Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi Taghrir (Uncertain to Both Parties) dalam Istilah Fiqih Mu'amalah

Taghrir berasal dari kata Bahasa Arab gharar, yang berarti: akibat, bencana, bahaya, risiko, dan ketidakpastian. Dalam istilah fiqih mu'amalah, taghrir berarti melakukan sesuatu secara membabibuta tanpa pengetahuan yang mencukupi; atau mengambil risiko sendiri dari suatu perbuatan yang mengandung risiko tanpa mengetahui dengan persis apa akibatnya, atau memasuki kancah risiko tanpa memikirkan konsekuensinya (Karim, 2018: 237).

Menurut Ibn Taimiyah, gharar terjadi bila seseorang tidak tahu apa yang tersimpan bagi dirinya pada akhir suatu kegiatan jual beli. Gharar ataupun tadlis, keduanya terjadi karena adanya incomplete information. Namun, berbeda dengan tadlis, di mana incomplete information ini hanya dialami oleh satu pihak saja (unknown to one party, misalnya pembeli saja, atau penjual saja).

Dalam taghrir, incomplete information ini dialami oleh kedua belah pihak (baik pembeli maupun penjual). Oleh karena itu, kasus taghrir terjadi bila ada unsur ketidakpastian yang melibatkan kedua belah pihak (uncertain to both parties).

Dalam ilmu ekonomi, taghrir ini lebih dikenal sebagai uncertainty (ketidakpastian) atau risiko. Dalam situasi kepastian (certainty), hanya ada satu hasil atau kejadian yang akan muncul dengan probabilitas sebesar 1.

Kepastian: Hasil Tunggal, A (Single Outcome)

Gambaran grafis situasi kepastian dapat diamati pada gambar di atas. Sumbu vertikal menyatakan besaran probabilitas, sedangkan sumbu horizontal menyatakan hasil kejadian. Gambar situasi kepastian tersebut memperlihatkan di mana hanya ada satu kejadian yang muncul, yaitu A, dengan probabilitas sebesar 1. Dengan demikian, kita mengetahui dengan yakin bahwa kejadian A pasti akan muncul.

Di lain pihak, dalam situasi ketidakpastian (uncertainty) ada lebih dari satu hasil atau kejadian yang mungkin akan muncul dengan probabilitas yang berbeda-beda. Dengan demikian, kita memiliki distribusi probabilitas.

Ketidakpastian: Hasil Lebih dari Satu, A, B, dan C (Multiple)

Situasi ketidakpastian dapat dilihat pada gambar di atas. Terdapat tiga hasil yang mungkin akan muncul, yakni A, B, dan C. Tiga hasil tersebut memiliki kemungkinan muncul yang berbeda-beda. Kemungkinan A muncul adalah 0,25; B muncul adalah 0,5; sedangkan C muncul 0,25.

Bila kita jumlahkan masing-masing probabilitas tersebut (0,25 + 0,5 + 0,25), maka kita mendapatkan angka total = 1. Nah, berikut ini kita akan merinci lebih lanjut keempat bentuk taghrir yang sudah disebutkan di atas:

1. Taghrir dalam Kuantitas

Contoh taghrir dalam kuantitas adalah sistem ijon, misalnya petani sepakat untuk menjual hasil panennya (beras dengan kualitas A) kepada tengkulak dengan harga Rp750.000. Padahal, saat kesepakatan dilakukan sawah si petani belum bisa dipanen. Jadi, kesepakatan jual beli dilakukan tanpa menyebutkan spesifikasi mengenai berapa kuantitas yang dijual (berapa ton, berapa kuintal, misalnya) padahal harga sudah ditetapkan.

Dengan demikian, terjadilah ketidakpastian menyangkut kuantitas barang yang ditransaksikan tersebut. Misalkan berdasarkan pengalaman historis dan ramalah cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), kita dapat mengidentifikasi tiga skenario kejadian sebagai berikut:

No Skenario Probabilitas Kuantitas Hasil Panen Harga Jual/Ton Harga Jual Total
1 Optimis: Cuaca bagus, tidak ada hama 0,3 2 ton Rp1.000.000 Rp2.000.000
2 Moderat 0,3 1 ton Rp1.000.000 Rp1.000.000
3 Pesimis: Cuaca buruk terserang hama 0,4 0,5 ton Rp1.000.000 Rp500.000

