawaran terendah yang dapat diterima dalam suatu negosiasi. Misalnya, negosiator pihak pekerja akan menyepakati hasil perundingan secara keseluruhan, apabila tercapai 50 persen dari yang diusulkan.

3. ZOPA (Zone of Possible Agreement)

Suatu zona yang memungkinkan terjadinya kesepakatan dalam proses negosiasi.

Proses terjadinya konflik dibagi menjadi tiga tahap (menurut Hendricks, 1992), yaitu:

a. Tahap Pertama: Peristiwa Sehari-hari

Pada tahap ini, muncul ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja. Rasa tidak puas ini biasanya terlupakan karena kesibukan kerja.

b. Tahap Kedua: Adanya Tantangan

Pada tahap ini, tiap-tiap individu merasa telah menjalankan prosedur kerja dengan benar dan yang diutamakan adalah kepentingan individu atau kelompok.

c. Tahap Ketiga: Timbulnya Pertentangan

Pertentangan yang terjadi di antara pegawai merupakan proses terjadinya konflik.

Lima fase konflik menurut Louis R. Pondy: latent conflict, perceived conflict, felt conflict, manifest conflict, dan conflict aftermath.

1. Tahap Pertama, Konflik Terpendam (Latent Conflict)

Konflik ini merupakan bibit konflik yang bisa terjadi dalam interaksi individu ataupun kelompok dalam organisasi, karena tujuan organisasi dan perbedaan konsepsi, namun masih di bawah permukaan. Konflik ini berpotensi untuk sewaktu-waktu muncul ke permukaan.

2. Tahap Kedua, Konflik yang Terpersepsi (Perceived Conflict)

Fase ini dimulai ketika para aktor yang terlibat mulai mengonsepsi situasi-situasi konflik, termasuk cara mereka memandang, menentukan pentingnya isu-isu, membuat asumsi-asumsi terhadap motif-motif dan posisi kelompok lawan.

3. Tahap Ketiga, Konflik yang Terasa (Felt Conflict)

Fase ini dimulai ketika para individu atau kelompok yang terlibat menyadari konflik dan merasakan pengalaman-pengalaman yang bersifat emosi, seperti kemarahan, frustasi, ketakutan, dan kegelisahan yang melukai perasaan.

4. Tahap Keempat, Konflik yang Termanifestasi (Manifest Conflict)

Pada fase ini salah satu pihak memutuskan bereaksi menghadapi kelompok dan sama-sama mencoba saling menyakiti dan menggagalkan tujuan lawan. Misalnya agresi terbuka, demonstrasi, sabotase, pemecatan, pemogokan, dan sebagainya.

5. Tahap Kelima, Konflik Sesudah Penyelesaian (Conflict Aftermath)

Fase ini adalah fase sesudah konflik diolah. Apabila konflik dapat diselesaikan dengan baik, hasilnya pun berpengaruh baik pada organisasi (fungsional) atau sebaliknya (disfungsional).

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Lobi dan Negosiasi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel