Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rekayasa Permintaan dan Rekayasa Penawaran

Secara umum, segala kondisi atau praktik transaksi di pasar, baik barang maupun jasa, akan berdampak pada tidak tercapainya mekanisme pasar secara efisien dan optimal maka dapat dipastikan ada distorsi yang ikut berperan dalam pembentukan harga tersebut. Karim (2018: 220) menjelaskan bahwa distorsi dalam bentuk rekayasa pasar dapat berasal dari dua sudut, yakni permintaan dan penawaran.

Bai' Najasy

Transaksi najasy diharamkan karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik pula untuk membeli. Si penawar sendiri tidak bermaksud untuk benar-benar membeli barang tersebut. Ia hanya ingin menipu orang lain yang benar-benar ingin membeli.

Sebelumnya, orang ini telah mengadakan kesepakatan dengan penjual untuk membeli dengan harga tinggi agar ada pembeli yang sesungguhnya dengan harga yang tinggi pula dengan maksud untuk ditipu. Akibatnya, terjadi "permintaan palsu" (false demand). Tingkat permintaan yang tercipta tidak dihasilkan secara alamiah. Untuk lebih lengkapnya, simak penjelasan secara grafis mengenai bai' najasy di bawah ini:

Bai' Najasy (False Demand)

Pada awalnya, permintaan terhadap barang X digambarkan dengan kurva D0. Titik keseimbangan terjadi pada saat Q sebesar Q0 dan P sebesar P0. Kemudian, pelaku bai' najasy (misalkan penjual barang X) sengaja menciptakan permintaan palsu, misalnya:
  1. Menyuruh temannya untuk pura-pura ingin membeli barang X dengan harga di atas harga P0 sehingga orang-orang tertarik untuk membeli barang X tersebut;
  2. Menciptakan isu seakan-akan ada kalangan barang X sehingga harga akan naik di atas harga P0.

Akibatnya, permintaan terhadap barang X seakan-akan meningkat. Kurva demand palsu bergeser ke arah kanan atas dari D0 menjadi DF. Peningkatan permintaan ini menyebabkan peningkatan harga yang tidak alamiah dari P0 menjadi PF.

Dengan demikian, pelaku bai' najasy dapat menikmati tambahan profit di atas normal profit dengan cara rekayasa tersebut. Revenue sebelum najasy dilakukan adalah sebesar P0*Q0. Setelah najasy dilakukan, revenue bertambah menjadi PF*QF. Tambahan revenue ini merupakan revenue haram.

Contoh bai' najasy banyak sekali. Pada waktu Indonesia dilanda krisis moneter 1997 terjadi kelangkaan pangan. Karena takut kehabisan persediaan beras, maka masyarakat (terutama di kota-kota besar) ramai-ramai menyerbu toko-toko untuk memborong beras.

Dengan demikian, terjadilah peningkatan permintaan terhadap beras sehingga harga beras naik. Tidak lama kemudian, media massa memberitakan bahwa persediaan beras di gudang-gudang Bulog melimpah. Hal yang serupa terjadi pula di pasar valas dan pasar saham. Di kedua pasar yang disebut terakhir ini, faktor isu bahkan menjadi sangat berpengaruh.

Ihtikar

Bersumber dari Said bin al-Musayyab dari Ma'mar bin Abdullah al-Adawi bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah orang yang melakukan ihtikar itu kecuali ia berdosa" (HR Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud). Ihtikar ini sering kali diterjemahkan sebagai monopoli dan/atau penimbunan.

Padahal, sebenarnya ihtikar tidak identik dengan monopoli dan/atau penimbunan. Dalam Islam, siapa pun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-satunya penjual (monopoli) atau ada penjual lain. Menyimpan stock barang untuk keperluan persediaan pun tidak dilarang dalam Islam.

Jadi, monopoli sah-sah saja, demikian pula menyimpan persediaan. Yang dilarang adalah ihtikar, yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi, atau istilah ekonominya monopoly's rent-seeking. Oleh karena itu, dalam Islam monopoli dibolehkan, sedangkan monopoly's rent seeking tidak boleh.

Dalam pasar mana pun, monopoli, oligopoli, maupun pasar bersaing sempurna, titik optimal akan terjadi pada saat MC = MR. Perbedaannya adalah terletak pada kurva demand yang dihadapi oleh produsen.

Dalam pasar monopoli, karena hanya ada satu produsen, maka demand yang dihadapinya adalah market demand (permintaan pasar). Berbeda dengan pasar bersaing sempurna, karena ada banyak produsen, maka demand yang dihadapi masing-masing produsen adalah individual demand (permintaan individu). Itulah sebabnya mengapa dalam pasar monopoli si produsen dapat bertindak sebagai price maker (penentu harga), sedangkan dalam pasar bersaing sempurna si produsen hanya dapat bertindak sebagai price taker (mengikuti harga pasar).

Keseimbangan Pasar; Persaingan Sempurna & Monopoli

Pada gambar di atas, kita dapat membedakan kurva individu antara pasar bersaing sempurna dan monopoli. Pada kurva permintaan individu pasar bersaing sempurna, demand (D) sama dengan average revenue (AR) dan marginal revenue (MR) (D=AR=MR).