Bila yang terjadi adalah skenario moderat, maka si tengkulak mendapatkan untung Rp250.000 (selisih harga jual dengan harga beli). Bila yang terjadi skenario optimis, maka tengkulak mendapatkan laba Rp1.250.000. Sebaliknya, jika yang terjadi skenario pesimis, maka tengkulak rugi Rp250.000. Secara grafis, taghrir kuantitas ini dapat diilustrasikan seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:

Taghrir Kuantitas dalam Ilustrasi Grafik

Grafik (a) adalah fungsi produksi yang menggambarkan dari tiga kemungkinan yang ada. TP1 adalah fungsi produksi dengan skenario pesimis, TP2 untuk skenario moderat, dan TP3 untuk fungsi produksi dengan skenario optimis. Tentunya, dari ketiga fungsi ini (baik penjual maupun pembeli) tidak ada yang mengetahuinya.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang-pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok...(QS Al-Luqman: 30)

Bila grafik (a) dicerminkan ke dalam fungsi biaya (b), maka kita dapat menurunkan dan menentukan jumlah produksi untuk ketiga skenario. Pada TP1, output yang dihasilkan adalah Qx1. Sedangkan TP2, hasil panen adalah Qx2 atau satu ton dan bila skenario optimis menjadi kenyataan, maka total panen berada pada level Qx3.

Gambar (c) merupakan penurunan lebih lanjut fungsi biaya, di mana fungsi biaya tersebut dijelaskan oleh kurva MC dan kurva ATC. Hakikat kurva MC yang berada di atas kurva ATC merupakan fungsi penawaran yang diberikan oleh produsen.

Karena produsen menghadapi pasar persaingan sempurna, maka keseimbangan akan tercipta ketika kurva permintaan (D=P=MR=AR) dengan kurva penawaran. Namun, yang menjadi permasalahan pada taghrir kuantitas di sini adalah transaksi terjadi dengan harga yang sudah pasti untuk dipertukarkan dengan sejumlah barang yang belum pasti jumlahnya.

Artinya, kurva permintaan sudah jelas, namun kurva penawaran belum dapat ditentukan pada kurva yang mana penawaran sesungguhnya akan terjadi. Dengan demikian, pada taghrir kuantitas ini keseimbangan yang dicapai adalah keseimbangan yang semu dan tidak pasti.

2. Taghrir dalam Kualitas

Contoh taghrir dalam kualitas adalah menjual anak sapi yang masih dalam kandungan induknya. Penjual sepakat untuk menyerahkan anak sapi tersebut segera setelah anak sapi itu lahir seharga Rp1.000.000.

Mengenai hal tersebut, baik si penjual maupun si pembeli tidak dapat memastikan kondisi fisik anak sapi bila nanti sudah lahir, apakah akan lahir normal, cacat, atau dalam keadaan mati. Dengan demikian, terjadi ketidakpastian menyangkut kualitas barang yang ditransaksikan.

No. Skenario Probabilitas Harga Jual Keuntungan Pembeli
1. Lahir Normal 0,7 Rp1.500.000 Rp500.000
2. Lahir Cacat 0,2 Rp250.000 -Rp750.000
3. Lahir Mati 0,1 Rp0 -Rp1.000.000

Bila anak sapi tersebut lahir normal, maka si pembeli untung Rp500.000 (ia membeli anak sapi dengan harga jual Rp1.500.000 seharga Rp1.000.000). Namun, bila ternyata anak sapi tersebut lahir cacat, maka ia rugi Rp750.000. Bila lahir mati, ia rugi Rp1.000.000. Sebagaimana yang telah kita gunakan untuk menganalisis taghrir kuantitas, ilustrasi gambar pada taghrir kualitas dapat kita lihat di bawah ini:

Taghrir Kualitas dalam Bentuk Grafik

Pada gambar tersebut dapat kita lihat bahwa titik ekuilibrium bukanlah hasil perpotongan dari penawaran dan permintaan dengan kualitas yang sama. Artinya, tingkat keseimbangan yang tercipta adalah keseimbangan semu karena mempertemukan permintaan dan penawaran yang berbeda kualitasnya.

3. Taghrir dalam Harga

Taghrir dalam harga terjadi ketika misalnya seorang penjual menyatakan bahwa ia akan menjual satu unit panci merek ABC seharga Rp10.000 bila dibayar tunai, atau Rp50.000 bila dibayar dengan kredit selama lima bulan. Kemudian, si pembeli menjawab "setuju". Ketidakpastian muncul karena adanya dua harga dalam satu akad.

