Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Konsumsi dengan Informasi Lengkap

Teori Konsumsi dengan Informasi Lengkap

Bankir dan pengusaha sering kali memiliki cara pandang yang berbeda untuk suatu keadaan bisnis yang sama karena memiliki informasi yang berbeda. Dua bentuk yang paling lazim timbul akibat adanya asymmetric information ini adalah adverse selection dan moral hazard (Karim, 2018: 83).

Adverse Selection

George Akerlof dengan jeli merumuskan proses salah pilih (adverse selection) dalam pembelian mobil bekas yang dalam istilah gaulnya disebut "lemon". Kalau dalam bahasa gaul kita disebut "mobil kacangan". Penjual mobil bekas tahu persis keadaan mobilnya, sedangkan pembeli mobil tidak mengetahui secara persis keadaan mobil tersebut.

Ketika pembeli menawar mobil, maka hanya pemilik mobil bekas yang jelek saja yang mau menurunkan harganya. Pemilik mobil bekas yang bagus kondisi mobilnya enggan menurunkan harga. Akibatnya, mobil-mobil bekas yang jelek saja yang banyak laku. Inilah yang disebut Akerlof sebagai proses salah pilih.

Kita ambil contoh lain, yaitu ada dua orang pengusaha yang mengajukan permohonan kredit ke bank. Yang pertama adalah seorang pengusaha yang baik dan jujur namun tidak pernah mengajukan permohonan kredit sebelumnya, sehingga ia tidak memahami seluk beluk proses kredit di bank.

Yang kedua adalah seorang pengusaha curang dan gemar ngemplang kredit, sehingga ia tahu persis seluk beluk proses kredit di bank, termasuk cara-cara mengatasi masalah kredit macetnya. Karena pengalaman dan keahliannya, pengusaha yang gemar ngemplang kreditlah yang mempunyai kemungkinan lebih besar mendapatkan kredit. Kondisi seperti ini disebut adverse selection, atau bahasa mudahnya salah pilih.

Sistem bagi hasil perbankan syariah yang dimaksudkan untuk mengatasi principal-agent problems (shahibul mal - mudarib) juga tidak lepas dari pilihan yang salah. Pengusaha yang mengetahui bisnisnya memiliki risk adjusted return yang tinggi tentu lebih memilih kredit perbankan konvensional yang memberikan kepastian tingkat suku bunga.

Pengusaha ini akan menghindari sistem bagi hasil perbankan syariah untuk menghindari beban bagi hasil yang lebih besar dibandingkan beban suku bunga kredit. Akibatnya, hanya pengusaha-pengusaha yang memiliki risiko bisnis yang lebih besar atau memiliki return yang lebih kecil saja yang datang ke bank syariah untuk pembiayaan dengan sistem bagi hasil.

Persoalan ini yang kemudian dimitigasi oleh perbankan syariah Indonesia dengan dua konsep bagi hasil. Pertama, two step financing yaitu bank syariah memberikan pembiayaan kepada koperasi/multi finance/bprs dengan sistem bagi hasil. Selanjutnya, pembiayaan tersebut akan disalurkan kepada end users dengan sistem fixed installments. Jadi, bank syariah berbagi hasil dari sesuatu yang dapat diprediksi dengan akurat.

Kedua, short term financing based on job order yaitu bank syariah memberikan fasilitas kelonggaran tarik yang dapat dicairkan bila ada surat perintah kerja dari pemberi kerja. Atas dasar SPK itulah bank syariah memperhitungkan risiko, jangka waktu, dan perkiraan retunnya.

Jadi, bank syariah pada dasarnya hanya mau melakukan pembiayaan bagi hasil bila bisnis yang dibiayainya dapat diprediksi dengan akurat. Sebenarnya, apa yang dilakukan bank syariah ini merupakan implementasi dari teori signaling yang diajukan oleh Michael Spence dan teori screening yang diajukan oleh Joseph Stiglitz.

Signaling adalah upaya untuk memberikan sinyal/tanda kepada pasar tentang kualitas barang yang ditawarkan. Spence membahas bahwa tingkat pendidikan seseorang dapat menjadi tanda pembeda kualitasnya di antara sekian banyak pencari kerja.

Dalam kasus pasar mobil kacangannya Akerlof, riwayat pemeliharaan di bengkel dan riwayat klaim asuransi dapat menjadi tanda pembeda. Di Indonesia, misalnya, sering dicantumkan "milik dokter" atau "milik wanita" sebagai tanda pembeda "mobil jarang dipakai" atau "mobil digunakan secara hati-hati".

Screening adalah memilah-milah barang sesuai dengan kualitasnya sehingga barang yang baik dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada barang yang jelek. Dalam bahasa Stiglitz:
The identification of these qualities we call screening, and devices that sort out commodities (individuals) according to their qualities call screening devices (for example, egg sorters)
Dengan telah terpilah-pilahnya barang sesuai kualitasnya, kemudian mendapatkan harga sesuai kualitasnya, maka calon pembeli memberikan insentif bagi penjual untuk membuka informasi yang tadinya tidak diketahui pembeli.

Moral Hazard

Bentuk kedua asymmetric information yang lazim ditemui adalah moral hazard. Bila adverse selection timbul akibat adanya informasi yang tersembunyi (hidden information), maka moral hazard timbul akibat adanya perbuatan yang tersembunyi (hidden actions).

Katakan saja seorang pengusaha yang baik dan jujur mendapat kucuran kredit dari bank. Selama bertahun-tahun nasabah menjaga reputasinya sebagai nasabah yang baik. Dengan begitu percayanya banker terhadap nasabah ini, membuat banker terlena dalam melakukan monitoring yang seharusnya tetap dilakukan.

Bank merasa nyaman dengan ketepatan pembayaran angsuran kreditnya. Memahami beberapa tindakannya tidak dimonitor dengan seharusnya oleh bank, nasabah ini mulai menggunakan kredit yang diterima untuk kegiatan lain yang tidak sesuai dengan permohonan kreditnya.

Dengan semakin lemahnya monitoring bank, pengusaha ini menggunakan kredit yang diterimanya untuk kegiatan bisnis baru yang risikonya lebih besar. Sub-prime crisis merupakan salah satu contoh teranyar moral hazard. Nama-nama besar seperti Ginnie Mae, Fannie Mae, dan Freddie Mac telah membuat banyak investor terlena untuk menilai secara wajar risiko investasi mereka.

Dalam keuangan syariah, keharusan adanya transaksi riil sebagai dasar (underlying) suatu transaksi keuangan dimaksudkan untuk meminimalkan moral hazard. Keharusan adanya underlying transaction ini memaksa bank untuk memastikan penggunaan kredit sesuai dengan proposal yang diajukan pengusaha. Dengan demikian, penyimpangan penggunaan kredit (side streaming atau misused) dapat diminimalkan.

Penutup

Demikianlah ulasan kita mengenai teori konsumsi dengan informasi lengkap. Berdasarkan pada ulasan di atas, kita dapat mengetahui bagaimana cara mengatasi principal-agent problems dan bagaimana peranan underlying transaction terhadap penggunaan kredit. Semoga informasi ini bermanfaat buat kita semua.