Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Intervensi Harga: Ceiling Price

Katakanlah pemerintah menetapkan harga maksimal pada Pc, di mana Pc lebih kecil dibandingkan dengan harga pasar. Pada tingkat harga Pc, jumlah barang yang diminta sebesar Q2, sedangkan jumlah barang yang ditawarkan sebesar Q(Karim, 2018: 182).

Itu berarti terjadi excess demand sebesar (Q2 - Q1). Adanya excess demand ini akan mendorong timbulnya pasar gelap yang selanjutnya menimbulkan korupsi dan kolusi. Misalkan pemerintah menetapkan suku bunga kredit program sebesar 12% per tahun, sedangkan suku bunga pasar sebesar 20%.

Tentunya, pengusaha berusaha mendapatkan kredit program yang bunganya jauh lebih rendah. Banyaknya permintaan untuk kredit program ini akan mendorong pasar gelap. Biasanya, si pengusaha berusaha menyuap bankir, atau si bankir minta disuap, atau telah menjadi adat saling pengertian menyuap dan disuap.

Selisih suku bunga pasar dengan bunga kredit program yaitu 8%. Di sinilah terjadinya wilayah tawar-menawar jumlah uang suap. Akibat selanjutnya adalah kredit program tidak akan mencapai sasarannya, sehingga timbul penyalahgunaan kredit (misused atau side streaming), misalnya yang seharusnya diperuntukkan produksi pangan disalahgunakan untuk membeli motor baru (Nasution, 1983).

Intervensi Harga: Ceiling Price

Inilah indahnya Islam. Bukan hanya korupsi dan kolusi yang dilarang, tetapi juga jalan ke arahnya. Dalam konteks ini, kita dapat memahami Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menolak untuk melakukan price intervention selama kekuatan pasar berjalan rela sama rela tanpa ada yang melakukan distorsi.

Dengan adanya ceiling price ini, konsumen mendapat tambahan consumer surplus, namun kedua pihak baik konsumen dan produsen akan kehilangan sejumlah surplus yang tidak dapat dinikmati oleh keduanya. Penurunan total surplus ini disebut dead weight loss.

Intervensi Harga: Ceiling Price

Secara grafis, naiknya consumer surplus digambarkan oleh segi empat A. Sedangkan hilangnya consumer surplus yang tidak dinikmati oleh siapa pun digambarkan oleh segi tiga B. Jadi, secara neto, kenaikan consumer surplus:

Kenaikan Neto Consumer Surplus

Bagi produsen, penetapan ceiling price ini akan menurunkan producer surplus. Sebagian penurunan producer surplus dinikmati oleh konsumen berupa kenaikan consumer surplus, dan sebagian lainnya tidak dapat dinikmati oleh siapa pun. Secara grafis, penurunan producer surplus digambarkan oleh segi empat A ditambah dengan segi tiga C. Jadi, secara neto penurunan producer surplus:

Penurunan Neto Producer Surplus

Penurunan Producer Surplus Akibat Ceiling Price

Secara keseluruhan, pengaruh ceiling price adalah:

Total Penurunan (Dead Weight Loss)

Pengaruh Price Ceiling terhadap Consumer dan Producer

Jelaslah dalam penetapan ceiling price tidak hanya terjadi transfer surplus dari produsen ke konsumen, tetapi juga terjadi transfer surplus dari positif menjadi negatif. Dengan penjelasan ini, kita dapat lebih memahami konteks kalimat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, "...tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah atau harta..." (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).