Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Internalisasi Biaya Eksternal

Perilaku memaksimalkan profit sering kali mendorong produsen untuk berlaku aniaya. Salah satu cara untuk meningkatkan profit-nya adalah dengan memindahkan biaya-biaya yang seharusnya ditanggung produsen kepada pihak lain (Karim, 2018: 162).

Biaya yang paling mudah untuk dialihkan kepada pihak lain adalah biaya yang tidak mempunyai kaitan langsung dengan proses produksi. Misalnya biaya pembuatan penampungan limbah pabrik yang seharusnya ditanggung produsen karena merupakan konsekuensi dari proses produksinya, dialihkan kepada masyarakat dengan cara membuang begitu saja limbah pabrik ke tempat-tempat umum.

Tindakan seperti itu jelas aniaya karena produsen jelas-jelas mendapat keuntungan dari proses produksi, namun tidak mau bertanggung jawab atas akibatnya yaitu menanggung biaya penanganan limbah. Dalam ilmu ekonomi, tindakan produsen tersebut dikenal dengan negative externalities (Pindyck, 1995).

Konsep adil dalam ekonomi Islam diterjemahkan menjadi empat hal, yaitu dilarang melakukan mafsadah, transaksi gharar, transaksi maisir, dan transaksi riba. Salah satu bentuk mafsadah adalah melakukan kerusakan yang dalam istilah ekonominya disebut negative externalities.

Dalam konteks utility function, mafsadah juga dapat diartikan bahwa Islam hanya membolehkan utility function dibangun dalam pilihan "good" X dan "good" Y. Pada prinsipnya, utility function yang dibangun dalam pilihan "good" X dan "bad" Y, atau dalam pilihan "bad" X dan "good" Y tidak dibolehkan karena tergolong tindakan mafsadah.

Dalam pembahasan tentang teori permintaan islami terdapat istilah corner solution bila kita dihadapkan pada pilihan haram X dan halal Y. Corner solution ini menunjukkan bahwa kalaupun kita dihadapkan pada pilihan "good" dan "bad", kita akan memilih seluruhnya "good" dan meninggalkan "bad" sama sekali. Solusi lain selain meninggalkan "bad" sama sekali (misalnya pada saat darurat), maka selalu menghasilkan solusi yang tidak optimal.

Secara grafis, upaya produsen melarikan diri dari tanggung jawab ini digambarkan dengan turunnya ATC dari ATC1 menjadi ATC2, dan marginal cost turun dari MC1 menjadi MC2. Dengan tingkat MC yang lebih rendah (MC2 < MC1) produsen akan menawarkan lebih banyak barang, sedangkan dengan tingkat ATC yang lebih rendah (ATC2 < ATC1) produsen akan menerima average economic rent yang lebih besar pula. Dengan demikian, profit akan naik dari profit1 menjadi profit2.

Internalisasi Biaya Eksternal

Dalam pandangan Islam, marginal external cost (MEC) merupakan tanggung jawab dari produsen karena tanpa ada proses produksi tentu tidak akan muncul external cost. Oleh karena itu, MEC harus diinternalisasi ke dalam komponen biaya produsen.

Keadaan tersebut digambarkan oleh diagram di atas tepatnya yang sebelah bawah. MC1 adalah MC produsen dan ATC1 adalah ATC produsen. Produsen tidak mempunyai pilihan untuk berproduksi pada tingkat MC2 dan ATC2 meskipun produsen bersedia memberikan kompensasi tertentu.

Dalam ekonomi konvensional, negative externalities masih dapat ditolerir dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Misalnya dengan penentuan emissions standard dan emissions fees. Emissions standard adalah ketentuan hukum tentang batas maksimal tingkat populasi yang masih dibolehkan.

Jika produsen melampaui batas tersebut, maka ia akan dikenakan sanksi berupa denda atau bahkan dianggap melakukan tindakan kriminal. Emissions fees adalah kompensasi yang harus dibayar untuk setiap unit polusi yang dilakukan produsen.