Tidak jelas harga mana yang berlaku, apakah yang Rp10.000 atau Rp50.000. Katakanlah ada pembeli yang membayar lunas pada bulan ke-3, maka berapa harga yang berlaku? Atau ekstremnya satu hari setelah penyerahan barang, berapa harga yang berlaku? Ekstrem lainnya adalah bagaimana menentukan harga bila dibayar lunas sehari sebelum akhir bulan ke-5? Dalam kasus ini, walaupun kuantitas dan kualitas barang sudah ditentukan, tetapi terjadi ketidakpastian dalam harga barang karena si penjual dan si pembeli tidak mensepakati satu harga dalam satu akad.

Taghrir Harga dalam Ilustrasi Grafik

Penawaran yang memberikan tiga alternatif harga ditanggapi oleh pembeli dengan satu kurva permintaan. Baik pembeli ataupun penjual tidak tahu alternatif mana yang akan berlaku. Pada gambar di atas, kita dapat melihat bahwa penawaran harga apabila dibayar pada t=1 maka harga akan berada pada PXt=1, begitu juga apabila pembayaran baru berada pada t=2 atau t=3. Harga yang berlaku untuk transaksi jual beli ini berbeda-beda. Oleh karena itu, jelaslah bahwa hal ini akan mengaburkan di mana tingkat ekuilibrium tersebut tercipta.

4. Taghrir Menyangkut Waktu Penyerahan

Misalkan, Eko baru saja kehilangan mobil Lamborghini Gallardo-nya dan Eni kebetulan sudah lama ingin memiliki mobil tersebut. Pada akhirnya, Eko dan Eni membuat sebuah kesepakatan. Eko menjual mobil Lamborghini Gallardo-nya yang hilang tersebut kepada Eni seharga Rp500 juta, sementara harga pasarnya adalah Rp5 miliar.

Apabila Eni menyetujui kesepakatan tersebut, maka mobil akan diserahkan segera setelah ditemukan. Transaksi seperti ini tentunya menimbulkan ketidakpastian terkait waktu penyerahan barang karena tidak diketahui keberadaannya. Barangkali, mobil tersebut akan ditemukan satu bulan lagi, satu tahun lagi, atau bahkan bisa jadi tidak akan ditemukan kembali.

Hasil Probabilitas Keuntungan Eni
Mobil Ditemukan 0,5 Rp4,5 miliar
Mobil Tidak Ditemukan 0,5 -Rp500 juta

Tabel di atas hanya mengasumsikan dua kemungkinan saja, yakni mobil ditemukan (probabilitasnya 1/2) dan mobil tidak ditemukan (probabilitasnya 1/2 juga). Bila mobil ditemukan, maka yang untung adalah Eni karena ia dapat membeli mobil mewah Lamborghini Gallardo jauh di bawah harga pasar (harga pasarnya Rp5 miliar, sementara harga belinya Rp500 juta. Jadi, Eni untung Rp4,5 miliar). Namun, bila ternyata mobil tidak ditemukan, maka Eni rugi Rp500 juta.

Di lain pihak, kerugian Eko menjadi berkurang karena seharusnya ia rugi Rp5 miliar dengan hilangnya mobil Lamborghini Gallardo-nya. Namun, karena ia berhasil menjual mobil yang hilang tersebut seharga Rp500 juta, maka kerugiannya hanya menjadi Rp4,5 miliar.

Taghrir Waktu Penyerahan dalam Ilustrasi Grafik

Sama seperti yang terjadi pada taghrir yang lain, pada taghrir dengan tidak adanya kepastian waktu penyerahan secara grafis juga gagal untuk menerangkan tingkat ekuilibrium yang sesungguhnya terjadi. Perpotongan antara kurva permintaan dengan penawaran tidak dapat memberikan informasi yang jelas kepada kita berapa level harga yang terjadi pada jumlah kuantitas tertentu.

Penutup

Demikianlah pembahasan kita tentang taghrir beserta dengan keempat bentuknya. Jadi, sekarang kita telah mengetahui bahwa kasus taghrir terjadi bila ada unsur ketidakpastian yang melibatkan kedua belah pihak. Menurut Frank Knight, ketidakpastian mengacu pada situasi di mana terdapat kemungkinan munculnya hasil yang lebih dari satu, tetapi probabilitas masing-masing hasil tersebut tidak diketahui besarnya.