Sedangkan di pasar monopoli, demand (D) sama dengan average revenue, tetapi tidak sama dengan kurva marginal revenue. Oleh karena itu, kurva permintaan dalam pasar bersaing sempurna berbentuk perfect elastis, sementara di pasar monopoli berbentuk elastis.

Ihtikar (Monopoly's Rent Seeking Behaviour)

Lantas, bagaimana perilaku industri yang melakukan ihtikar? Pada gambar di atas, kita dapat menjelaskan lebih lanjut dampak ihtikar terhadap penentuan harga, jumlah kuantitas, dan keuntungan yang dapat diperoleh produsen.

Hakikat dari ihtikar adalah memproduksi lebih sedikit dari kemampuan produksinya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Misalkan kemampuan produksi industri A adalah Qi, karena industri tersebut menghadapi pasar monopoli maka ada kesempatan untuk memproduksi barang agar memperoleh keuntungan yang maksimal.

Keuntungan maksimal yang dapat diambil oleh industri yang berperilaku sebagai monopolis (melakukan ihtikar), maka ia akan memilih tingkat produksinya ketika MC=MR, dengan jumlah Q sebesar Qm, dan P sebesar Pm. Dengan demikian, ia memproduksi lebih sedikit, dan menjual pada harga yang lebih tinggi.

Profit yang dinikmati adalah sebesar kotak PmXYZ. Hal inilah yang dilarang karena produsen tersebut sebenarnya dapat berproduksi dengan tingkat output yang lebih tinggi, yaitu S=D atau ketika MC=AR. Pada tingkat ini, jumlah barang yang diproduksi lebih banyak, yakni sebesar Qi dan harganya pun lebih murah, yakni sebesar Pi. Tentu saja profit yang dihasilkan lebih sedikit, yakni sebesar kotak ABCD. Selisih profit antara kotak PmXYZ dengan kotak ABCD inilah yang merupakan monopoly's rent seeking yang diharamkan.

Talaqqi Rukban

Masih dalam pembahasan distorsi pada sisi penawaran, tindakan yang dilakukan oleh pedagang kota (atau pihak yang lebih memiliki informasi yang lebih lengkap) membeli barang petani (atau produsen yang tidak memiliki informasi yang benar tentang harga di pasar) yang masih di luar kota untuk mendapatkan harga yang lebih murah dari harga pasar yang sesungguhnya, Rasulullah melarang hal ini yang dalam fiqih disebut talaqqi rukban (HR Bukhari dan Muslim). Transaksi ini dilarang karena mengandung dua hal:
  1. Rekayasa penawaran, yaitu mencegah masuknya barang ke pasar (entry barrier), dan
  2. Mencegah penjual dari luar kota untuk mengetahui harga pasar yang berlaku.

Inti dari pelarangan ini adalah tidak adilnya tindakan yang dilakukan oleh pedagang kota yang tidak menginformasikan harga yang sesungguhnya terjadi di pasar. Mencari barang dengan harga lebih murah tidaklah dilarang, namun apabila transaksi jual beli antara dua pihak di mana yang satu memiliki informasi lengkap dan yang satu tidak tahu berapa harga di pasar sesungguhnya dan kondisi demikian dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang lebih, sehingga terjadilah penzaliman antara pedagang kota dengan petani di luar kota tersebut maka hal inilah yang dilarang.

Keseimbangan Pasar dengan Talaqqi Rukban

Pada gambar di atas, kita dapat melihat bagaimana dampak dari tindakan talaqqi rukban dan pengaruhnya terhadap pembentukan harga. Dengan adanya pencegahan petani dari luar kota untuk melakukan transaksi di dalam kota, maka kurva penawaran Sx akan berbelok vertikal menjadi Str.

Keseimbangan baru akan terbentuk pada saat perpotongan antara Sx dengan Str, sehingga harga di kota akan mengalami peningkatan dari P* menjadi P*tr dan jumlah barang X yang tersedia di pasar adalah Q*tr. Inilah bukti bahwa tindakan talaqqi rukban tidak hanya menzalimi si petani, tetapi telah merusak keseimbangan pasar pada level yang lebih rendah.

Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Jangan kau keluar menyambut orang-orang yang membawa hasil panen ke dalam kota kita.
Hikmah yang bisa diambil dari pelarangan ini adalah pembelian hasil panen yang merupakan komoditi yang pokok dan dibutuhkan semua orang, baik kaya maupun miskin harus dijual secara terbuka di pasar. Hal ini untuk mencegah pembelian tunggal komoditi pokok tersebut kepada satu pihak, sehingga pemerintah lebih mudah untuk mengontrol harga pasar.

Penutup

Demikianlah ulasan kita mengenai rekayasa permintaan dan penawaran. Berdasarkan ulasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa transaksi najasy, ihtikar, dan talaqqi rukban merupakan jenis perdagangan yang diharamkan dalam Islam karena mengandung unsur rekayasa dalam transaksi jual beli. Oleh karena itu, setiap pengusaha muslim mestinya mengetahui hal ini dan mempraktikkannya.